Kecelakaan Pesawat Dekat Kediaman Trump Tewaskan 9 Orang

Kecelakaan pesawat ini termasuk yang paling mematikan di AS sepanjang tahun 2026.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 02 November 2026, 10:20 WIB
Petugas keamanan berada di lokasi kecelakaan pesawat di Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat, pada Minggu (1/11/2026). (Dok. AP Photo/Mark Elias)

Liputan6.com, Washington, DC - Sembilan orang tewas setelah sebuah pesawat jet Learjet tujuan Bahama jatuh dan terbakar di Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat (AS), pada Minggu (1/11/2026) sore waktu setempat.

Berdasarkan catatan Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB), insiden ini menjadi kecelakaan penerbangan paling mematikan kedua di negara tersebut sepanjang tahun ini. Sebelumnya, 12 orang tewas dalam kecelakaan pesawat pengangkut penerjun payung di Butler, Missouri, pada Juni.

Hingga kini, pihak berwenang belum mengungkap identitas sembilan korban maupun jumlah penumpang dan awak yang berada di dalam pesawat.

"Pesawat itu terlihat seperti rudal yang meluncur jatuh," kata Gubernur Florida Ron DeSantis saat menggambarkan kecelakaan tersebut seperti dilaporkan CNN.

Tidak ada laporan korban jiwa di darat. Namun, DeSantis mengatakan benturan pesawat menyebabkan puing-puing berserakan di area yang luas.

Kecelakaan tersebut berdampak pada sekitar 600 warga yang membutuhkan tempat penampungan sementara. Menurut seorang pejabat setempat, lokasi jatuhnya pesawat menghalangi akses masuk ke kawasan permukiman rumah mobil (mobile home park), sehingga para penghuninya tidak dapat tinggal di sana untuk sementara waktu.

Menteri Transportasi AS Sean Duffy, yang mengonfirmasi jumlah korban tewas, menyebut kecelakaan itu sebagai "tragedi yang mengerikan".

Menurut data Flight Safety Foundation, kecelakaan pada Minggu tersebut merupakan yang paling mematikan dalam sejarah pengoperasian pesawat Learjet 60. Sebelumnya, pada 2008, empat orang tewas ketika sebuah Learjet 60 tujuan Los Angeles jatuh saat lepas landas dari Columbia, South Carolina.

Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) menyatakan pesawat yang mengalami kecelakaan merupakan Learjet 60 yang sedang dalam penerbangan dari Bandara Internasional Austin-Bergstrom menuju Bahama.

Berdasarkan catatan FAA, pesawat tersebut terdaftar atas nama sebuah perusahaan berbentuk LLC atau perseroan terbatas di Delaware. Pesawat itu juga tercantum sebagai armada yang tersedia untuk disewa melalui layanan penyewaan pesawat secara daring.

FAA menyatakan pihaknya bersama NTSB akan menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut.

Tim penyelidik NTSB dijadwalkan tiba di lokasi pada Minggu dan Senin. Konferensi pers terkait kecelakaan direncanakan berlangsung pada Senin.

 

Pilot Sempat Melaporkan Penumpukan Es dan Turbulensi

Kantor Sheriff Palm Beach County menyatakan pesawat jatuh di dekat Military Trail, tepatnya di antara Cresthaven Boulevard dan 10th Avenue North.

Beberapa menit sebelum kecelakaan, pilot sempat melaporkan adanya penumpukan es pada pesawat. Saat itu, suhu udara di luar pesawat mencapai minus 47 derajat Celsius.

Pilot juga melaporkan turbulensi sedang yang membuat pesawat terguncang hingga mengalami perubahan ketinggian mencapai 700 kaki atau sekitar 213 meter.

Kondisi tersebut terungkap melalui rekaman komunikasi radio antara pilot dan petugas pengatur lalu lintas udara yang diperoleh situs LiveATC.net.

"Kami mengalami pembentukan lapisan es bening tipis yang masih bisa ditangani, serta turbulensi sedang," lapor pilot kepada Pusat Pengendalian Lalu Lintas Udara Miami.

Namun, situasi memburuk beberapa saat kemudian. Setelah melaporkan mulai terjadinya presipitasi atau turunnya air dari atmosfer dan meminta izin untuk terbang lebih tinggi, pilot justru menyatakan keadaan darurat.

"Kami turun 8.000 ... Mayday, mayday. Kami turun dengan laju 10.000 kaki per menit," kata pilot melalui radio.

"Kecepatan pesawat sudah melampaui batas. Kami turun dengan laju 20.000 kaki per menit ... Kami akan menghantam daratan."

Data pelacakan penerbangan dari situs ADS-B Exchange menunjukkan pesawat kehilangan ketinggian sekitar 27.000 kaki atau lebih dari 8.200 meter hanya dalam satu menit, sesaat sebelum data pelacakannya terputus.

Rekaman video dari WPBF, stasiun televisi afiliasi CNN, memperlihatkan permukaan jalan rusak dan membentuk kawah di titik pesawat menghantam daratan.

Komisioner Palm Beach County untuk Distrik 3, Joel Flores, yang menjadi pejabat daerah pertama tiba di lokasi, mengatakan sekitar 600 warga harus mengungsi sementara akibat dampak kecelakaan tersebut.

Menurut Flores, warga diarahkan menuju dua tempat penampungan di Palm Beach County selama penyelidikan di lokasi kejadian berlangsung.

Seorang warga bernama Andrew Mannino mengaku mendengar sekaligus merasakan getaran keras ketika pesawat jatuh.

"Saya mendengar dan merasakan ledakan itu. Listrik langsung padam dan sampai sekarang masih belum menyala kembali," kata Mannino kepada CNN.

Ia mengaku mencium bau asap dan melihat kepulan asap hitam pekat membubung ke udara.

Lokasi kecelakaan berada sekitar 6,4 kilometer di sebelah selatan bandara di West Palm Beach, yang namanya diubah untuk menghormati Presiden Donald Trump pada awal tahun ini. Kawasan tempat pesawat jatuh juga berjarak kurang dari 11 kilometer dari Mar-a-Lago, kediaman Trump di Florida.

Trump diketahui berada di West Palm Beach pada Minggu pagi. Namun, ia telah meninggalkan bandara menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One sedikit lebih dari satu jam sebelum kecelakaan terjadi.

Cuaca Buruk dan Hilangnya Kendali Pesawat Jadi Perhatian

Petugas kepolisian menangani kecelakaan pesawat di Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat, pada Minggu (1/11/2026). (Dok. AP Photo/Mark Elias)

Analis penerbangan CNN sekaligus mantan inspektur jenderal Departemen Transportasi AS, Mary Schiavo, mengatakan rekaman kamera dasbor kendaraan yang memperlihatkan kecelakaan tersebut akan menjadi bukti penting bagi penyelidik untuk mengetahui rangkaian peristiwa sebelum pesawat jatuh.

Dalam wawancara dengan Fredricka Whitfield dari CNN pada Minggu, Schiavo mengatakan bandara sebenarnya merupakan tempat yang tepat bagi pesawat untuk menunggu hingga cuaca buruk mereda.

Ia juga menyoroti penurunan ketinggian pesawat yang berlangsung sangat cepat menjelang kecelakaan.

"Itu bukan penurunan yang terkendali. Pesawat turun dengan kecepatan yang benar-benar melampaui batas kecepatan saat menurun. Laju penurunannya juga sudah melampaui batas. Jadi, pada saat itu, jelas bahwa apa pun yang terjadi, mereka telah kehilangan kendali atas pesawat," jelas Schiavo.

Menurut Schiavo, penurunan yang sangat tajam tersebut berpotensi menyebabkan sejumlah bagian pesawat terlepas. Ia juga menyebut alat perekam penerbangan kemungkinan telah hancur akibat ledakan.

Saat kecelakaan terjadi, terdapat sejumlah badai di wilayah tersebut. Pesawat diketahui melintasi area badai yang lebih kuat beberapa menit sebelum mulai kehilangan ketinggian.

Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah kondisi cuaca tersebut turut menyebabkan kecelakaan.

Pada saat kejadian, pesawat berada di wilayah yang telah mendapat peringatan FAA mengenai badai petir dan kondisi cuaca yang dapat membahayakan penerbangan. Peringatan tersebut dikenal sebagai convective SIGMET, yakni peringatan cuaca penerbangan terkait fenomena seperti badai petir dan turbulensi yang berpotensi membahayakan pesawat.

Selain cuaca buruk, penumpukan es pada sayap dan permukaan pesawat lainnya juga dapat menimbulkan risiko serius, khususnya bagi pesawat jet pribadi.

Pada Januari 2024, NTSB telah menerbitkan peringatan keselamatan mengenai bahaya terbentuknya lapisan es selama penerbangan. Kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan pilot dalam mengendalikan pesawat.

NTSB memperingatkan bahwa penumpukan es dapat "mempersulit pengendalian jalur penerbangan dan kecepatan pesawat, serta membuat pesawat tidak mampu mempertahankan penerbangan pada ketinggian yang stabil".

Sementara penyelidikan berlangsung, pihak berwenang menutup seluruh jalur Military Trail, baik ke arah utara maupun selatan, hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Pengendara diimbau menghindari kawasan tersebut dan menggunakan jalur alternatif.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya