Kisah Karl Bushby, 28 Tahun Jalan Kaki Keliling Dunia

Kisah Karl Bushby, pria yang berjalan kaki 50.000 km melintasi 30 negara selama 28 tahun.

oleh Septian DenyDiterbitkan 02 November 2026, 17:00 WIB
Karl Bushby, pria yang berjalan kaki 50.000 km melintasi 30 negara selama 28 tahun. (AP Photo/Brian Melley

Liputan6.com, London - Setelah menghabiskan 28 tahun berjalan kaki mengelilingi dunia, Karl Bushby akhirnya mendekati garis finis perjalanannya. Namun, penjelajah asal Inggris itu justru diliputi kecemasan menjelang kepulangannya yang dijadwalkan pada Senin.

Dikutip dari AP News, Saat mendorong gerobak berisi perlengkapan berkemah di jalan raya yang ramai di Inggris bagian utara, sekitar 50 kilometer dari garis finis, Bushby mengaku belum yakin dengan masa depannya. Pria berusia 57 tahun itu khawatir harus tinggal di ruang bawah tanah rumah ibunya dan menghadapi krisis identitas setelah perjalanan panjangnya berakhir.

"Tujuan dan alasan saya untuk hidup akan segera berakhir," kata Bushby.

"Ini akan sulit ... mencoba kembali membaur dengan masyarakat yang sudah tidak lagi saya kenal," lanjut dia.

Bushby memulai perjalanan solonya pada 1 November 1998, ketika usianya belum genap 30 tahun. Saat itu, ia berangkat dari ujung Amerika Selatan menuju sebuah petualangan yang belum pernah ia jalani sebelumnya.

Sejak saat itu, ia telah berjalan sejauh 31.000 mil atau sekitar 50.000 kilometer melintasi empat benua dan 30 negara. Ia menyeberangi Selat Bering melalui hamparan es yang terus bergerak serta berenang melintasi Laut Kaspia dan Selat Inggris.

Perjalanan yang awalnya direncanakan berlangsung selama 12 tahun itu akhirnya membentang hampir tiga dekade. Hutan rawa, gurun yang terik, tundra beku, serta berbagai kendala birokrasi memperpanjang ekspedisi yang ia namai Goliath Expedition tersebut.

Terinspirasi Perdebatan Pasukan Khusus

Gagasan perjalanan Bushby bermula dari sebuah kartu ucapan ulang tahun yang dikirim ayahnya, Keith, pada pertengahan 1990-an.

Keith, seorang veteran Angkatan Darat, menceritakan perdebatan yang pernah terjadi di antara anggota pasukan khusus mengenai kemungkinan berjalan kaki dari London ke New York melalui jembatan darat Bering. Sejumlah ilmuwan meyakini jalur tersebut pernah digunakan manusia purba untuk bermigrasi dari Asia ke Amerika ketika permukaan laut lebih rendah.

Bushby kemudian menggambar sebuah garis perjalanan yang menghubungkan Eropa dan Asia hingga Amerika Utara pada peta. Namun, alih-alih berhenti di New York, ia memutuskan melanjutkan perjalanan ke selatan hingga mencapai ujung Chile.

"Dan begitulah semuanya dimulai," katanya. "Begitu gagasan itu tertanam dalam diri saya, tidak ada jalan untuk kembali."

Sebagai mantan anggota pasukan penerjun payung Angkatan Darat Inggris, Bushby menetapkan dua aturan ketat untuk ekspedisinya. Ia tidak boleh menggunakan alat transportasi untuk bergerak maju dan harus kembali ke rumah dengan berjalan kaki.

Aturan tersebut membuat perjalanannya jauh lebih sulit. Para penjelajah memang telah mengelilingi dunia menggunakan kapal, pesawat, balon, sepeda, bahkan berjalan kaki. Namun, sebagian besar penjelajah yang berjalan kaki mengandalkan alat transportasi untuk menyeberangi lautan.

Bushby memulai ekspedisinya dengan uang 500 dolar AS. Tak lama kemudian, ia harus menghadapi angin berkekuatan seperti badai topan di dataran Patagonia.

Pada 2001, ia menghindari kawasan berbahaya di Celah Darién, hutan lebat tanpa jalan yang membentang di antara Amerika Selatan dan Amerika Tengah, ketika wilayah tersebut dilanda perang. Setelah melintasi zona perbatasan terlarang di Panama, ia bahkan dipenjara selama 18 hari.

 

Menghadapi Beruang Kutub hingga Menyeberangi Laut dengan Berenang

Selama perjalanan, Bushby menghadapi berbagai ancaman yang nyaris merenggut nyawanya.

Ia pernah berhadapan langsung dengan beruang kutub, melewati perairan yang dipenuhi buaya untuk menghindari perang gerilya di Kolombia, serta diserang sekelompok orang di Peru.

Pada 2006, Bushby dan petualang asal Amerika Serikat, Dimitry Kieffer, mencoba menyeberangi Selat Bering sejauh sekitar 90 kilometer. Mereka kemudian harus dievakuasi melalui udara setelah terjebak di hamparan es yang hanyut menuju laut lepas.

Dalam peristiwa itu, Bushby nyaris tewas setelah terjatuh ke air yang sangat dingin. Mereka juga hampir kehilangan seluruh persediaan. Meski berhasil melakukan penyeberangan yang langka tersebut, keduanya kemudian dipenjara dan menghadapi ancaman deportasi karena memasuki Rusia secara ilegal.

Perjalanan melintasi Rusia saja memakan waktu hampir 10 tahun akibat persoalan visa dan kondisi cuaca yang hanya memungkinkan perjalanan selama beberapa bulan setiap tahun.

Ketika Rusia menolak memberikan visa pada 2012, Bushby memprotes keputusan tersebut dengan berjalan kaki dari Los Angeles menuju Kedutaan Besar Rusia di Washington DC. Aksi itu akhirnya membantunya memperoleh dokumen yang diperlukan.

Setiap kali menghadapi hambatan, Bushby terpaksa mundur ke Amerika Serikat atau Meksiko, tempat biaya hidup lebih murah, sambil menunggu kesempatan untuk melanjutkan perjalanan dari titik terakhirnya.

Ia juga terus dibayangi polisi saat melintasi China dan harus menghentikan perjalanan cukup lama akibat pandemi.

Persoalan geopolitik yang menutup akses melalui Rusia dan Iran kemudian memaksanya menyeberangi Laut Kaspia dengan berenang selama 31 hari.

Padahal, Bushby mengaku bukan perenang yang andal. Ia mengandalkan rompi pelampung dan pakaian selam, sambil menggerakkan kedua lengannya untuk bergerak maju dengan teknik yang ia sebut floatimming, gabungan dari mengapung dan berenang.

Di Eropa, ia kembali menghadapi kendala berupa batas kunjungan selama 90 hari yang membuatnya harus membagi perjalanan menjadi beberapa tahap, masing-masing selama tiga bulan.

Kehidupan asmaranya pun tidak luput dari dampak perjalanan panjang tersebut. Bushby pernah menjalin hubungan selama tujuh tahun dengan seorang perempuan Kolombia dan tiga tahun dengan perempuan asal Jepang. Kedua hubungan itu berakhir dengan patah hati yang tampaknya tidak terlepas dari gaya hidupnya yang terus berpindah tempat.

Bertahan Berkat Kebaikan Orang Asing

Ekspedisi panjang tersebut juga berdampak pada kehidupan keluarganya.

Bushby memiliki seorang putra dari pernikahan pertamanya dengan perempuan asal Belfast. Pernikahan itu berakhir dengan perceraian, dan putranya sebagian besar tumbuh tanpa kehadirannya. Kini, sang putra berusia sekitar pertengahan 30-an.

Ayahnya sempat menemuinya di pantai Dover ketika Bushby menyeberangi Selat Inggris. Namun, ia belum bertemu ibunya, Angela, selama satu dekade. Hal itu turut menambah kegelisahannya menjelang kepulangan ke Hull, Inggris.

Sepanjang perjalanan, Bushby mendapat dukungan dari sejumlah sponsor yang silih berganti seiring ekspedisinya semakin panjang dan kondisi keuangan memburuk akibat krisis finansial 2008.

Selama 16 tahun terakhir, ia terutama mengandalkan dukungan sebuah perusahaan produksi yang didirikan Beau Willimon, kreator serial House of Cards, bersama produser musik Jordan Tappis. Mereka mendukung pembuatan film dokumenter tentang perjalanan Bushby yang digarap sineas Werner Herzog.

Namun, menurut Bushby, bantuan dari orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan menjadi salah satu hal terpenting yang membuatnya mampu bertahan.

Ia pernah disambut di gubuk-gubuk yang dirakit dari suku cadang mobil. Keluarga seorang dokter di Peru merawatnya hingga pulih dari infeksi lambung yang parah. Ia juga berkali-kali mendapat makanan berupa nasi dan air dari orang-orang yang tidak mengharapkan imbalan apa pun.

"Saya disambut oleh orang-orang yang paling miskin di antara yang miskin," katanya. "Saya telah bertemu dengan 99,9999 persen orang terbaik dari umat manusia. Di setiap budaya dan setiap negara, respons yang saya terima selalu sama."

 

Kepulangan yang Disambut Bak Selebritas

Setelah bertahun-tahun menjalani perjalanan dalam kesendirian, langkah terakhir Bushby terasa hampir tidak nyata. Kabar tentang kepulangannya menyebar ketika ia melintasi hamparan perbukitan hijau menuju Yorkshire, daerah asalnya.

Pada Rabu, sejumlah pengemudi truk besar membunyikan klakson saat melewatinya di jalan dekat kota Market Rasen. Para pengemudi juga melambaikan tangan, sementara sekelompok pengendara sepeda motor berhenti untuk berfoto bersama dengannya.

Seorang warga bernama Howard Denton bahkan menepi dengan mobilnya setelah melihat Bushby melintas. Ia heran karena beberapa pesepeda yang sempat berbincang dengannya tidak menyadari bahwa sesama pelintas jalan itu telah berjalan mengelilingi dunia.

"Saya berkata kepada mereka, 'Apakah kalian melihat pria yang berjalan mengelilingi dunia itu?'" kata Denton.

"Mereka menjawab, 'Tidak.' Mereka bahkan tidak terpikir untuk bertanya ke mana pria itu pergi. Saya benar-benar tidak percaya betapa bodohnya mereka. Menurut saya, dia luar biasa. Dia benar-benar hebat."

Setiap langkah kini membawa Bushby semakin dekat ke garis finis.

Ketika memulai ekspedisinya, penampilannya menyerupai Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang telah meninggal dunia. Kemiripan itu bahkan memunculkan teori konspirasi di internet yang menyebut Cobain sebenarnya masih hidup dan sedang berjalan mengelilingi dunia dengan nama samaran.

Kini, penampilan Bushby lebih menunjukkan perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Tubuhnya tampak lebih berisi di bagian perut dan janggutnya telah memutih. Namun, mata birunya yang cerah, rambut pirang, dan kulit kecokelatannya masih menjadi ciri khasnya.

Bushby mengaku belum mengetahui apa yang akan terjadi setelah ia kembali ke rumah. Namun, ada satu hal yang tidak akan dirindukannya: ribuan langkah yang harus ia tempuh setiap hari.

"Saya melakukan ini bukan karena suka berjalan kaki," katanya.

"Berjalan kaki hanyalah cara untuk mencapai suatu tempat," tutup dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya