Sampah Jakarta ke Bantargebang Turun Jadi 4.000 Ton per Hari, Ini Sebabnya

Periode 2024-2025, kiriman sampah Jakarta ke Bantargebang 7.000-an ton per hari.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 26 Oktober 2026, 14:41 WIB
Insiden serupa pernah terjadi 7 November 2025, ketika itu longsoran sampah menimbun beberapa truk yang sedang mengantre. Pada 31 Desember 2025, gunungan sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, juga sempat ambruk. Saat itu, longsoran menimpa truk yang melintas, tiga kendaraan pengangkut terperosok ke sungai di wilayah Sumur Batu, Bekasi. Tampak foto udara menunjukkan tim penyelamat menggunakan alat berat untuk mencari korban longsor di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Senin 9 Maret 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut volume sampah yang dikirim dari wilayah ibu kota ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang kini berada di kisaran 4.000 ton per hari.

Pramono menyampaikan pengurangan tersebut dilakukan melalui penguatan pemilahan dan pengolahan sampah di sejumlah fasilitas di Jakarta.

“Sekarang ini yang ke Bantargebang itu 4.000-an,” kata Pramono di Balairung, Balai Kota DKI Jakarta, Senin (26/10/2026).

Pramono menjelaskan, Pemprov DKI Jakarta terus mengembangkan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R) untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Bantargebang. Dia menyebut saat ini terdapat hampir 31 TPS 3R di Jakarta.

“Yang tadinya beberapa TPS 3R produksinya 10 ton, sekarang rata-rata sudah 50 ton,” ujar dia.

.

Pengoperasian RDF Rorotan Berdampak

Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Rorotan, Jakarta Utara bakal mulai beroperasi pada 15 Februari 2025. (Winda Nelfira).

Selain TPS 3R, fasilitas pengolahan sampah di Rorotan turut menjadi bagian dari upaya mengurangi beban Bantargebang. Pramono menyebut fasilitas tersebut telah beroperasi dengan volume pengolahan sekitar 1.000 per hari.

“Dalam waktu dekat ini, Jakarta dan Bekasi akan mempunyai pembangkit listrik tenaga sampah,” kata Pramono.

Pemprov DKI juga tengah memfinalisasi kerja sama dengan Danantara untuk membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantargebang. Fasilitas tersebut direncanakan berada di dekat TPST Bantargebang yang dikelola Pemprov DKI Jakarta.

Selain Bantargebang, Pramono menyebut bahwa pengembangan fasilitas serupa saat ini juga direncanakan di Sunter dan Tanjungan. Dia berharap berbagai langkah tersebut dapat membantu Jakarta mengatasi persoalan sampah secara bertahap.

“Harapan saya, 2028–2029 paling lambat neraca sampah kita paling tidak sudah seimbang, bahkan kalau bisa negatif,” kata Pramono.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya