Batam Bersiap Tantang Singapura Lewat Ammonia Hub

Batam dinilai memiliki peluang mengambil peran lebih besar dalam industri energi maritim masa depan melalui rencana pembangunan Ammonia Hub.

oleh AJANG NURDINDiterbitkan 03 November 2026, 08:34 WIB
Direktur PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi (kanan) bersama Deputy Bidang Investasi BP Batam, Faru Djemy Francis (Kiri) di Kantor BP, Senin (2/11/2023).

Liputan6.com, Jakarta - Dominasi Singapura sebagai pusat pengisian bahan bakar kapal (bunkering) dunia mulai dilirik Indonesia untuk ditantang. Batam dinilai memiliki peluang mengambil peran lebih besar dalam industri energi maritim masa depan melalui rencana pembangunan Ammonia Hub yang diinisiasi PT Pupuk Indonesia (Persero).

Rencana investasi ini tidak sekadar membangun fasilitas industri petrokimia. Pupuk Indonesia ingin menjadikan Batam sebagai pusat produksi, penyimpanan, distribusi hingga perdagangan amonia dengan memanfaatkan potensi gas alam dari Natuna dan Grissik.

Peluang tersebut semakin terbuka seiring berakhirnya kontrak ekspor gas Indonesia ke Singapura pada 2028 mendatang. Pasokan gas yang selama ini mengalir ke luar negeri berpotensi dioptimalkan untuk mengembangkan industri hilir di dalam negeri.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan Indonesia perlu belajar dari Singapura yang berhasil membangun kekuatan ekonomi melalui industri pengolahan minyak dan layanan maritim selama lebih dari lima dekade.

Menurutnya, Singapura mampu berkembang menjadi salah satu pusat bunkering terbesar dunia karena memiliki ekosistem industri dan layanan energi yang terintegrasi bagi kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran internasional.

"Singapura selama 50 tahun lebih menjadi pom bensin dunia. Mereka membangun ekosistem maritim, industri pengolahan minyak dan layanan bunkering. Kita melihat ada peluang untuk mengembangkan hal serupa di Indonesia," kata Rahmad saat melakukan pertemuan dengan BP Batam, Senin Sore(2/11/2026).

Rahmad menilai perubahan arah industri pelayaran internasional menuju penggunaan bahan bakar rendah karbon membuka peluang baru bagi Indonesia. Salah satu alternatif yang mulai diperhitungkan adalah amonia yang berpotensi digunakan sebagai bahan bakar kapal masa depan.

Perkembangan tersebut sejalan dengan dorongan International Maritime Organization (IMO) melalui kerangka Net-Zero Framework untuk menekan emisi sektor pelayaran global.

Menurut Rahmad, Indonesia memiliki modal sumber daya alam dan kapasitas industri untuk masuk ke pasar tersebut. Pupuk Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi amonia sekitar 7,1 juta ton per tahun.

Dengan memanfaatkan potensi gas dari Natuna dan Grissik, Batam diharapkan dapat berkembang menjadi pusat industri amonia yang tidak hanya melayani kebutuhan domestik, tetapi juga pasar internasional.

"Pak Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa sumber daya alam harus digunakan untuk mengembangkan perekonomian nasional. Menteri ESDM juga menyampaikan bahwa gas alam dan sumber daya lainnya harus diutamakan untuk kebutuhan dalam negeri," ujarnya.

Rahmad menegaskan, pembangunan Ammonia Hub bukan berarti Indonesia menutup diri dari kerja sama internasional. Sebaliknya, Pupuk Indonesia membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, selama proses pengolahan dan nilai tambah ekonominya dapat dinikmati di dalam negeri.

"Ini bukan resource nationalism, tetapi resource industrialization. Artinya, bagaimana kita melakukan hilirisasi. Kita terbuka bekerja sama dengan siapa saja, tetapi nilai tambahnya harus ada di dalam negeri," tegasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, menyatakan dukungan terhadap penjajakan investasi tersebut. BP Batam mulai menyiapkan sejumlah aspek pendukung, terutama berkaitan dengan kebutuhan lahan dan kemudahan perizinan. Menurut Fary, kesiapan infrastruktur dan ketersediaan lahan menjadi bagian penting untuk memastikan rencana investasi tersebut dapat direalisasikan.

BP Batam juga membuka peluang percepatan proses perizinan apabila kesepakatan investasi telah tercapai.

"Kami akan memberikan percepatan dalam proses selanjutnya, termasuk perizinan apabila sudah ada kesepakatan. Kami juga akan melihat ruang pengalokasian lahan. Kalau sudah masuk tahap ready to invest, BP Batam akan membentuk tim bersama Pupuk Indonesia," kata Fary.

Rencana tersebut berpotensi menempatkan Batam pada posisi strategis dalam rantai pasok energi maritim kawasan Asia Pasifik. Sejumlah negara seperti Australia, Singapura, dan Korea Selatan juga mulai menyiapkan teknologi serta infrastruktur untuk mendukung pemanfaatan amonia sebagai bahan bakar kapal.

Namun, peluang tersebut membutuhkan kesiapan yang tidak sedikit. Selain kepastian pasokan gas, pembangunan Ammonia Hub juga memerlukan fasilitas penyimpanan, distribusi, teknologi keselamatan, serta kepastian pasar.

Jika rencana ini terealisasi, Batam berpeluang tidak hanya menjadi kawasan industri dan perdagangan, tetapi juga berkembang sebagai simpul baru industri energi maritim yang mampu bersaing di pasar internasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya