Adat Patah Panah Akhiri Konflik Tolikara

Situasi di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, sempat mencekam akibat bentrokan dua keluarga.

oleh Yacob BillioctaDiterbitkan 01 November 2026, 14:52 WIB
Prosesi adat akhiri konflik di Tolikara

Liputan6.com, Jakarta - Situasi di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, sempat mencekam akibat bentrokan dua keluarga. Bentrokan ini dipicu oleh pertikaian hingga berujung satu orang tewas terkena bacokan parang.

Kepolisian Resor (Polres) Tolikara, Papua Pegunungan memastikan situasi terkini di daerah setempat kondusif setelah upaya perdamaian yang dilakukan oleh pemerintah daerah, tokoh agama, masyarakat, adat, pemuda serta forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) wilayah tersebut tercapai.

Perdamaian antara masyarakat yang bertikai di Kabupaten Tolikara telah diselesaikan dengan deklarasi damai ditandai prosesi adat patah panah yang berlangsung di Distrik Karubaga.

"Kami dari jajaran Polres Tolikara mengajak seluruh masyarakat khususnya kedua keluarga yang bertikai agar benar-benar menjaga komitmen perdamaian yang telah disepakati bersama. Tidak boleh ada lagi tindakan saling menyerang, provokasi maupun aksi balas dendam,” kata Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw. Dikutip dari Antara, Minggu (1/11/2026).

Dia menegaskan apabila di kemudian hari muncul persoalan, diselesaikan melalui komunikasi, musyawarah bersama tokoh adat, tokoh agama, pemerintah daerah dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya, termasuk kabar provokatif yang berpotensi kembali memicu perselisihan. Seluruh elemen masyarakat diharapkan bersama-sama menjaga keamanan dan memberikan kesempatan bagi proses pemulihan sosial berlangsung dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Tolikara Willem Wandik mengatakan seluruh masyarakat untuk kembali mengingat ikatan persaudaraan dan nilai-nilai keimanan yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Tolikara.

"Kita ini satu tubuh di dalam Kristus dan kita semua adalah keluarga. Kejadian ini merupakan sesuatu yang tidak kita inginkan dan menjadi musibah bagi kita bersama,” katanya.

Dia menegaskan melalui deklarasi damai ini saya berharap seluruh pihak benar-benar berkomitmen menjaga situasi agar kembali normal seperti biasa.

“Jangan ada lagi aksi saling menyerang karena hanya akan menimbulkan kerugian baik korban jiwa maupun materi," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya