Kementerian UMKM Ingatkan IPO Pilihan Strategis, Bukan Jalan Pintas

Kementerian UMKM menyebutkan Go Public Academy for SMEs dalam jangka panjang mendukung terbentuknya 10.000 perusahaan untuk IPO.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 02 November 2026, 18:15 WIB
Sekretaris Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Loto Srinaita Ginting menyampaikan keynote speech dalam Seremoni Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BEI dengan Kementerian UMKM, Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BEI dengan Surveyor Indonesia, dan Peluncuran Go Public Academy for SME di Main Hall BEI, Senin (2/11/2026).

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian UMKM menargetkan terbentuknya 10.000 perusahaan yang siap melakukan initial public offering (IPO) pada 2045 lewat Go Public Academy for SME. Angka itu disebut sebagai aspirasi, bukan target yang dikejar dengan mengorbankan kualitas.

Sekretaris Kementerian UMKM Loto Srinaita Ginting menyampaikan hal itu dalam keynote speech peluncuran program di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2026).

"Dalam rancangan jangka panjangnya, Go Public Academy for SMEs membawa aspirasi mendukung terbentuknya 10.000 perusahaan yang siap IPO pada tahun 2045,” ujar Loto.

Namun, menurut dia, angka itu bukan inti pesannya. "Bagi saya, pesan terpenting dari arah tersebut bukan sekadar angka, melainkan kualitas basis perusahaan yang fundamental,” katanya.

"Kita ingin membangun lebih banyak calon perusahaan nasional yang mampu memenuhi standar transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang semakin tinggi,” ujarnya.

Hal itu berlaku terlepas dari apakah perusahaan akhirnya memilih melantai di bursa. Pembinaan ini, kata dia, tidak boleh terpusat di ibu kota karena potensi pengusaha ada di seluruh wilayah Indonesia. Karena itu, perguruan tinggi didorong menjadi regional hub, penghubung antara pengetahuan, pendampingan profesional, kebutuhan dunia usaha, dan akses ke jejaring pasar modal. Pemerintah, asosiasi, mentor, dan praktisi disebut punya peran masing-masing.

"Saya menyambut baik pendekatan yang menempatkan perguruan tinggi sebagai simpul atau regional hub dalam ekosistem Go Public Academy for SMEs," ungkapnya.

 

 

IPO Bukan Jalan Pintas, tapi Pilihan Strategis

Fajar Wibhiyadi (Direktur Utama PT. Surveyor Indonesia Persero), Saidu Solihin (Direktur Penilaian Perusahaan PT. Bursa Efek Indonesia/BEI), Jeffrey Hendrik (Direktur Utama BEI), Bagus Rachman (Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah/UMKM RI), dan Sekretaris Kementerian UMKM Loto Srinaita Ginting beserta jajaran dalam Seremoni Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BEI dengan Kementerian UMKM, Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BEI dengan Surveyor Indonesia, dan Peluncuran Go Public Academy for SME di Main Hall BEI, Senin (2/11/2026).

Loto mengingatkan, IPO bukanlah suatu kewajiban, melainkan pilihan strategis. "IPO adalah sebuah pilihan strategis, bukan kewajiban, atau jalan pintas. Kelulusan dari program tentu bukan persetujuan untuk melakukan IPO.

"Kita harapkan yang akan IPO benar-benar kesadaran dari perusahaan itu sendiri, bukan karena hanya dorongan dari semua pihak," ia menambahkan.

Keberhasilan program, kata Loto, tidak diukur dari banyaknya acara, sertifikat, atau peserta. Yang dilihat adalah kemajuan nyata dalam tata kelola, kualitas laporan keuangan, profesionalisme manajemen, dan perencanaan ekspansi.

Pembinaan dilakukan dalam tujuh tahapan, mulai dari pemahaman pilihan pendanaan, penguatan tata kelola, dan kesiapan keuangan, hingga persiapan IPO dan pengembangan kapasitas perusahaan. Kampus dilibatkan sebagai bagian dari penyusunan riset dan kurikulum pendampingan.

Loto juga mengungkit rasio pembiayaan UMKM yang ditargetkan mencapai 25%. Rasio itu pernah menyentuh 20,9%, tetapi kini turun karena tambahan kredit untuk usaha besar dinilai lebih besar daripada untuk UMKM.

"Ini tantangan kita bersama, bagaimana melalui sumber-sumber pembiayaan UMKM, termasuk pasar modal, bisa membantu pemenuhan rasio pendanaan bagi UMKM untuk mencapai angka 25%," ujarnya.

Ia menegaskan akses modal tidak bisa dilepaskan dari kualitas perusahaan. "Akses pada modal dan kualitas perusahaan adalah dua sisi dari mata uang yang sama," kata Loto. Investor, menurutnya, menilai transparansi laporan keuangan, legalitas, manajemen, dan pengelolaan risiko.

Kepada pelaku usaha menengah, Loto berpesan agar tak sekadar mencari tambahan modal. "Modal dapat membuka kesempatan, tetapi kepercayaan dan tata kelola yang baiklah yang menjaga pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya