Liputan6.com, Jakarta - Inflasi inti tahunan ibu kota Jepang melampaui perkiraan 2% bank sentral pada Oktober. Data yang dirilis Jumat (30/10/2026) ini menyoroti lonjakan harga dan semakin meyakini akan ada kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Melansir CNA, Jumat, 30 Oktober 2026, data ini dirilis sebelum pengumuman kebijakan Bank of Japan (BOJ). Meski bank sentral diekspektasikan untuk menstabilkan kebijakan, kemungkinan besar mereka akan menegaskan tekad untuk terus menaikkan suku bunga guna mencegah inflasi melampaui target.
Advertisement
Indeks harga konsumen inti, yang termasuk bahan bakar, dan tidak termasuk bahan pangan, di Tokyo naik 2,6% pada Oktober dibanding satu tahun lalu. Data dari pemerintah ini sesuai dengan perkiraan pasar median. Sebelumnya, angka ini naik 2,7% pada September.
Sebuah indeks yang meniadakan dampak dari fluktuasi harga bahan pangan segar dan bahan bakar, yang diamati oleh Bank of Japan sebagai tolok ukur tren inflasi yang lebih akurat, naik 2,6% pada bulan Oktober, setelah mencatatkan kenaikan 2,9% pada September.
Pembacaan untuk Tokyo, yang dijadikan indikator tren harga nasional, menggarisbawahi pandangan bank sentral bahwa kenaikan harga produsen yang stabil akan merajalela menjadi kenaikan cepat dalam inflasi konsumen.
BOJ menaikkan suku bunga kebijakannya ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhirnya pada bulan lalu. Gubernurnya mengisyaratkan bank sentral tersebut telah memasuki fase yang berfokus pada upaya mencegah inflasi inti melampaui target, sehingga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut.