Menyusuri Ruang Bersejarah yang Mengabadikan Jejak Bung Karno di Makam Imam Bukhari

Arsip langka Bung Karno, kisah masa kecil Imam Bukhari, hingga keramahan warga Uzbekistan mewarnai perjalanan ziarah pelancong Indonesia.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 29 Oktober 2026, 17:00 WIB
Soekarno Hall di kompleks Makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan. (dok. FAO Tour)

Liputan6.com, Jakarta - Ada perjalanan yang tak sekadar membawa seseorang mengunjungi tempat baru, tapi juga mempertemukannya dengan sejarah, spiritualitas, dan rasa cinta terhadap Tanah Air, bahkan ketika berjarak ribuan kilometer dari rumah.

Pengalaman itu dirasakan rombongan wisatawan Indonesia saat menyambangi kompleks Makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan, tempat warisan keilmuan Islam bertemu dengan jejak presiden pertama RI, Soekarno.

Nama Imam Bukhari dikenal luas melalui Sahih al-Bukhari, kitab hadis yang menjadi salah satu rujukan utama umat Islam Sunni. Makam ulama kelahiran Bukhara ini menjadi tujuan ziarah umat Islam dari berbagai negara.

Bagi pengunjung Indonesia, kompleks tersebut memiliki daya tarik tambahan melalui kisah Bung Karno yang dikaitkan dengan pemugaran makam sang perawi hadis.

Soekarno Hall di kompleks Makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan. (dok. FAO Tour)

"Begitu otoritas dan warga lokal tahu kami dari Indonesia, wajah mereka langsung semringah. Mereka masih mengingat jelas jasa Bung Karno yang dulu memprakarsai pemugaran makam ini," tutur Baim (31), salah seorang peserta perjalanan bersama FAO Tour, dalam keterangan pada Lifestyle Liputan6.com, Kamis (29/10/2026).

Kisah Bung Karno di Uzbekistan menjadi bagian dari ingatan sejarah yang menghubungkan kedua negara. Kunjungan kenegaraan Soekarno ke wilayah tersebut pada 1956 disebut menjadi salah satu momen penting yang berkaitan dengan perhatian terhadap makam Imam Bukhari.

Narasi mengenai permintaan Bung Karno pada Presiden Uni Soviet untuk menemukan makam tersebut telah lama beredar. Pada 4 September 2026, bertepatan dengan peringatan 70 tahun kunjungan yang disebut berlangsung pada 1956, Imam Bukhari International Scientific Research Center (IBSRC) meresmikan Soekarno Hall.

Daya Tarik Utama

Kompleks Makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan. (dok. FAO Tour)

Ruang memorial ini menghadirkan dokumentasi perjalanan Bung Karno di Uzbekistan, mulai dari foto-foto langka, memoar, tulisan tangan, hingga arsip digital peninggalan Uni Soviet yang berkaitan dengan kunjungannya.

Sementara itu, pusara inti Imam Bukhari tetap menjadi daya tarik utama bagi para peziarah. Baim semula membayangkan makam ulama besar itu berdiri megah dengan bangunan monumental dan nisan menjulang.

Kenyataan yang dijumpainya justru jauh dari bayangan tersebut. Pusara itu tampak bersahaja, hanya berupa gundukan tanah dengan batu nisan kecil. Kesederhanaan itu justru menghadirkan suasana hening yang membuat pengalaman ziarah terasa lebih khusyuk.

Bagi Baim, perjalanan ini bermula dari keinginan menjelajahi destinasi antimainstream di luar negara-negara Eropa Barat. Kunjungan ke kompleks Makam Imam Bukhari ternyata memberinya pengalaman yang jauh melampaui rencana awal.

"Ketika bisa berkunjung ke kompleks Makam Imam Bukhari, terlebih area inti dan Soekarno Hall, sungguh pengalaman yang tiada duanya," tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya