Liputan6.com, Jakarta - Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana, menilai pelemahan rupiah hingga menembus Rp 18.164 per dolar AS pada Selasa, 27 Oktober 2026 menjadi tekanan tambahan bagi IHSG di tengah keluarnya dana asing dan ketidakpastian terkait evaluasi MSCI.
"Menurut saya, pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada daya beli dan biaya impor, tetapi juga menurunkan imbal hasil investasi asing ketika dikonversikan kembali ke dolar AS," kata Hendra kepada Liputan6.com, Rabu (28/10/2026).
Advertisement
Hendra menyebut kondisi ini dapat mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia, terutama ketika risiko pasar dinilai meningkat.
Disamping itu, emiten yang memiliki utang dolar AS dan bergantung pada bahan baku impor juga berpotensi menghadapi kenaikan biaya. Jika tekanan nilai tukar berlanjut, risiko inflasi dan tertahannya pelonggaran suku bunga dapat semakin membebani pasar saham.
"Karena itu, pergerakan rupiah dan IHSG saat ini saling berkaitan, terutama melalui perubahan persepsi risiko dan arus modal asing," ujarnya.
Aksi Jual Investor Asing
Menurut Hendra, tekanan rupiah dan IHSG tersebut tercermin dari aksi jual investor asing yang pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026 mencapai Rp 708 miliar, sehingga akumulasi net sell di pasar reguler sepanjang tahun berjalan mencapai Rp 124,9 triliun.
"Angka ini menunjukkan bahwa tantangan pasar bukan sekadar koreksi harga, melainkan juga persoalan kepercayaan terhadap transparansi, tata kelola, dan kualitas pasar modal Indonesia," ujarnya.
Jika arus jual berlanjut, saham-saham berkapitalisasi besar berpotensi menjadi sumber tekanan utama bagi IHSG. Investor domestik memang dapat menyerap sebagian penjualan asing, tetapi kapasitasnya tidak terbatas.
Oleh karena itu, pemulihan pasar tidak cukup hanya mengandalkan daya beli investor ritel, melainkan membutuhkan kepastian kebijakan, keterbukaan informasi, serta penegakan aturan yang konsisten.
Penutupan IHSG 27 Oktober 2026
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah melemah hingga meninggalkan posisi 5.300 pada perdagangan saham Selasa, (27/10/2026). Koreksi IHSG hari ini di tengah mayoritas sektor saham yang tertekan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di kisaran 18.155.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini terpangkas 1,99% menjadi 5.266,13. Indeks saham LQ45 turun 1,69% menjadi 533,02. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
Mayoritas sektor saham melemah kecuali sektor saham industri naik 1,43%. Sementara itu, sektor saham energi tergelincir 3,33%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham basic merosot 3,32%, sektor saham consumer nonsiklikal susut 0,49% dan sektor saham consumer siklikal turun 1,36%.
Lalu sektor saham kesehatan terpangkas melemah 1,5%, sektor saham keuangan tergelincir 1,11%, dan sektor saham properti terperosok 1,55%. Selain itu, sektor saham teknologi tergelincir 3,16%, sektor saham infrastruktur melemah 2,95% dan sektor saham transportasi terpangkas 2,83%.