Liputan6.com, Jakarta - Persija Jakarta menambah dimensi permainan di BRI Super League 2026/2027 dengan memperluas fungsi Rizky Ridho. Kapten berusia 24 tahun itu tak lagi semata menjadi tumpuan di jantung pertahanan, melainkan juga bergerak ke lini tengah mengikuti kebutuhan taktik Shin Tae-yong.
Perubahan peran ini berjalan seiring penyesuaian formasi. Jika pada awal musim Ridho beroperasi dalam skema tiga bek bersama Radovan Pankov dan Denis Kolinger, kini Persija beralih ke empat pemain belakang dan membuka ruang bagi Ridho untuk naik-turun antarlini.
Advertisement
Dengan pola tersebut, Ridho bisa kembali mengisi barisan bek untuk menjaga keseimbangan, namun juga hadir di area tengah ketika tim memerlukan tambahan pemain dalam penguasaan bola serta inisiasi serangan dari bawah. Pergerakan fleksibel ini memberi Persija opsi mengubah struktur tanpa selalu melakukan pergantian pemain.
Ridho Serbabisa di Mata Shin Tae-yong
Shin Tae-yong menilai kemampuan multiposisi Ridho sebagai salah satu keunggulan yang bisa diandalkan. Karakter itu dimanfaatkan untuk menyesuaikan pendekatan permainan Macan Kemayoran terhadap situasi pertandingan.
“Terkait Ridho, yang saya nilai adalah karena dia adalah pemain serba bisa di lini pertahanan. Di mana pun dia bisa mengeluarkan kemampuan yang dimilikinya dan memberikan yang terbaik di bagian yang bisa dia lakukan," ujar Shin.
"Terkadang dia bisa menjadi stopper, terkadang bisa menjadi pemain bertahan. Karena saya sangat menghargai kemampuan individu yang tinggi, saya menggunakan dan mengandalkan cara ini agar selalu bisa disesuaikan dengan kebutuhan seluruh tim,” lanjut Shin Tae-yong.
Siap Menjalankan Peran Ganda
Tugas baru membuat Ridho perlu memahami lebih dari satu tanggung jawab selama pertandingan—mulai dari membaca pergerakan lawan dan menjaga posisi, hingga memastikan sirkulasi bola tetap lancar saat ia ditempatkan di area tengah.
Ia menegaskan siap menjalankan instruksi yang diberikan Shin Tae-yong. Ridho juga berinisiatif mempelajari karakter permainan gelandang Eropa sebagai bagian dari proses adaptasinya.
“Saya tentunya mau ditempatkan di mana pun. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mendapatkan permainan yang bagus dan sesuai dengan plan beliau. Tentunya ketika saya ditunjuk bermain sebagai gelandang, saya pelajari juga cara main gelandang di Eropa, bagaimana cara bermainnya agar sesuai dengan beliau. Jadi, mau bagaimana pun, kalau saya tidak mau, kan, saya tidak main. Jadi, ya harus mau,” ucap Ridho.