Liputan6.com, Jakarta - Midterm elections atau pemilu sela di Amerika Serikat (AS) akan digelar pada 3 November 2026 waktu setempat. Pesta demokrasi AS yang berlangsung setiap dua tahun sejak 1788 kali ini terasa berbeda.
Berlangsung di tengah jeda perang AS melawan Iran, perang tarif Presiden Donald Trump dengan lebih dari 90 negara di berbagai belahan dunia, serta perang budaya Partai Republik melawan "woke culture" dan kebijakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI), midterm elections 2026 menjadi pertaruhan besar bagi kedua partai.
Advertisement
Partai Demokrat sangat optimistis dapat merebut mayoritas kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat, dengan meraih keunggulan tidak hanya di distrik dan negara bagian yang secara tradisional pro-Demokrat, tetapi juga di wilayah yang selama beberapa dekade menjadi basis Partai Republik.
Sementara itu, Partai Republik mengerahkan berbagai sumber daya untuk mempertahankan dominasinya, termasuk dukungan dana eksternal yang jauh lebih besar. Partai Republik juga berharap prediksi datangnya "blue wave", bahkan "blue tsunami", yang akan menyapu kursi-kursi Kongres dan gubernur mereka hanyalah prediksi kosong yang pada era Trump memang beberapa kali meleset.
Namun, berbagai indikator politik, hasil jajak pendapat, dan model peramalan pemilu menunjukkan bahwa peluang kemenangan Demokrat semakin besar. Bahkan terdapat indikasi bahwa kelompok pemilih yang membantu Trump memenangkan Pilpres 2024 kini mulai meninggalkan Partai Republik.
Fundamental Politik Trump Berada di Zona Merah
Persoalan terbesar Partai Republik justru berasal dari Gedung Putih. Menurut Silver Bulletin, tingkat persetujuan publik terhadap kinerja Trump mencapai salah satu titik terendah dalam masa kepresidenannya, dengan net approval Trump sebesar -23 poin.
Net approval Trump untuk penanganan inflasi mendominasi sentimen negatif terhadap Trump, dengan angka mencapai -44,2 poin, yang dipicu oleh kenaikan harga BBM dan melonjaknya biaya hidup di AS.
Tidak heran jika survei preferensi partai untuk DPR atau generic congressional ballot menunjukkan Demokrat unggul sekitar 9 poin. Keunggulan didorong oleh meningkatnya dukungan terhadap Demokrat di berbagai segmen pemilih dibandingkan dengan Pilpres 2024, yakni +25 poin di kalangan pemilih muda, +17 hingga +18 poin di kalangan pemilih Hispanik, +13 poin di kalangan pemilih Asia, dan +10 poin di kalangan pemilih kulit putih.
Jika keunggulan dalam preferensi partai ini terwujud dalam perolehan suara nasional, Demokrat berpeluang meraih mayoritas di DPR dengan jumlah kursi jauh di atas ambang 218 kursi. Sementara itu, peluang menguasai Senat akan sangat bergantung pada hasil persaingan di sejumlah negara bagian yang kompetitif.
Low Propensity Voters dan Low Engagement Voters Trump pada 2024 Mulai Berbalik Arah
Perubahan paling menarik terjadi pada kelompok low-propensity voters dan low-engagement voters, yaitu pemilih yang jarang berpartisipasi dalam pemilu atau memiliki tingkat keterlibatan politik yang relatif rendah.
Pada Pilpres 2024, kelompok ini menjadi salah satu sumber kekuatan bagi Donald Trump. Menurut G. Elliott Morris dalam Strength in Numbers, seperempat pemilih dengan keterlibatan politik terendah memberikan keunggulan 13 poin kepada Trump dibandingkan Kamala Harris.
Namun, menjelang pemilu sela 2026, kecenderungan tersebut berbalik. Di antara low-engagement voters yang diperkirakan akan memberikan suara, Demokrat kini unggul 2 poin, mencerminkan pergeseran relatif sebesar 15 poin dibandingkan 2024.
Perubahan yang lebih dramatis terlihat pada kelompok yang tidak memilih dalam Pilpres 2024. Kelompok ini sebelumnya cenderung mendukung Trump dengan selisih 4 poin. Kini, setelah memperhitungkan kemungkinan partisipasi mereka pada 2026, Demokrat diperkirakan unggul 32 poin, atau pergeseran relatif sebesar 36 poin.
Proyeksi DPR: Demokrat Hampir Pasti Menang
Berbagai model utama menunjukkan kecenderungan yang sama bahwa Demokrat sangat diunggulkan untuk memenangkan DPR.
Silver Bulletin memberikan peluang sekitar 95% bagi Demokrat untuk mengambil alih DPR, dengan rata-rata tambahan 25 kursi. Race to the White House bahkan memberikan probabilitas kemenangan 94,6%, dengan proyeksi 236 kursi Demokrat berbanding 199 kursi Republik.
Decision Desk HQ lebih berhati-hati dengan peluang 83%, tetapi memproyeksikan Demokrat memperoleh 241 kursi berbanding 194 kursi Republik.
Dengan ambang mayoritas 218 kursi, seluruh proyeksi tersebut menunjukkan bahwa Demokrat berpeluang menguasai DPR dengan selisih yang cukup signifikan. Bahkan dalam skenario yang relatif konservatif, Demokrat masih diproyeksikan memenangkan sekitar 18 kursi lebih banyak daripada jumlah minimum yang diperlukan untuk meraih mayoritas.
Pertarungan Senat: Demokrat Semakin Diunggulkan
Silver Bulletin, melalui model FLIPR, memberikan peluang 77,9% bagi Demokrat untuk memenangkan mayoritas di Senat, dengan proyeksi rata-rata 53 kursi Demokrat dan 47 kursi Republik. Race to the White House memberikan probabilitas hampir identik, yakni 77,5%, dengan proyeksi 53–47.
Decision Desk HQ lebih konservatif, dengan memberikan peluang kemenangan Demokrat sebesar 63%, dengan komposisi 52 kursi Demokrat dan 48 kursi Republik.
Menurut Silver Bulletin, peluang kemenangan kandidat Demokrat mencapai 96,4% di North Carolina, 98,1% di Georgia, 93,7% di Minnesota, dan 82,8% di Michigan.
Sementara itu, anjloknya popularitas Trump membuat peluang Demokrat memenangkan Ohio mencapai 73,8%, Maine 71,1%, Kansas 61,1%, Iowa 58,6%, dan Alaska 56,2%.
Race to the White House bahkan lebih optimistis terhadap Alaska dengan peluang 62,6%, serta Iowa dengan peluang 61,4%. Namun, Kansas tetap sangat kompetitif dengan peluang 51,8% untuk Demokrat.
Demokrat Juga Berpeluang Mendominasi Kursi Gubernur
"Blue Wave" juga berpeluang menjangkau pemerintahan di tingkat negara bagian. Kemenangan gubernur dan senator di wilayah konservatif dapat menjadi fondasi bagi perluasan peta politik di masa depan.
Model FLIPR memproyeksikan Demokrat menguasai rata-rata 28 dari 50 jabatan gubernur, berbanding 22 bagi Republik.
Peluang kemenangan kandidat gubernur Demokrat menurut FLIPR mencapai 96,5% di Alaska, 92,5% di Iowa, 95,2% di Michigan, 81,1% di Wisconsin, 78,9% di Ohio, dan 63% di Georgia.
Berbagai Skenario pada Pagi Setelah Pemilu
Kesalahan survei kerap terjadi dalam pemilu AS, meskipun kesalahan survei tidak selalu menguntungkan partai tertentu. Pada Pilpres 2016, 2020, dan 2024, survei underestimate dukungan terhadap Trump dan Partai Republik sebesar 3,8 poin.
Namun, survei midterms 2018 dan 2022 relatif akurat, sedangkan pemilu khusus cenderung underestimate dukungan terhadap Demokrat sebesar 1,3 poin. Perbedaan ini berkaitan dengan partisipasi pemilih dan bias respons dalam survei. Model FLIPR mengantisipasi empat jenis kesalahan: nasional, regional-demografis, tingkat negara bagian, dan individual.
Oleh karena itu, Silver Bulletin menyajikan gambaran mengenai berbagai kemungkinan hasil pemilu yang dipilih dari 40.000 simulasi FLIPR.
Pada skenario yang lebih optimistis, Demokrat dapat memenangkan 56 kursi di Senat, termasuk di South Carolina. Bahkan, terdapat simulasi ekstrem ketika Demokrat meraih 60 kursi di Senat dan memperoleh tambahan 65 kursi di DPR, meskipun skenario tersebut sangat kecil kemungkinannya.
Sebaliknya, FLIPR juga menghasilkan skenario di mana Republik mempertahankan mayoritas di DPR dan Senat, meskipun peluangnya sangat kecil.
Prediksi Akhir: "Blue Wave", Masa Sulit Trump dan Demokrat Kembali Berjaya di “Red States”
Dengan mempertimbangkan fundamental politik, hasil survei, perubahan perilaku pemilih, kualitas kandidat, serta berbagai model peramalan pemilu, Partai Demokrat diperkirakan memenangkan mayoritas di DPR dengan sekitar 238–242 kursi, sepanjang tidak terjadi kesalahan survei yang signifikan.
Di Senat, skenario yang paling mungkin adalah Demokrat memenangkan mayoritas dengan 52–53 kursi. Untuk gubernur, Demokrat juga berpeluang menguasai mayoritas dengan sekitar 27–28 dari 50 negara bagian.
Perubahan dukungan di kalangan low-propensity voters dan low-engagement voters merupakan faktor yang dapat memperbesar kemenangan Demokrat.
Namun, jika terjadi kesalahan survei sebesar dua hingga tiga poin yang menguntungkan Republik, proyeksi kemenangan Demokrat di sejumlah negara bagian akan meleset.
Jika Demokrat merebut mayoritas di DPR dan Senat, Trump akan menghadapi masa sulit pada dua tahun terakhir masa kepresidenannya, dengan pengawasan legislatif yang jauh lebih agresif, potensi kebuntuan anggaran, serta berbagai penyelidikan terhadap kebijakan pemerintahannya. Trump juga akan menghadapi hambatan dalam memperoleh persetujuan Senat untuk pengangkatan pejabat tinggi dan hakim federal pilihannya.
Bagi Partai Demokrat, yang lebih penting bukan sekadar menguasai Kongres mulai Januari 2027 atau membangun fondasi untuk Pilpres 2028, melainkan terciptanya peluang bagi senator Partai Demokrat untuk kembali berjaya di red states, setelah delapan senatornya tergusur pada era Trump. Tujuh di antaranya kalah dalam pemilu, yakni: Heidi Heitkamp di North Dakota (2018), Claire McCaskill di Missouri (2018), Joe Donnelly di Indiana (2018), Bill Nelson di Florida (2018), Doug Jones di Alabama (2020), Jon Tester di Montana (2024), dan Sherrod Brown di Ohio (2024). Senator lainnya, Joe Manchin dari West Virginia, memilih untuk tidak mencalonkan diri lagi pada tahun 2024.
Menurut Jon Tester, seperti dikutip The New York Times, di tengah penolakan terhadap Trump akibat melonjaknya biaya bahan bakar dan kesulitan ekonomi warga, kemenangan Senat Partai Demokrat di basis Partai Republik seperti North Carolina, Ohio, Alaska, Iowa, dan Kansas sangat masuk akal.
Tester memperingatkan bahwa ini adalah peluang yang sulit untuk terulang: "If you (Democrats) can’t win under these conditions, you ain’t gonna win for a long time."