Liputan6.com, Jakarta - PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) membukukan laba bersih Rp 181 miliar pada semester I 2026, naik 69% dari Rp 107 miliar tahun lalu. Kenaikan itu terjadi saat pasar saham domestik tertekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 38,38% secara year-to-date (YtD) hingga 21 Oktober 2026.
Sementara, pendapatan asuransi perseroan naik 9% menjadi Rp 1,03 triliun, sedangkan beban jasa asuransi turun 1% menjadi Rp 993 miliar. Return on equity (ROE) naik dari 1,29% menjadi 2,2%.
Advertisement
Presiden Direktur MSIG Life Wianto Chen merinci penyebab kenaikan laba. "Salah satunya tadi adalah profitabilitas dari product mix kita semakin membaik," ujarnya dalam MSIG Life Public Expose di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Faktor lainnya adalah repricing asuransi kesehatan, peningkatan renewal, dan kontribusi hasil investasi. Hasil investasi non-unit link tercatat naik 8%.
Direktur MSIG Life Eiji Takahashi menyebut profitabilitas produk meningkat berkat disiplin underwriting. "Peningkatan ini merupakan hasil dari proses seleksi risiko dan penetapan premi yang diterapkan secara disiplin," ujar Eiji.
Rasio klaim kesehatan dan kematian turun 8 poin. Wianto menegaskan, "Secara keseluruhan premi yang kita terima masih lebih tinggi daripada klaim yang dibayar."
Ia menyebut loss ratio asuransi individu 92%, sedangkan asuransi kumpulan 'lebih sehat', yakni sekitar 85%.
Soal usulan MSCI agar pasar saham Indonesia berstatus standalone market, Eiji menyebut alokasi ke saham domestik tergolong kecil. Namun, dampaknya tetap terasa pada laba semester I 2026 dan dipantau ketat.
Penempatan Aset
"Meskipun ada kerugian dari sisi domestik, tetap ada sisi profit dari global. Sehingga dapat menyeimbangkan loss maupun profit perusahaan," ujar Eiji.
Untuk dana perusahaan, Wianto menyebut perseroan sudah menambah cash position dan diversifikasi, termasuk mempertimbangkan offshore. Dana nasabah ditempatkan pada aset stabil seperti government bonds.
Wianto juga mengungkap, dampak pada dana investasi perusahaan tidak signifikan. "Kurang lebih pun cuma ada Rp 200 miliar daripada Rp 7 triliun lebih dana kita," ujarnya.
Dari sisi permodalan, ekuitas perseroan Rp 8,19 triliun. Rasio solvabilitas (risk based capital/RBC) berada di level 1.381,6%, jauh di atas batas minimum regulator sebesar 120%.
Soal ROE yang baru 2,2%, Wianto menunjuk saldo contractual service margin (CSM) yang naik 8% menjadi Rp 913 miliar. "Secara jangka panjang, profitabilitas perusahaan dapat dilihat dari pertumbuhan CSM-nya," katanya.