Putin Sebut Tuduhan Rusia Picu Demo di Eropa Sangat Berlebihan

Dari Prancis hingga Portugal, demonstrasi meluas di Eropa dengan tuntutan perbaikan pendidikan, kenaikan upah, dan biaya hidup yang lebih terjangkau.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 26 Oktober 2026, 14:05 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin pada 19 Desember 2024. (Dok. AP/Alexander Zemlianichenko)

Liputan6.com, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin membantah tuduhan bahwa negaranya memicu demo besar-besaran di sejumlah kota utama Eropa. Ia menilai tuduhan tersebut sangat berlebihan.

Dalam wawancara dengan lembaga penyiaran VGTRK yang dipublikasikan pada Minggu (25/10/2026), Putin mengatakan bahwa reaksi awal di Eropa justru menyalahkan Amerika Serikat (AS), bukan Rusia.

"Awalnya muncul berbagai tuduhan bahwa peristiwa yang terjadi di Eropa merupakan akibat dari tindakan pemerintahan AS saat ini dan dukungannya terhadap partai serta gerakan sayap kanan," kata Putin seperti dilaporkan Anadolu.

Menurut Putin, reaksi tersebut aneh dan di luar dugaannya. Ia tidak menyangka para pemimpin Eropa akan menyalahkan AS, yang selama ini menjadi sekutu utama sekaligus pelindung mereka dalam bidang militer.

"Namun, mereka segera berubah sikap dan kembali melontarkan tuduhan yang biasa mereka tujukan kepada Rusia," ujarnya.

Putin menegaskan bahwa tuduhan semacam itu bukan hal baru bagi negaranya.

"Tidak ada yang mengejutkan di sini. Seperti diketahui, Rusia selama ini selalu dituduh melakukan segala macam kesalahan. Namun, sekarang saya siap memberikan tanggapan," tegasnya.

Mengenai tuduhan keterlibatan Rusia dalam demonstrasi di Eropa, Putin mengatakan bahwa masyarakat di negara-negara tersebut pun dapat melihat betapa berlebihannya tuduhan itu.

"Reaksi pertama saya ketika melihat tuduhan itu adalah terkejut. Sebab, mengatakan bahwa kami memicu demonstrasi besar-besaran di kota-kota utama Eropa merupakan tuduhan yang sangat berlebihan. Menurut saya, hal itu jelas bagi masyarakat biasa di negara-negara Eropa," tuturnya.

"Meski demikian, mereka kini kembali menggunakan cara lama yang sudah berulang kali ditempuh, dan kita melihat sejumlah tuduhan terhadap Rusia."

Putin menilai sikap tersebut menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuan sebagian pemimpin Eropa untuk bertanggung jawab atas situasi yang sedang terjadi.

"Ini buruk. Mengapa? Karena itu berarti mereka tidak menganalisis peristiwa yang terjadi, tidak mencari penyebabnya, tetapi hanya mengalihkan kesalahan kepada pihak lain. Awalnya AS, sekarang Rusia," ungkapnya.

Sementara itu, demonstrasi mahasiswa telah berlangsung di berbagai wilayah Prancis selama beberapa pekan terakhir.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot, dalam konferensi yang diselenggarakan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 21 Oktober, menuding para demonstran menggunakan narasi yang dianggap bermusuhan dan berasal dari Rusia, China, Iran, serta komunitas pendukung gerakan MAGA (Make America Great Again).

Sebelumnya, pada 19 Oktober, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa tidak ada pihak yang menganggap serius tuduhan semacam itu, yang disebutnya tidak masuk akal.

Adapun Presiden AS Donald Trump menyalahkan migrasi besar-besaran sebagai penyebab gejolak tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya