Liputan6.com, Beograd - Pemimpin Serbia Aleksandar Vucic mengakui kekalahan dalam pemilu parlemen pada Minggu (25/10/2026), setelah partainya menghadapi gerakan oposisi yang didukung mahasiswa.
Kekalahan Vucic terjadi setelah hampir dua tahun Serbia dilanda gelombang demo mahasiswa. Gerakan protes itu bermula dari tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta api di Kota Novi Sad pada 2024 yang menewaskan 16 orang dan memicu kemarahan publik terhadap dugaan korupsi pemerintah.
Advertisement
Vucic, yang sebelumnya mendapat dukungan Presiden Rusia Vladimir Putin, selama ini memegang kendali politik yang nyaris tanpa batas di Serbia, negara yang terletak di kawasan Balkan, Eropa tenggara. Ia berulang kali menuding gerakan mahasiswa sebagai upaya yang didalangi pihak asing untuk menggulingkan pemerintahannya.
Tak lama setelah kekalahan Vucic diumumkan, warga membanjiri jalan-jalan di ibu kota Beograd dan sejumlah kota lainnya di Serbia. Mereka merayakan hasil pemilu dengan penuh kegembiraan.
Warga Beograd, Dragana Kovacevic, mengaku sangat gembira melihat orang-orang saling menyapa dengan senyuman.
"Kami semua sangat bahagia. Akhirnya, kami menjadi negara yang normal dan bebas," ujarnya seperti dilaporkan Associated Press.
Kegembiraan serupa disampaikan Maja Stetic yang mengaku merasa "luar biasa" setelah mengetahui hasil pemilu tersebut.
"Ini berarti kebebasan bagi saya, berarti masa depan baru bagi kami dan anak-anak kami," katanya mengenai berakhirnya kekuasaan Vucic.
Pemilu parlemen Serbia kali ini berlangsung di tengah tingginya partisipasi pemilih dan meningkatnya ketegangan politik. Pemungutan suara tersebut menjadi pertarungan antara Vucic bersama Partai Progresif Serbia (SNS) yang berhaluan kanan dan gerakan oposisi yang didukung mahasiswa.
Gerakan tersebut sebelumnya menuduh pemerintah melakukan korupsi dan melemahkan demokrasi di Serbia. Melalui aksi protes yang berlangsung selama hampir dua tahun, mereka berhasil menghimpun dukungan luas dari masyarakat di berbagai wilayah negara itu.
Sebanyak 6,4 juta warga Serbia memiliki hak suara dalam pemilu untuk memilih anggota parlemen yang berjumlah 250 kursi.
Saat mengakui kekalahannya, Vucic mengatakan bahwa berdasarkan proyeksi partainya, kelompok oposisi Students' List atau Daftar Mahasiswa diperkirakan memperoleh 135 hingga 140 kursi. Sementara itu, SNS diperkirakan meraih sekitar 105 kursi.
Students' List merupakan kelompok kandidat oposisi yang dibentuk melalui gerakan mahasiswa untuk menantang dominasi politik Vucic.
"Sekarang sudah jelas bahwa kami kalah dan Students' List menang," kata Vucic kepada para pendukungnya dalam acara yang digelar SNS pada malam pemilu.
Meski mengakui kekalahan, Vucic menyalahkan media independen Serbia serta dugaan campur tangan sejumlah negara Eropa yang tidak disebutkan namanya atas hasil tersebut. Ia juga menuding adanya keterlibatan kelompok yang disebutnya sebagai "deep state American", istilah yang merujuk pada dugaan jaringan kekuasaan di balik pemerintahan resmi Amerika Serikat.
Perayaan Kemenangan
Menurut Vucic, partainya memperoleh sekitar 1,7 juta suara, sedangkan Students' List meraih sekitar 2,2 juta suara.
Salah satu kandidat Students' List, Radomir Saicic, mengatakan bahwa hasil pemilu tersebut memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar perolehan suara.
"Malam ini bukan hanya tentang hasil pemilu," ujarnya.
"Ini tentang orang-orang yang percaya dan terus berjuang. Ini adalah kemenangan atas rasa takut. Kemenangan ini bukan milik siapa pun secara pribadi, melainkan kemenangan warga. Namun, kemenangan juga membawa tanggung jawab," lanjut Saicic.
Di Beograd, para pendukung Students' List berkeliling menggunakan mobil sambil membunyikan klakson, bernyanyi, berteriak, dan meneriakkan slogan "Aleksandar sudah pergi" yang merujuk pada Vucic.
Massa juga dengan cepat membongkar pagar dan tenda di sebuah taman di pusat Beograd yang selama lebih dari setahun menjadi lokasi perkemahan para pendukung setia Vucic.
Para pendukung Vucic sempat berkumpul di lokasi tersebut pada Minggu sebelum akhirnya meninggalkannya. Salah satu tenda di area perkemahan yang telah ditinggalkan itu kemudian dibakar.
Di tengah situasi tersebut, sekelompok anak muda terlihat melempari iring-iringan mobil polisi dan kendaraan antihuru-hara yang sedang mundur dengan batu.
Vucic mengumumkan hasil pemilu hanya sekitar satu setengah jam setelah tempat pemungutan suara ditutup. Pengumuman itu disampaikan setelah ketegangan terus meningkat sepanjang proses pemungutan suara.
Sebelumnya, polisi dengan perlengkapan antihuru-hara telah menutup akses ke kawasan sekitar kantor komisi pemilihan umum di pusat Beograd.
Sejumlah kendaraan polisi khusus juga terlihat berada di dekat lokasi perkemahan pendukung Vucic. Sementara itu, kelompok-kelompok besar pria berpakaian hitam tampak berkumpul di berbagai titik di seluruh kota.
Protes Antikorupsi Berujung pada Kekalahan Vucic
Dalam pemilu kali ini, Vucic berupaya menjadi perdana menteri Serbia setelah menjabat presiden selama hampir dua periode penuh.
Ia telah mengundurkan diri dari jabatan presiden pada September 2026 untuk memimpin kampanye partainya dalam pemilu parlemen.
Namun, dukungan terhadap pemimpin populis tersebut mulai melemah sejak tragedi yang terjadi di stasiun kereta api Novi Sad pada 2024.
Runtuhnya kanopi beton di stasiun tersebut menewaskan 16 orang dan memicu gelombang demonstrasi yang dipimpin mahasiswa.
Para demonstran menuding korupsi di tingkat pemerintahan, praktik pemberian keuntungan kepada orang-orang yang dekat dengan penguasa, serta penyelewengan dalam proyek renovasi stasiun sebagai penyebab tragedi tersebut.
Aksi protes kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah dan perubahan politik di Serbia.
Dijana Hrka, ibu dari salah satu korban tragedi Novi Sad, turut berada di tengah kerumunan warga yang merayakan hasil pemilu di Beograd.
Sambil menangis, Hrka mengatakan kepada stasiun televisi N1 bahwa dirinya telah lama menantikan momen tersebut.
"Saya telah menunggu momen ini selama dua tahun," ujarnya.
"Sekarang saya berharap mereka semua dimintai pertanggungjawaban," lanjutnya.
Meski menghadapi gelombang demonstrasi, Vucic sebenarnya masih memiliki dukungan yang cukup besar di kalangan pemilih Serbia.
Para pendukungnya memandang Vucic sebagai pemimpin yang mampu membawa Serbia menghadapi berbagai ketidakpastian global.
Citra sebagai pemimpin yang tangguh dan mampu menjaga stabilitas negara itu selama ini dibangun secara cermat melalui media-media arus utama.
Gerakan Mahasiswa Berkampanye untuk Memulihkan Demokrasi
Selama bertahun-tahun, Vucic yang pemerintahannya semakin menunjukkan kecenderungan otoriter berhasil mengungguli kelompok-kelompok oposisi Serbia yang terpecah belah.
Namun, gerakan anak muda yang tidak memiliki satu pemimpin utama terbukti menjadi lawan yang sulit dihadapi.
Gerakan tersebut mampu mengguncang dominasi Vucic dengan cara yang belum pernah terjadi selama 14 tahun sejak partainya pertama kali berkuasa.
Students' List merupakan gerakan politik baru yang dibentuk melalui keterlibatan mahasiswa. Meski demikian, tidak ada mahasiswa yang secara langsung mencalonkan diri sebagai anggota parlemen melalui daftar kandidat tersebut.
Sebagai gantinya, gerakan itu mengusung sejumlah kandidat dari berbagai latar belakang, termasuk tenaga ahli, atlet, petani, dan seniman yang sebagian besar belum dikenal luas oleh masyarakat.
Strategi tersebut dirancang untuk menandingi pola kepemimpinan Vucic yang sangat berpusat pada satu figur, sekaligus membangun kembali rasa kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat Serbia.
Selama kampanye, para mahasiswa menekankan pentingnya upaya bersama yang tidak berpihak pada partai politik tertentu untuk membangun kembali perekonomian Serbia dan memulihkan demokrasinya.
Mereka memanfaatkan semangat anak muda untuk menarik dukungan pemilih yang telah kehilangan kepercayaan terhadap para politisi dalam negeri.
Meski kerap mendapat pemberitaan negatif dari media pro-pemerintah, para mahasiswa tetap berusaha menjangkau masyarakat secara langsung.
Mereka bersepeda dan berjalan kaki melintasi berbagai wilayah Serbia untuk menemui pemilih di daerah pedesaan, yang selama ini menjadi basis dukungan tradisional Vucic.
Kemenangan gerakan mahasiswa Serbia juga mengingatkan pada kekalahan elektoral yang belum lama ini dialami sekutu Vucic di Hongaria.
Di negara tersebut, keterlibatan pemilih muda turut membantu mengakhiri 16 tahun kekuasaan Viktor Orbán, yang dikenal sebagai pemimpin otoriter, dan membuka jalan bagi pemerintahan baru yang lebih berpihak pada Uni Eropa.
Hasil pemilu Serbia diperkirakan turut menjadi perhatian di luar negeri, terutama ketika sejumlah negara Eropa menghadapi gelombang demonstrasi yang melibatkan anak muda dan mahasiswa.
Pemilu Serbia Diawasi Ketat Uni Eropa
Para pemantau memperkirakan tingkat partisipasi pemilih dalam pemilu Serbia dapat mencapai sekitar 70 persen, angka yang belum pernah terlihat sejak tahun 2000.
Sepanjang hari pemungutan suara, antrean panjang terbentuk di berbagai tempat pemungutan suara di Serbia maupun di sejumlah kota di berbagai negara.
Sebagian warga Serbia yang tinggal di luar negeri bahkan harus memberikan suara pada tengah malam karena otoritas menetapkan jam pemungutan suara berdasarkan waktu Serbia, bukan waktu setempat di negara tempat mereka berada.
Sejumlah pemilu Serbia sebelumnya diwarnai berbagai dugaan penyimpangan. Karena itu, Uni Eropa mengawasi secara ketat pelaksanaan pemilu pada Minggu tersebut, mengingat Serbia merupakan salah satu negara kandidat anggota organisasi itu.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyampaikan ucapan selamat kepada gerakan mahasiswa atas kemenangan mereka.
"Rakyat Serbia memberikan suara dalam jumlah yang mencapai rekor untuk menentukan masa depan negara mereka," kata von der Leyen.
Ia juga menegaskan kesiapan Uni Eropa untuk mendukung reformasi di Serbia.
"Kami siap mendukung reformasi dalam penegakan supremasi hukum, kebebasan media, pemberantasan korupsi, dan penguatan lembaga-lembaga demokrasi, serta bekerja sama untuk memajukan masa depan Serbia di Uni Eropa," ujarnya.
Sementara itu, pemantau pemilu independen melaporkan puluhan dugaan pelanggaran selama pemungutan suara pada Minggu.
Pelanggaran yang dilaporkan antara lain pemotretan surat suara, yang mengindikasikan adanya tekanan terhadap pemilih, serta dugaan upaya pembelian suara.
Sebelum pemilu berlangsung, pemantau internasional maupun dalam negeri telah menyampaikan kekhawatiran mengenai keamanan dan keadilan proses pemilihan.
Kekhawatiran itu muncul setelah masa kampanye diwarnai penahanan sejumlah orang, penguasaan pemerintah yang nyaris menyeluruh terhadap media, serta laporan mengenai pengawasan dan serangan siber terhadap para aktivis.
Dalam pemilihan tingkat lokal yang digelar di 10 wilayah administratif Serbia pada awal 2026, terjadi sejumlah serangan kekerasan terhadap jurnalis dan aktivis.
Sementara itu, pemilu parlemen sebelumnya pada 2023 juga diikuti gelombang protes oposisi yang menuding adanya kecurangan dalam proses pemungutan suara.