Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, mengalami rentetan erupsi, Sabtu (31/10/2026) malam. Tercatat 15 kali erupsi sejak pukul 18.30 hingga 23.23 WIB.
Meski mengalami erupsi berulang kali, visual letusan gunung api tersebut tidak teramati. Namun, aktivitas vulkanik masih terus berlangsung berdasarkan laporan petugas pengamatan.
Advertisement
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan erupsi pertama tercatat pada pukul 18.30 WIB. Aktivitas tersebut kemudian berulang pada sejumlah waktu hingga menjelang tengah malam.
"Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Sabtu, 31 Oktober 2026, pukul 18.30 WIB. Visual letusan tidak teramati. Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung," kata Suwarno, Minggu (1/11/2026).
Rentetan erupsi berikutnya tercatat pada pukul 19.15, 19.32, 19.38, 19.42, 19.54, 19.59, 20.02, 20.06, 20.11, 20.18, 20.24, 20.39, 20.50, hingga terakhir pukul 23.23 WIB.
Dari sejumlah kejadian tersebut, beberapa erupsi terekam melalui seismograf dengan amplitudo dan durasi yang bervariasi.
Erupsi pukul 19.59 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 51 milimeter dengan durasi 70 detik. Kemudian, erupsi pukul 20.02 WIB memiliki amplitudo 55 milimeter dengan durasi 117 detik.
Sementara itu, erupsi pukul 20.06 WIB terekam dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 156 detik.
"Aktivitas lainnya tercatat pada pukul 20.18 WIB dengan amplitudo 58 milimeter dan durasi 79 detik. Adapun erupsi pukul 20.24 WIB memiliki amplitudo 54 milimeter dengan durasi mencapai 271 detik," sebutnya.
Tremor Menerus Terekam Overscale
Berdasarkan laporan pengamatan periode 1 November 2026 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau terpantau berawan hingga mendung.
Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut. Suhu udara berkisar 26,8-27,6 derajat Celsius dengan kelembapan udara 82-87 persen.
Secara visual, gunung teramati jelas hingga tertutup kabut pada tingkat 0-III. Asap kawah bertekanan sedang hingga kuat terlihat berwarna putih dan kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal.
Ketinggian asap kawah mencapai 50-200 meter di atas puncak. Sementara itu, kolom letusan tidak teramati karena kondisi malam hari.
Aktivitas kegempaan juga masih tercatat dalam jumlah cukup beragam. Petugas merekam satu kali gempa letusan dengan amplitudo 56 milimeter dan durasi 5.468 detik.
Selain itu, terjadi satu kali tremor harmonik dengan amplitudo 57 milimeter dan durasi 3.989 detik.
Tiga kali gempa frekuensi rendah juga tercatat dengan amplitudo 25-36 milimeter dan durasi 8-14 detik. Sementara itu, gempa hybrid atau fase banyak terjadi satu kali dengan amplitudo 27 milimeter dan durasi 7 detik.
"Tremor menerus atau microtremor terekam dengan amplitudo 10-60 milimeter, dominan 40 milimeter," jelasnya.
Dalam laporan yang sama, petugas juga mencatat kondisi tremor menerus overscale atau melampaui skala rekaman alat.
Dengan status aktivitas Level III atau Siaga, masyarakat dan wisatawan diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dari petugas.
Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk pengunjung, wisatawan, dan pendaki, dilarang memasuki serta melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
Larangan juga diberlakukan dalam radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.
Petugas mengingatkan sejumlah potensi bahaya yang harus diwaspadai, mulai dari lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, hingga erupsi sekunder akibat kontak panas lava dengan air laut maupun air hujan dalam radius 5 kilometer.
Sementara itu, masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap isu yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan menyebabkan tsunami.
Masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.