Seorang pengunjung memilih produk pembalut perempuan di rak sebuah gerai retail modern. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap produk kebutuhan menstruasi tersebut menuai sorotan sejumlah organisasi publik yang mendesak pemerintah menghapus pajak pembalut. (KLY/Budy Santoso)
Beragam merek pembalut perempuan tersusun di rak salah satu supermarket. Rencana penghapusan PPN pembalut disuarakan sejumlah organisasi publik karena pajak tersebut dinilai menambah beban pengeluaran rutin perempuan. (KLY/Budy Santoso)
Seorang pengunjung memilih produk pembalut perempuan di rak sebuah gerai retail modern. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap produk kebutuhan menstruasi tersebut menuai sorotan sejumlah organisasi publik yang mendesak pemerintah menghapus pajak pembalut. (KLY/Budy Santoso)
Beragam merek pembalut perempuan tersusun di rak salah satu supermarket. Rencana penghapusan PPN pembalut disuarakan sejumlah organisasi publik karena pajak tersebut dinilai menambah beban pengeluaran rutin perempuan. (KLY/Budy Santoso)
Seorang pengunjung memilih produk pembalut perempuan di rak sebuah gerai retail modern. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap produk kebutuhan menstruasi tersebut menuai sorotan sejumlah organisasi publik yang mendesak pemerintah menghapus pajak pembalut. (KLY/Budy Santoso)