Mengenal Mak Itam: Ikon Kereta Uap Legendaris dari Ombilin

Mak Itam, lokomotif uap legendaris peretas rel bergerigi pegunungan Ombilin yang kini menjadi ikon warisan sejarah perkeretaapian.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 01 November 2026, 15:15 WIB
Mak Itam di Sumatera Barat. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Membangun jalur kereta api di daerah pegunungan bukanlah perkara mudah bagi para insinyur zaman dulu. Di Sumatra Barat, tantangan medan yang curam muncul saat batu bara dari Ombilin, Sawahlunto, harus diangkut menuju pelabuhan. Di tengah kebutuhan angkutan tersebut, muncullah Mak Itam, lokomotif legendaris yang kini menjadi saksi bisu perjalanan teknologi perkeretaapian di tanah air.

Mak Itam merupakan lokomotif uap E1060 berdaya 750 tenaga kuda buatan pabrik Esslingen, Jerman, yang didatangkan pada 1966. Berkat mekanisme roda gigi khusus, lokomotif ini mampu menaklukkan jalur rel bergerigi di medan menanjak. Menariknya, sistem roda gigi Mak Itam ini ternyata tidak cocok dengan konfigurasi rel bergerigi ke arah Bedono, sehingga ia tidak melintasi jalur tersebut sewaktu sempat dimanfaatkan untuk wisata di Jawa Tengah.

Hal ini membuktikan bahwa rancangan teknologi kereta api masa lalu memang disesuaikan secara presisi dengan karakteristik lintasannya.

Sejarah bentangan rel di Ombilin ini tak lepas dari penemuan cadangan batu bara oleh ahli geologi Willem Hendrik de Greve sekitar tahun 1868. Lokasi tambang di area perbukitan memicu hadirnya sistem industri terpadu. Jaringan ini mencakup pertambangan, area permukiman pekerja, tempat penyimpanan batu bara, fasilitas pelabuhan, hingga jalur kereta pegunungan sepanjang 155 kilometer.

Pada 6 Juli 2019, UNESCO resmi menetapkan Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto sebagai Situs Warisan Dunia, sebuah pengakuan internasional yang ditujukan bagi seluruh ekosistem industrinya, bukan cuma untuk Mak Itam secara individu.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan, kisah Mak Itam memperlihatkan bagaimana teknologi perkeretaapian berkembang untuk menjawab kebutuhan dan tantangan pada zamannya.

"Di balik sebuah lokomotif, terdapat pengetahuan teknik dan keputusan desain yang lahir dari kondisi nyata. Sejarah tersebut juga menunjukkan hubungan antara transportasi, kegiatan industri, dan perkembangan suatu wilayah," kata Anne dikutip dari laman resmi KAI, Minggu (1/11/2026).

Operasional lokomotif uap di Sumatra Barat sendiri berjalan lintas generasi. Deretan lokomotif seri E10 didatangkan secara bertahap: 22 unit pada periode 1921–1928, 20 unit pada 1964–1966, dan 7 unit terakhir pada 1967. Memasuki awal 1980-an, peran lokomotif uap mulai tergeser oleh hadirnya teknologi mesin diesel.

Mak Itam pun beralih peran menjadi ikon wisata sejarah. Sempat diboyong ke Museum Kereta Api Ambarawa pada 1998 dalam keadaan rusak, lokomotif ini dipulihkan dan melayani rute wisata di Jawa Tengah sebelum akhirnya dipulangkan ke Sawahlunto pada Desember 2008.

Upaya Merawat Mak Itam

Mak Itam di Sumatera Barat. (Istimewa)

 

Upaya merawat Mak Itam hari ini bukan sekadar menjaga fisik armada tua, melainkan melestarikan rekam jejak teknologi pada masanya. Mak Itam telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya lewat Keputusan Wali Kota Sawahlunto Nomor 188.45/327/WAKO-SWL/2017. 

Merujuk data KAI, lokomotif ini tersimpan di Depo Sawahlunto dan masih bisa bergerak di emplasemen Sawahlunto Rail and Train Museum. Kendati demikian, beberapa pipa api pada bagian ketel uapnya mengalami kebocoran, sehingga membutuhkan penanganan teknis agar dapat kembali berfungsi optimal.

Anne menjelaskan bahwa pelestarian sarana bersejarah membutuhkan ketelitian teknis sekaligus penyampaian sejarah yang mudah dipahami masyarakat. Nilai sebuah sarana heritage tidak hanya terletak pada usianya, tetapi juga pada pengetahuan tentang cara kerja, tantangan yang pernah dihadapi, dan perubahan yang dialaminya sepanjang sejarah. Dokumentasi yang akurat, perawatan yang tepat, serta pemanfaatan yang memperhatikan keselamatan menjadi bagian penting dalam menjaga warisan tersebut.

Keberadaan Mak Itam dan jalur rel Ombilin menjadi bukti bahwa infrastruktur transportasi tak hanya menghubungkan komoditas dengan pasar, tetapi juga membentuk dinamika sosial-ekonomi di Sawahlunto. Rekayasa teknologi masa lalu terbukti mampu menaklukkan hambatan geografis. Dari area tambang hingga diakui dunia, Mak Itam menyisakan pelajaran berharga, yaitu kemajuan transportasi bukan hanya soal inovasi mutakhir, melainkan juga tentang menghargai dan merawat pengetahuan sejarah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya