Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali merosot pada perdagangan Sabtu (31/10/2026). Harga emas Antam hari ini anjlok Rp 20.000, setelah perdagangan sebelumnya susut Rp 13.000.
Berdasarkan pantauan di laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam ditetapkan Rp 2.526.000 per gram. Pada perdagangan kemarin, emas Antam dijual seharga Rp 2.546.000 per gram.
Advertisement
Sementara itu, harga jual juga ikut tersungkur dengan nilai lebih besar mencapai Rp 65.000 per gram. Harga jual emas Antam kini berada di posisi Rp 2.276.000 per gram dari sebelumnya Rp 2.341.000 per gram.
Harga jual ini merupakan nilai yang diterima pemilik emas ketika menjual kembali batangan emasnya kepada Antam.
Pergerakan harga emas Antam dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti tren pasar dan pergerakan harga emas dunia.
Sebagai catatan, harga emas Antam pernah menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) sebesar Rp 3.168.000 per gram pada Kamis (29/1/2026) dengan harga buyback mencapai Rp 2.989.000 per gram.
Sesuai aturan pemerintah, transaksi emas Antam dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22. Pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,25%. Sementara itu, untuk transaksi buyback dengan nilai di atas Rp 10 juta, dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5% yang dipotong langsung dari total nilai penjualan.
Berikut rincian harga dasar emas Antam pada Sabtu (31/10/2026):
- 0,5 gram: Rp 1.313.000
- 1 gram: Rp 2.526.000
- 2 gram: Rp 4.992.000
- 3 gram: Rp 7.463.000
- 5 gram: Rp 12.405.000
- 10 gram: Rp 24.755.000
- 25 gram: Rp 61.762.000
- 50 gram: Rp 123.445.000
- 100 gram: Rp 246.812.000
- 250 gram: Rp 616.765.000 (stok habis)
- 500 gram: Rp 1.233.320.000 (stok habis)
- 1.000 gram: Rp 2.466.600.000 (stok habis)
Harga Emas Dunia
Sebelumnya, harga emas dunia jatuh ke level terendah dalam satu tahun pada Jumat, 30 Oktober 2026 (Sabtu pagi Jakarta). Sementara itu, harga perak merosot ke bawah US$ 50 per ons untuk pertama kali sejak November 2025. Kenaikan harga energi dan kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai inflasi telah memperkuat harapan kalau suku bunga Amerika Serikat (AS) akan tetap tinggi.
Mengutip CNBC, Sabtu (31/10/2026), harga emas di pasar spot turun 2,7% menjadi US$ 3.910,53 per ons, level terendah sejak Oktober 2025. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember turun 2,8% menjadi US$ 3.919,60 per ons.
Harga logam mulia ini tercatat mengalami penurunan bulanan selama dua bulan berturut-turut, dengan akumulasi penurunan 5,9% sepanjang Oktober.
Harga perak di pasar spot turun 5,8% menjadi US$ 49,34 per ons, level terendah sejak November 2025.
"Kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai inflasi membuat sejumlah bank sentral tetap mempertahankan sikap hawkish (cenderung menaikkan atau menahan suku bunga tinggi)," ujar wakil presiden sekaligus pakar strategi logam senior di Zaner Metals, Peter Grant.
Ia menuturkan, meskipun bank-bank sentral utama memutuskan untuk menahan suku bunga minggu ini, sinyal yang diberikan menunjukkan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama masih akan berlanjut. “Hal ini menekan harga logam mulia,” ujar dia.
Sentimen Harga Emas
Bank-bank sentral utama memang menghentikan kenaikan suku bunga minggu ini, tetapi menegaskan siklus pengetatan kebijakan moneter belum berakhir. Bank Sentral AS (Federal Reserve) dan Bank Sentral Eropa (European Central Bank) sama-sama menyoroti risiko inflasi yang dipicu oleh lonjakan biaya energi.
Data yang dirilis pada Kamis menunjukkan inflasi AS meningkat pada September seiring dengan naiknya harga bensin dan barang-barang lainnya, yang memperkuat ekspektasi para ekonom akan adanya kenaikan suku bunga pada Desember.
Analis di Commerzbank mencatat faktor lain di balik penurunan harga ini adalah anjloknya harga saham sektor teknologi, yang kemungkinan memicu aksi jual paksa (forced selling) dan margin call.
"Kami menilai penurunan harga logam mulia ini berlebihan dan tetap memperkirakan akan terjadi pemulihan," ujar analis Commerzbank.
Harga Minyak
Indeks Nasdaq yang didominasi oleh saham teknologi diperkirakan mengalami penurunan tajam pada pembukaan perdagangan Jumat, dipicu oleh kekhawatiran terkait pengeluaran di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Sementara itu, harga minyak justru naik dan mencatatkan kenaikan bulanan untuk bulan keempat berturut-turut. Harga energi yang lebih tinggi memperkuat ekspektasi akan periode suku bunga tinggi yang berkepanjangan, sehingga membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik.
Di sisi lain, permintaan emas fisik di pasar-pasar utama Asia tetap lemah minggu ini; para pembeli di India menunda pembelian karena mengantisipasi penurunan harga lebih lanjut, sementara permintaan di China konsumen emas terbesar juga tetap lesu.