Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih betah di kisaran 18.100 pada perdagangan Kamis, (29/10/2026). Analis menilai, koreksi rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi pernyataan arah kebijakan the Federal Reserve (the Fed) dan perkembangan ekonomi setelah agenda Federal Open Market Committee (FOMC).
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup turun 47 poin atau 0,26% menjadi 18.137 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya 18.184 per dolar AS.
Advertisement
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah ke level 18.128 per dolar AS dari sebelumnya 18.183 per dolar AS.
“The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75 - 4,00 persen pada 28 Oktober waktu AS. Namun, inflasi AS yang masih tinggi dan belum adanya kepastian mengenai kebijakan suku bunga selanjutnya membuat pergerakan dolar AS tetap sensitif terhadap data ekonomi dan imbal hasil obligasi AS,” ujar Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengutip Antara.
Mengutip Anadolu, FOMC menyetujui keputusan tersebut melalui pemungutan suara dengan hasil 10 banding 2. Langkah ini diambil untuk mendukung mandat ganda bank sentral, yaitu mencapai tingkat penyerapan tenaga kerja maksimal dan menjaga stabilitas harga.
Di samping itu, Ketua The Fed Kevin Warsh memperingatkan inflasi masih terlalu tinggi setelah terus berada di atas target 2 persen yang ditetapkan bank sentral selama hampir enam tahun. Ia menegaskan kesiapan untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna memulihkan stabilitas harga.
“Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh arus modal asing, kebutuhan dolar di dalam negeri, serta rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) AS yang dijadwalkan malam ini,” ungkap Amru.
Pembukaan Rupiah
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (29/10/2026). Penguatan rupiah terjadi setelah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya di tengah perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter berikutnya.
Rupiah dibuka menguat 43 poin atau 0,24 persen ke level 18.141 per dolar AS. Posisi tersebut lebih kuat dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 18.184 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pergerakan rupiah pada Kamis dipengaruhi keputusan The Fed mempertahankan suku bunga dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026.
“Pada FOMC (Federal Open Market Committee) Oktober 2026, The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 3,75–4,00 persen, sesuai dengan ekspektasi konsensus,” ucap Josua dikutip Antara.
Menurut Josua, The Fed kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga. Meski demikian, keputusan tersebut tidak sepenuhnya bulat.
Dua anggota FOMC, yakni Gubernur Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack, menyampaikan perbedaan pendapat (dissent). Keduanya memilih menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).
Prediksi Rupiah
Selain mempertahankan suku bunga, The Fed mengumumkan pengurangan jumlah pertemuan kebijakan pada tahun depan yang menjadi forum bagi para anggota untuk memberikan suara terkait suku bunga acuan.
Josua menuturkan, bank sentral AS belum memberikan sinyal yang tegas mengenai kemungkinan perubahan suku bunga pada pertemuan Desember 2026. Keputusan berikutnya akan bergantung pada perkembangan data ekonomi, terutama yang berkaitan dengan inflasi.
“The Fed tidak memberikan indikasi yang jelas mengenai kemungkinan kenaikan kembali suku bunga kebijakan pada Desember 2026, dengan menekankan bahwa keputusan kebijakan ke depan akan bergantung pada perkembangan data dan diarahkan untuk membawa inflasi kembali ke target 2 persen,” ungkap Josua.
Sikap The Fed tersebut membuat pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan indikator ekonomi AS untuk memperkirakan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Bagi rupiah, keputusan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan nilai tukar. Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan sentimen investor di pasar keuangan.
Berdasarkan perkembangan tersebut, Josua memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang 18.100 per dolar AS hingga 18.225 per dolar AS.