Liputan6.com, Jakarta - Batik terus menemukan cara untuk tetap relevan di tengah perkembangan tren fesyen. Salah satunya melalui perpaduan motif tradisional dan desain modern yang dihadirkan Farra Santoso dan Hazel Indra, dua pelajar asal Jakarta, lewat Bumi Brew yang mereka dirikan pada 2024.
Usaha sosial ini mengembangkan produk batik melalui kolaborasi dengan 30 perajin lokal, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas. Mereka juga menyediakan layanan pembuatan busana sesuai pesanan agar pelanggan dapat memilih desain berdasarkan gaya dan kebutuhan masing-masing.
Advertisement
"Ke depannya, kami ingin memperluas jaringan penjualan Bumi Brew ke pasar internasional agar batik Indonesia semakin dikenal dunia dan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi perajin lokal," kata Farra dalam keterangan pada Lifestyle Liputan6.com, Rabu, 28 Oktober 2026.
Ia mengembangkan gagasan tersebut setelah mengunjungi perajin batik di Wonosobo, Jawa Tengah. Dalam kunjungan itu, ia bertemu Diya dan suaminya, pasangan perajin yang memperkenalkannya pada proses pembuatan batik tradisional.
Pembuatan selembar kain batik membutuhkan ketelitian dan waktu. Proses pewarnaan melibatkan beberapa kali pencelupan dan dapat berlangsung hingga dua minggu.Diya dan suaminya juga bereksperimen menggunakan pewarna alami dari ampas kopi.
Mereka melakukan percobaan berulang kali untuk memperoleh warna dan kualitas kain sesuai standar yang diinginkan. Farra melihat para perajin menghadapi tantangan ketika memasarkan produk buatan tangan di tengah persaingan dengan produk massal yang dijual lebih murah.
Menjangkau Konsumen Muda
Ia kemudian mengembangkan Bumi Brew untuk membantu memperluas jangkauan pasar sekaligus menghadirkan batik dalam desain yang mengikuti perkembangan fesyen. Bagi mereka, pengembangan desain menjadi salah satu cara untuk menjangkau konsumen muda.
Bumi Brew menghadirkan koleksi dengan sentuhan modern tanpa meninggalkan karakter motif tradisional, serta menyediakan layanan pembuatan busana sesuai pesanan agar pelanggan dapat menyesuaikan desain dengan gaya dan kebutuhan mereka.
Selain bekerja sama dengan perajin batik, bisnis sosial ini melibatkan tenaga jahit dalam proses produksi busana. Salah satu mitranya adalah Nona, penjahit tunarungu yang mengalami penurunan pesanan secara tajam sejak pandemi COVID-19.
Kini, ia memperoleh tambahan pesanan untuk menjahit busana batik berdasarkan permintaan pelanggan. Bumi Brew juga mengembangkan produk dengan pendekatan ramah lingkungan.
Sebelum Batik
Sebelum berfokus pada batik, usaha ini memanfaatkan ampas kopi sebagai bahan baku lilin, sabun, dan cangkir. Bahan tersebut dikumpulkan melalui kerja sama dengan sejumlah kafe di Jakarta.
Pemanfaatan ampas kopi menjadi bagian dari pendekatan ekonomi sirkular yang dijalankan Bumi Brew. Usaha ini mengolah bahan sisa menjadi produk bernilai guna sekaligus menawarkan alternatif terhadap penggunaan plastik sekali pakai.
Pihaknya turut menjalankan kegiatan sosial melalui penggalangan dana bagi yayasan yang mendampingi anak jalanan. Mereka menjual minuman di berbagai bazar untuk mendukung kegiatan tersebut.
Hasil penjualan juga digunakan untuk menyelenggarakan program literasi keuangan dan kewirausahaan bersama Bina Matahari Bangsa dan Yayasan Mahkota Kasih Insani. Dalam kegiatan itu, anak-anak mempelajari cara mengelola uang, membiasakan diri menabung, dan mengembangkan ide usaha.