AS Jajaki Buka Kembali Jalur Pipa Gas Rusia Lewat Ukraina

AS usulkan pembukaan kembali saluran gas pipa Rusia via Ukraina ke Eropa sebagai bagian insentif gencatan senjata. Uni Eropa beri respons dingin.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 02 November 2026, 19:51 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Ruang Oval, Gedung Putih. (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah menjajaki rencana untuk mengalirkan kembali pasokan gas alam dari Rusia ke pasar Eropa melalui jaringan pipa yang melintasi wilayah Ukraina. Langkah diplomatik ini digadang-gadang sebagai bagian dari strategi pendorong untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.

Laporan The Wall Street Journal (WSJ) membeberkan bahwa sejumlah pejabat AS, Eropa, dan Ukraina menyebut Washington berharap pemulihan akses energi Rusia ke Eropa dapat menjadi insentif ekonomi bagi Presiden Vladimir Putin untuk menghentikan konflik.

Utusan AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff, dikabarkan telah membahas proposal tersebut saat melakukan kunjungan ke Moskow dan Kyiv pada September lalu.

Dalam skema komersial yang dirancang, perantara asal AS akan menangani mekanisme penjualan gas Rusia ke Eropa. Peluang investasi ini juga terbuka bagi pelaku industri energi Negeri Paman Sam. Sementara bagi Ukraina, pembukaan kembali jalur transit akan memberi pemasukan signifikan dari biaya retribusi (transit fee).

Adapun sarana transportasi yang diincar merupakan jalur pipa peninggalan era Uni Soviet yang menghubungkan ladang gas Urengoy di Siberia ke pasar Eropa melalui daratan Ukraina.

Guna mencegah penyalahgunaan dana, Pemerintahan Trump turut menyiapkan opsi penempatan pendapatan hasil penjualan gas di akun penampungan (escrow account) negara ketiga. Dengan mekanisme ini, dana tidak dapat diakses secara bebas oleh pemerintah Rusia untuk membiayai operasi militer.

 

Uni Eropa Bertahan pada Sikap Menolak

Pemerintah AS telah menyampaikan draf proposal ini kepada sejumlah negara Eropa guna menekan tingginya harga energi menjelang musim dingin.

Namun, rencana tersebut berbenturan dengan kebijakan internal Uni Eropa (UE) yang tengah berupaya memutus total ketergantungan energi dari Moskow. Regulasi UE mengamanatkan seluruh negara anggota untuk menghentikan impor gas alam dari Rusia paling lambat akhir 2027.

Komisaris Energi UE, Dan Jorgensen, menegaskan bahwa transaksi gas dengan Rusia tidak seharusnya dibuka kembali meski kesepakatan damai tercapai.

"Saya tentu tidak akan memercayai Rusia, bahkan jika perdamaian tercapai besok, seperti yang kita semua harapkan," tegas Jorgensen dalam wawancaranya, dikutip dari The Times of India, Senin (2/11/2026). 

Sejumlah pejabat kawasan Eropa juga menepis proposal AS tersebut. Mereka menilai kembali membeli gas Rusia sangat bertentangan dengan prinsip keamanan nasional serta strategi independensi energi yang telah dibangun.

Sebagai gambaran, sebelum invasi Rusia ke Ukraina meletus, pasokan gas Rusia menyumbang hingga 45% dari total konsumsi Eropa. Saat ini, pangsa pasar tersebut menyusut drastis hingga menyisakan sekitar 11%. Sebaliknya, gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) asal AS melonjak dan kini menguasai sekitar 30% konsumsi gas di Benua Biru.

 

Jalur Ukraina Lebih Cepat Dibanding Nord Stream

Di samping koridor Ukraina, AS sempat melirik opsi pengaktifan kembali jaringan pipa Nord Stream yang menghubungkan Rusia langsung ke Jerman.

Namun, opsi tersebut dinilai terlampau rumit. Pipa Nord Stream 1 telah berhenti beroperasi sejak Agustus 2022, sedangkan Nord Stream 2 belum pernah beroperasi secara komersial. Ditambah lagi, kedua insfrastruktur bawah laut tersebut mengalami kerusakan fisik berat akibat ledakan misterius pada September 2022.

Oleh karena itu, jaringan pipa yang melintasi Ukraina dipandang sebagai alternatif yang lebih realistis dan cepat untuk diaktifkan kembali. Jalur ini terhubung ke Slovakia sebelum meneruskan pasokan ke Austria dan Jerman.

Pertimbangan mendesak lainnya adalah tingginya risiko krisis energi di Eropa jelang puncak musim dingin. Esktensifikasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran sempat mengganggu distribusi pengiriman LNG dari Qatar, sehingga memperketat pasokan energi global.

UE mencatat, eskalasi konflik energi global telah membengkakkan biaya energi Eropa hingga € 100 miliar atau setara Rp 2.028 triliun (dengan asumsi kurs Rp 20.354 per euro). Di saat bersamaan, tingkat keterisian fasilitas penyimpanan gas bawah tanah di Eropa baru menyentuh angka 75%, lebih rendah dari rata-rata historis sembilan tahun terakhir.

Di sisi lain, dukungan Kyiv terhadap proposal pembukaan transit gas berpotensi memperlancar negosiasi dengan negara-negara Eropa, terutama jika kesepakatan tersebut mencakup perlindungan ketat terhadap infrastruktur energi vital Ukraina.

Meskipun demikian, pihak Moskow dilaporkan masih enggan menerima tawaran Washington terkait gencatan senjata sektor energi ini. Diskusi krusial tersebut dijadwalkan bakal berlanjut dalam agenda pertemuan trilateral antara AS, Rusia, dan Ukraina di Abu Dhabi pada pertengahan November 2026.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya