Liputan6.com, Jakarta - Kawai Labiba mengaku mendapat pengalaman tak terlupakan lewat film horor Putri Jangan Gentayangan Lagi. Film ini menjadi kali pertama ia memerankan arwah. Hal itu diungkapkannya saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Jumat (30/10/2026).
Dalam film garapan MVP Pictures tersebut, Kawai memerankan Putri, sosok yang kisahnya berasal dari kanal YouTube Lentera Malam dan telah ditonton lebih dari 25 juta kali. Menurutnya, perannya terbagi dalam tujuh fase, yakni dua fase saat Putri masih hidup dan lima fase setelah menjadi hantu.
Advertisement
"Jujur ini merupakan pengalaman yang luar biasa juga ya bisa bergabung di project film Putri Jangan Gentayangan Lagi, karena sebenarnya ini pertama kalinya aku juga berperan sebagai arwah sih," ungkap Kawai Labiba.
Tantangan di Film Ini
Tantangannya tidak sedikit. Riasan menutupi tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki, sementara ia harus menjaga kesinambungan karakter di setiap fase. Kawai juga memakai kontak lens putih selama sekitar 60 persen waktu syuting.
"Aku enggak bisa ngelihat apa-apa, Teman-teman," ujarnya.
Karena itu, ia baru benar-benar melihat hasil adegannya saat menonton film ini bersama para tamu undangan."Jadi ketika nonton tadi itu rasanya surprise banget kayak, "Oh, ternyata scene-nya seperti ini ya? Keren ya?" gitu," tambahnya.
Syuting Bareng Belatung Asli
Selain kontak lens, Kawai harus menyimpan darah palsu di mulut dan beradegan menggunakan sling. Ia juga berakting bersama belatung. Saat ditanya apakah belatung itu sungguhan, Kawai langsung membenarkannya, disambut seruan kaget para hadirin.
"Itu belatung beneran!" tegas Kawai.
Meski begitu, adegan paling menantang baginya bukan soal belatung. Ia menyebut adegan terakhir bersama Alana sebagai yang terberat karena menuntut emosi sekaligus teknis.
"Mungkin kalau scene, itu scene terakhir sama Alana, yang mungkin Teman-teman juga udah lihat. Karena itu emosinya juga tebal, tapi teknisnya juga luar biasa pakai sling," jelas Kawai.
Tanggung Jawab Perankan Almarhumah
Di balik tantangan teknis, Kawai merasakan beban emosional karena memerankan sosok almarhumah. Sebelum produksi, ia sempat gugup karena belum tahu apakah Mak Eli bersedia anaknya diperankan olehnya. Proses syuting pun diiringi doa dan permohonan restu.