Liputan6.com, Jakarta - AC Milan menelan kekalahan 2-4 dari Bologna pada pekan kesembilan Serie A di San Siro, Kamis (29/10/2026) dini hari WIB. Rossoneri gagal mempertahankan keunggulan setelah kebobolan tiga gol pada babak kedua.
Milan sempat tertinggal lebih dahulu lewat gol Samuel Mbangula sebelum Alphadjo Cisse mencetak dua gol untuk membalikkan keadaan. Namun, Bologna bangkit setelah jeda dan mengunci kemenangan melalui gol bunuh diri serta dua gol tambahan Mbangula.
Advertisement
Pelatih AC Milan, Ruben Amorim, menilai kelelahan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penurunan performa timnya. Kondisi tersebut diperburuk oleh keterbatasan pemain akibat cedera yang menghambat rotasi skuad.
Milan tidak diperkuat tujuh pemain, yakni Mario Gila, Matteo Gabbia, Adrien Rabiot, Alexis Saelemaekers, Ruben Loftus-Cheek, Samu Chukwueze, dan Diego Moreira. Situasi ini membuat Amorim kesulitan menjaga intensitas permainan sepanjang pertandingan.
Kelelahan Membuat Performa Milan Merosot
Amorim menilai jadwal pertandingan yang padat dan banyaknya pemain absen mulai berdampak pada energi tim. Milan kesulitan mempertahankan tekanan terhadap Bologna setelah tampil lebih baik menjelang akhir babak pertama.
“Terlalu banyak pertandingan, banyak pemain yang absen, dan kelelahan pun mulai terasa. Kami bahkan sempat memiliki peluang untuk menyamakan kedudukan melalui Camarda, tetapi kami gagal memanfaatkannya," kata Amorim kepada DAZN.
Penurunan performa Milan terlihat jelas setelah turun minum ketika mereka gagal membendung kebangkitan Bologna. Gol bunuh diri menyamakan kedudukan sebelum Mbangula kembali membawa tim tamu unggul dan melengkapi hat-trick pada penghujung laga.
Amorim menegaskan bahwa kekalahan tersebut bukan semata-mata akibat masalah cedera. Menurutnya, Milan kehilangan energi untuk menjalankan permainan secara konsisten selama 90 menit.
Krisis Cedera Menghambat Rotasi Pemain
Absennya tujuh pemain membuat pilihan Amorim untuk melakukan rotasi menjadi terbatas. Kondisi ini menyulitkan Milan mempertahankan intensitas pressing dan gaya permainan yang diinginkan pelatih.
“Saya tidak mengatakan kami kalah karena cedera. Menurut saya, kami kekurangan energi. Karena kami tidak bisa sering melakukan rotasi pemain, sulit bagi kami untuk terus menekan lawan dan memainkan gaya sepak bola kami secara konsisten," kata Amorim.
Pelatih asal Portugal itu juga menekankan bahwa membangun gaya bermain baru membutuhkan waktu. Ia menilai tim tidak bisa langsung tampil konsisten sepanjang pertandingan setelah dirinya baru menangani skuad selama dua bulan.
“Lagipula, seorang pelatih yang baru bertugas selama dua bulan tidak bisa langsung mengharapkan seluruh tim untuk memainkan gaya permainan yang berbeda selama sembilan puluh menit penuh; hal ini harus bisa dipahami," tegas pelatih asal Portugal.