Rupiah Merosot ke 18.184 terhadap Dolar AS, Serangan di Arab Saudi Jadi Pemicu

Rupiah makin tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, (28/10/2026) didorong sejumlah sentimen, salah satunya serangan di Arab Saudi.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 28 Oktober 2026, 18:30 WIB
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum mampu bangkit pada penutupan perdagangan Rabu, (28/10/2026). Bahkan rupiah mendekati 18.200 per dolar AS. Analis menilai, tekanan rupiah dipicu serangan Ansarullah Yaman (Houthi) terhadap kilang minyak terbesar di Arab Saudi.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu pekan ini turun 28 poin atau 0,15% menjadi 18.184 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.156 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah ke level Rp 18.183 per dolar AS dari sebelumnya Rp 18.139 per dolar AS.

“Pihak berwenang Arab Saudi tidak segera mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas dengan kapasitas 550 ribu barel per hari itu,” ujar dia mengutip Antara.

Sebelumnya, Ansarullah juga menyerang stasiun pemompaan di sepanjang jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi yang memungkinkan minyak mentah dialirkan tanpa harus melewati Selat Hormuz, serta Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

Serangan-serangan tersebut dinyatakan memicu kekhawatiran mengenai keamanan rute ekspor alternatif, terutama di saat pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital bagi pasokan minyak global masih sangat terganggu akibat konflik yang lebih luas yang melibatkan Iran.

Di sisi lain, delegasi Arab Saudi, Turki, dan Pakistan telah mengadakan pembicaraan dengan para pejabat Iran di Teheran. Mereka sepakat untuk melanjutkan diskusi yang bertujuan memperkuat perdamaian dan keamanan di kawasan, walaupun belum mendapatkan hasil yang di inginkan.

Para investor juga disebut tengah mencermati keputusan kebijakan Federal Reserve AS hari ini untuk mendapatkan sinyal mengenai prospek ekonomi dan permintaan bahan bakar.

"Harga minyak yang lebih tinggi dapat menambah tekanan inflasi, yang berpotensi mempersulit pilihan kebijakan bank sentral tersebut," kata Ibrahim.

Rupiah Hari Ini Makin Tertekan ke 18.174 terhadap Dolar AS

Petugas menunjukkan dolar AS dan rupiah (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu, (28/10/2026). Apa saja yang mempengaruhi rupiah hari ini?

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan turun 18 poin atau 0,10% menjadi 18.174 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 18.156 per dolar AS.

Ekonom BCA David Sumual menuturkan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kejutan dari penyedia indeks global MSCI. Selain itu,harga minyak dunia yang masih tinggi berdampak terhadap pasar obligasi. “Harga minyak masih cenderung tinggi sehingga pasar obligasi domestik tampak khawatir dampaknya pada harga obligasi dan tekanannya terhadap kurs rupiah,” ujar David saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, Ekonom Bank Danamon, Faiz Irman menuturkan, rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan. Dalam jangka pendek, pihaknya memprediksi rupiah bergerak dengan rentang Rp 18.100-Rp 18.300.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya