Liputan6.com, Jakarta - Proliga merupakan tahta tertinggi kompetisi voli Indonesia yang pertama kali berlangsung pada tahun 2002. Ajang tersebut menjadi wadah yang menyatukan para penikmat voli lokal untuk menyuarakan dukungan bagi tim kebanggaan mereka masing-masing.
Data Indeks Pembangunan Olahraga Kemenpora tahun 2024 menunjukkan bahwa voli menduduki peringkat ke-3 sebagai olahraga dengan tingkat partisipasi masyarakat tertinggi, dengan angka 16,2 persen.
Advertisement
Selama lebih dari 20 tahun, Proliga telah mengalami sejumlah perubahan regulasi yang berkelanjutan. Semua itu dilakukan oleh Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) untuk meningkatkan kualitas atlet nasional demi mengharumkan nama bangsa.
Melihat ke belakang, akar sejarah kompetisi kasta tertinggi voli Indonesia tersebut sudah terbentuk jauh sebelum gelaran itu resmi bergulir. Fakta ini menunjukkan bahwa minat masyarakat lokal terhadap olahraga voli tidak muncul secara tiba-tiba.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan voli di Indonesia membuat Proliga semakin dikenal luas oleh masyarakat. Kendati demikian, terdapat sejumlah seluk-beluk unik yang perlu diketahui untuk menjadikan gelaran ini semakin menarik untuk disaksikan.
Inilah 3 fakta tentang ajang Proliga, dari sejarah masa lalu hingga era modern, yang perlu diketahui khalayak luas.
Akar Sejarah Sejak Akhir 90-an
Sejarah mencatat bahwa musim perdana kompetisi Proliga berlangsung dari 1 Februari hingga 7 April 2002. Kala itu, Bandung Tectona keluar sebagai juara kategori turnamen putra, sedangkan Jakarta Monas Bank DKI dinobatkan sebagai kampiun kompetisi putri.
Satu hal yang belum banyak diketahui masyarakat adalah bahwa Proliga sudah mengalami perkembangan sebelum menjadi kompetisi profesional sejak tahun 1999.
Awalnya, ajang tersebut merupakan kompetisi bola voli semiprofesional. 3 tahun berselang, penyesuaian regulasi dan level kompetisi yang dilakukan membuat Proliga akhirnya menjadi kasta tertinggi voli nasional.
Klub Tersukses Tak Menjamin Dominasi
Kompetisi putra dan putri Proliga menghadirkan 2 klub berbeda dengan raihan tersukses sepanjang sejarah. Surabaya Samator tercatat sebagai tim dengan gelar juara putra terbanyak, yaitu 7 piala. Lalu, Jakarta Electric PLN meratui sektor putri dengan torehan 6 trofi.
Meskipun Jakarta Electric PLN sempat meraih juara dalam 3 edisi beruntun, gelar terakhir mereka hadir pada tahun 2017 atau 9 tahun lalu. Rekor beruntun Surabaya Samator sendiri hanya terjadi sekali, yaitu pada tahun 2018–2019.