Bursa Saham Asia Hari Ini Bervariasi, Kospi Anjlok 5%

Sebagian besar indeks saham acuan di bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan saham Jumat, (30/10/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 30 Oktober 2026, 09:02 WIB
Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo,Jepang. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik bervariasi dengan kecenderungan tertekan pada perdagangan saham Jumat (30/10/2026). Di antara bursa saham Asia, indeks Kospi merosot lebih dari 5%.

Mengutip CNBC, pada awal sesi perdagangan, indeks Nikkei 225 turun 0,68% dan indeks Topix menguat 0,26%. Indeks Kospi anjlok 3,11% pada pembukaan perdagangan. Indeks Kosdaq susut 2,35%. Indeks ASX 200 menguat 0,65%.

Tekanan di bursa saham Asia masih berlanjut. Indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 2,61%. Indeks Topix susut 1,33%. Indeks Kospi anjlok lebih dari 5%. Sementara itu, indeks saham Kosdaq turun 3,72%. Indeks ASX 200 di Australia menguat 0,65%. Indeks Hang Seng di Hong Kong naik 0,55%. Indeks CSI 300 di China merosot 1,21%.

Di wall street, indeks Nasdaq melemah 1,38% menjadi 26.184,72. Indeks S&P 500 terpangkas 0,3% menjadi 7.720,39. Indeks Dow Jones merosot 0,25% menjadi 52.342.

Saham Amazon turun 6% dalam perdagangan di luar jam bursa (extended trading) setelah perusahaan melaporkan laba dan pendapatan kuartal ketiga yang berada di bawah ekspektasi Wall Street. Perusahaan juga mencatat arus kas bebas negatif sebesar US$ 42,4 miliar dan mempertahankan perkiraan belanja modal tahun 2026 sebesar US$ 220 miliar.

Saham Intel anjlok 21% setelah mengeluarkan proyeksi yang lemah untuk kuartal saat ini, dengan mengindikasikan perlambatan pada sektor PC. Pendapatan dari divisi komputasi klien dan kecerdasan buatan (AI) fisik perusahaan turun 5% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu, menjadi US$ 8,1 miliar.

Saham Sandisk juga turun 3% dalam perdagangan di luar jam bursa, meskipun hasil kinerja kuartal fiskal pertamanya melampaui estimasi. Perusahaan penyimpanan data tersebut mengumumkan pemecahan saham (stock split) dengan rasio delapan banding satu.

Penurunan ini terjadi di tengah pengamatan ketat para investor terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).

 

Wall Street

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Dalam perdagangan reguler Kamis, saham Alphabet turun 12% setelah perusahaan mencatat laba dan pendapatan kuartal ketiga yang meleset dari ekspektasi, serta membukukan arus kas bebas negatif sebesar US$ 9,07 miliar. Penurunan saham induk perusahaan Google ini menyeret indeks Nasdaq Composite melemah 1,4% pada sesi perdagangan reguler, sementara indeks S&P 500 turun 0,3%.

Jumat ini menandai hari perdagangan terakhir pada Oktober. Bulan ini menjadi periode yang penuh gejolak bagi sektor kecerdasan buatan (AI), dengan para investor mencermati pengeluaran perusahaan terkait pengembangan infrastruktur AI. Perusahaan penyedia layanan cloud berskala masif (hyperscaler) seperti Alphabet dan Microsoft tidak menaikkan proyeksi belanja modal mereka.

Pada saat yang sama, perusahaan neocloud penyedia komputasi awan yang mendukung infrastruktur untuk pusat data AI menghadapi sorotan investor terkait tingkat utang mereka. CoreWeave, yang mengalami lonjakan imbal hasil obligasi, menjadi contoh utama dari kekhawatiran tersebut; sahamnya anjlok 30% sepanjang Oktober. Sementara itu, saham Nebius tercatat menuju penurunan sebesar 27% bulan ini.

Roundhill Memory ETF (DRAM), yang mencakup perusahaan memori untuk AI seperti Micron dan Seagate Technology, turun 14% pada Oktober, sedangkan iShares A.I. Innovation and Tech Active ETF (BAI) melemah 10%.

Menjelang penutupan bulan, indeks Nasdaq Composite diperkirakan mencatat penurunan sebesar 2,5%. Di sisi lain, indeks S&P 500 berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan 0,9%, sementara indeks Dow diperkirakan naik 2,8%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya