Liputan6.com, Jakarta - Tren anti-aging semakin mengarah pada pemeliharaan kualitas kulit dalam jangka panjang. Prosedur estetika tidak lagi hanya berfokus pada perubahan volume atau bentuk wajah, tapi juga pada upaya menjaga kekencangan, elastisitas, dan tekstur kulit.
Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian, yakni collagen stimulator, perawatan injeksi yang merangsang pembentukan kolagen baru di dalam jaringan. Dokter estetika BMDERMA Clinic, dr. Latisha Lubianca, M.Biomed (AAM), menjelaskan pertimbangannya dalam memilih produk untuk perawatan pasien.
Advertisement
"Sebagai praktisi medis, aspek keamanan sebuah produk yang berizin resmi, didukung jurnal dan penelitian ilmiah, selalu menjadi prioritas tertinggi saya sebelum merekomendasikan sebuah treatment maupun produk pada pasien," katanya pada Lifestyle Liputan6.com, Selasa (27/10/2026).
Kolagen tipe I dan III berperan dalam mempertahankan struktur kulit, sedangkan elastin membantu kulit kembali ke bentuk semula setelah mengalami peregangan. Seiring bertambahnya usia, produksi dan kualitas komponen tersebut mengalami perubahan yang dapat memengaruhi kekencangan serta elastisitas kulit.
Penurunan kualitas jaringan dapat ditandai dengan munculnya garis halus, kerutan, dan kulit yang mulai kendur. Paparan sinar ultraviolet, kebiasaan merokok, serta faktor gaya hidup turut memengaruhi proses penuaan kulit.
Perawatan topikal membantu menjaga kelembapan dan menangani sejumlah masalah pada permukaan kulit. Efektivitas bahan aktif bergantung pada formulasi, konsentrasi, dan karakteristik masing-masing bahan.
Untuk menangani perubahan struktur kulit yang lebih dalam, dokter dapat mempertimbangkan prosedur estetika berdasarkan kondisi pasien. Collagen stimulator bekerja dengan merangsang respons jaringan untuk membentuk kolagen baru.
Berbeda dari Dermal Filler
Mekanisme ini berbeda dari dermal filler berbahan hyaluronic acid yang umumnya digunakan untuk menambah atau mengembalikan volume pada area tertentu. Hasil stimulator kolagen berkembang secara bertahap, mengikuti respons biologis tubuh setelah penyuntikan.
Salah satu produk dalam kategori ini adalah JULAINE Collagen Stimulator yang menggunakan poly-L-lactic acid (PLLA) melalui teknologi LaSynPro. Produk tersebut dipasarkan untuk mendukung pendekatan regeneratif dalam perawatan estetika.
Karakteristik partikel menjadi salah satu pembeda JULAINE dari PLLA konvensional. Bahan itu diklaim memiliki partikel dengan permukaan rata dan bentuk seragam. Produk ini juga disebut dapat tercampur secara merata saat diencerkan menggunakan sterile water maupun saline water.
Tanpa Penawar Instan
Berbeda dari filler berbasis hyaluronic acid yang memiliki penawar berupa hyaluronidase, collagen stimulator tidak memiliki penawar instan. Efek samping yang dapat muncul meliputi pembengkakan ringan, lebam, dan rasa tidak nyaman yang biasanya mereda dalam beberapa hari.
Komplikasi lain yang disebutkan meliputi nodul, infeksi, dan eritema persisten. JULAINE ditujukan bagi orang berusia 30 tahun ke atas yang mengalami tanda penuaan awal hingga sedang, seperti kulit kendur, garis halus, penurunan elastisitas, dan tekstur kulit tidak merata.
Perawatan ini berfokus pada perbaikan kualitas kulit secara bertahap tanpa mengubah bentuk wajah secara ekstrem.