Laba ExxonMobil dan Chevron Kompak Sentuh Rekor

ExxonMobil dan Chevron kompak membukukan lonjakan laba bersih di tengah perang antara Ukraina-Rusia dan Iran.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 31 Oktober 2026, 15:14 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta - Laba Chevron dan ExxonMobil melaporkan lonjakan laba pada kuartal ketiga 2026. Lonjakan laba ini terjadi di tengah peningkatan produksi kilang-kilang di Amerika Serikat (AS) sehingga kapasitas penuh untuk memanfaatkan tingginya harga bahan bakar solar.

Mengutip CNBC, Sabtu (31/10/2026), saham Chevron naik hampir 2%. Sementara itu, saham Exxon menguat lebih dari 1%. Dua saham sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada Jumat pekan ini.

Di tengah dunia menghadapi krisis bahan bakar akibat serangan terhadap kilang minyak di Rusia dan Timur Tengah yang melibatkan pihak-pihak di Ukraina, Iran serta militer Houthi, sehingga mengurangi kapasitas global hingga jutaan barel per hari.

Akibatnya, pengimpor kini semakin bergantung pada kilang-kilang di wilayah Pantai Teluk AS (US Gulf Coast) untuk memenuhi pasokan diesel.

Laba ExxonMobil melonjak dua kali lipat menjadi US$ 15,4 miliar atau Rp 279,24 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.130). Laba per saham tercatat US# 3,72 per saham. Pada periode sama tahun lalu, ExxonMobil mencatat laba US$ 7,5 miliar atau Rp 135,99 triliun. Laba itu setara US$ 1,76 per saham. Setelah disesuaikan dengan pos sekali waktu, perusahaan mencatat laba sebesar US$ 4,23 per saham, jauh melampaui harapan wall street.

"Kapasitas penyulingan saat ini sangat terbatas. Terus terang, diesel menjadi titik kritis utama karena perannya yang sangat vital bagi pertumbuhan ekonomi, dengan tingkat permintaan yang inelastis,” ia menambahkan.

 

Laba Bersih Chevron Melonjak

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Juni naik sekitar 2 persen menjadi USD 96,37 per barel. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon terlihat tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Berdasarkan data AAA, rata-rata harga nasional untuk bahan bakar solar di AS mencapai US$ 6,32 per balon pada Jumat pekan ini naik lebih dari 70% dibandingkan periode sama tahun lalu. Harga di AS sempat mencatatkan rekor tertinggi pada September.

Laba bersih Chevron melonjak hampir 200% menjadi US$ 9,9 miliar atau Rp 179,51 triliun. Laba itu setara US$ 5,06 per saham. Pada periode sama tahun lalu, laba Chevron tercatat US$ 3,5 miliar atau Rp 63,46 triliun. Laba itu sekitar US$ 1,82 per saham pada periode sama tahun lalu. Setelah disesuaikan dengan pos-pos sekali waktu, perusahaan mencatat laba sebesar US$ 5,28 per saham, yang juga melampaui harapan pasar US$ 4,89 per saham.

“Sistem yang ada saat ini berada di bawah tekanan. Kita masih berada dalam situasi yang cukup rentan,” kata CEO Chevron, Mike Wirth.

Berikut perolehan laba Chevron dan Exxon dibandingkan harapan analis yang disurvei LSEG:

  • Laba per saham Chevron: US$ 5,28 (penyesuaian) vs US$ 4,89 (prediksi)
  • Pendapatan Chevron: US$ 67,8 miliar vs US$ 61,6 miliar (prediksi)
  • Laba per saham Exxon: US$ 4,23 (penyesuaian) vs US$ 4,89 (prediksi)
  • Pendapatan Exxon: US$ 113,2 miliar vs US4 103,1 miliar (prediksi)

 

 

 

Jadi Isu Kontroversi

Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Keuntungan besar yang diraup oleh perusahaan-perusahaan minyak raksasa di tengah masa perang menjadi isu yang kontroversial secara politik. Pada Agustus, Presiden Donald Trump menyatakan Chevron dan Exxon “memperoleh keuntungan yang terlalu besar akibat adanya kelangkaan.” Gangguan pasokan ini bermula pada Maret setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Laba dari divisi penyulingan Chevron melonjak lebih dari 300% menjadi US$ 4,9 miliar, dibandingkan dengan US$ 1,1 miliar pada periode sama 2025. Sektor produksi minyak dan gas perusahaan tersebut mencatatkan pendapatan sebesar US$ 5,7 miliar, naik 70% dari $3,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kilang-kilang Chevron di Amerika Serikat memproses minyak mentah dalam jumlah rekor, yakni sedikit di atas 1 juta barel per hari, dengan tingkat utilisasi fasilitas mencapai 98%. Wirth mengungkapkan volume produksi bahan bakar diesel dan bahan bakar jet meningkat lebih dari 10%.

 

Divisi Penyulingan

Divisi penyulingan Exxon mencatatkan laba sekitar US$ 7,2 miliar pada kuartal tersebut, melampaui pendapatan dari sektor produksi yang mencapai sekitar US$ 7,1 miliar. Sepanjang tahun ini, laba dari sektor penyulingan telah melonjak hampir 200% menjadi US$ 11,4 miliar, dibandingkan dengan US$ 4 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.

Kilang-kilang Exxon di wilayah Gulf Coast beroperasi dengan tingkat utilisasi kapasitas sebesar 100%. Menurut Woods, kilang-kilang tersebut menghasilkan “volume diesel dalam jumlah rekor” pada kuartal ini.

Produksi minyak dan gas Chevron justru mengalami sedikit penurunan menjadi 3,9 juta barel per hari, dibandingkan dengan sekitar 4 juta barel per hari pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terjadi pada segmen internasional, yang sebagian disebabkan oleh konflik di Timur Tengah, sementara tingkat produksi di Amerika Serikat relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.

Exxon mencatatkan produksi sekitar 4,5 juta barel per hari sepanjang tahun ini, turun lebih dari 2% dibandingkan dengan hampir 4,7 juta barel per hari pada sembilan bulan pertama 2025.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya