Bursa Asia Melemah, Investor Menanti Keputusan The Fed

Bursa Asia melemah pada Senin saat investor menanti keputusan bank sentral, data inflasi AS, dan laporan keuangan perusahaan teknologi besar.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 26 Oktober 2026, 08:30 WIB
Nikkei dan Kospi melemah di tengah tekanan saham AI, kenaikan biaya energi, serta ketidakpastian arah suku bunga global.

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia melemah pada awal perdagangan Senin setelah melalui pekan yang bergejolak. Investor bersiap menghadapi laporan keuangan perusahaan teknologi berkapitalisasi besar serta keputusan penting bank sentral yang dapat memengaruhi arah pasar global.

Mengutip The Economic Times, Senin (26/10/2026), indeks Nikkei Jepang turun 0,8% setelah terkoreksi 4% pada pekan sebelumnya. Indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,4%, setelah kehilangan hampir 19% sepanjang bulan ini. Sementara itu, indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang yang dirilis MSCI turun 0,1%.

Tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak menjadi perhatian bank sentral yang menggelar pertemuan pekan ini. Kenaikan suku bunga diperkirakan hanya tinggal menunggu waktu, meskipun sejumlah bank sentral kemungkinan masih menahan suku bunga untuk sementara.

“Pesan utama dari bank sentral global yang menghadapi berbagai kejutan makroekonomi tahun ini adalah bahwa siklus kenaikan suku bunga yang relatif terbatas sedang berlangsung,” kata Bruce Kasman, Kepala Ekonomi Global JPMorgan.

Ia memperkirakan bank sentral negara-negara ekonomi utama masih akan menahan suku bunga, sementara Kanada berpotensi mulai menaikkannya.

 

Inflasi dan Keputusan The Fed Jadi Sorotan

Nikkei dan Kospi melemah di tengah tekanan saham AI, kenaikan biaya energi, serta ketidakpastian arah suku bunga global. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Bank sentral Selandia Baru secara luas diperkirakan menaikkan suku bunga pada Rabu. Pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga pada Oktober, tetapi peluang kenaikan pada Desember diperkirakan mencapai 80%.

Perhatian investor juga tertuju pada data inflasi inti AS. Inflasi inti pada September diperkirakan masih tinggi di level 3,1%. Sementara itu, ekonomi AS diproyeksikan tumbuh 3,2% secara tahunan berdasarkan laju pertumbuhan kuartalan, antara lain didorong belanja besar untuk pusat data.

Analis Goldman Sachs menyatakan, “The Fed diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober, tetapi kemungkinan akan melakukan kenaikan kedua pada Desember.”

Mereka menambahkan, “Risiko terpenting adalah harga kontrak berjangka minyak berada di atas perkiraan kami, sebagian besar mencerminkan kekhawatiran akan kemungkinan konflik lebih lanjut dengan Iran.”

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun sekitar 1% dari level tertinggi enam bulan menjadi sekitar US$ 115,60 per barel. Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi sumber ketidakpastian bagi pasar energi dan inflasi global.

 

Laporan Keuangan Teknologi Uji Kepercayaan Pasar

Nikkei dan Kospi melemah di tengah tekanan saham AI, kenaikan biaya energi, serta ketidakpastian arah suku bunga global. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Pelemahan bursa Asia terjadi setelah Wall Street ditutup turun pada Jumat. Saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) mendapat tekanan besar, sementara indeks utama sektor cip AS mencatat penurunan beruntun terpanjang sejak November.

Pekan ini, investor menantikan laporan keuangan Microsoft, Alphabet, dan Amazon.com untuk mengukur keberlanjutan optimisme terhadap sektor AI. Keputusan suku bunga The Fed dan Bank of Japan juga menjadi katalis penting di tengah inflasi yang sulit turun, biaya energi tinggi, dan imbal hasil obligasi global yang masih tinggi.

“Pasar global sedang bersiap menghadapi pekan besar lainnya,” tulis Nick Twidale, kepala analis pasar AT Global Markets di Sydney.

Menurutnya, perhatian pasar akan kembali beralih ke bank sentral dan suku bunga setelah beberapa pekan terakhir didominasi berita geopolitik.

Di sisi lain, saham SK Hynix bergerak naik setelah laporan menyebut perusahaan berencana membagikan sekitar 80% keuntungan dari penjualan sebagian kepemilikannya di Kioxia Jepang kepada pemegang saham melalui dividen khusus.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya