Prediksi Harga Emas Dunia Pekan Ini: Analis Terbelah

Harga emas dunia anjlok di bawah US$ 4.000 per ons. Analis terbelah soal prospeknya pekan ini, di tengah keputusan suku bunga bank sentral.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 26 Oktober 2026, 06:31 WIB
Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia mengalami penurunan tajam sepanjang pekan lalu. Kenaikan harga minyak, kekhawatiran inflasi, dan prospek kebijakan suku bunga ketat Federal Reserve (The Fed) menekan permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

Pada Kamis, aksi jual saham teknologi memicu likuidasi di berbagai pasar. Tekanan tersebut mendorong harga emas kembali turun di bawah US$ 4.000 per ons.

Mengutip Kitco, Senin (26/10/2026), harga emas spot membuka perdagangan pekan lalu di US$ 4.164,69 per ons. Harga sempat naik hingga menyentuh level tertinggi mingguan US$ 4.190,17 pada Senin, sebelum berbalik melemah akibat kenaikan harga energi dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Tekanan berlanjut pada Senin dan Selasa, ketika harga emas turun di bawah US$ 4.150 per ons. Pasar masih mencerna data inflasi konsumen dan produsen AS yang lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.

Pada Jumat, harga emas menyentuh level terendah mingguan US$ 3.975,10 per ons, terendah sejak awal Juni. Harga kemudian bergerak naik turun di sekitar US$ 4.000 per ons menjelang penutupan pekan.

Survei mingguan Kitco News menunjukkan analis Wall Street semakin pesimistis, sementara investor ritel masih melihat peluang pemulihan harga emas.

Analis Terbelah soal Arah Harga Emas

Ilustrasi harga emas dunia. (Gambar by AI)

Survei Kitco News melibatkan 17 analis. Sebanyak 7 analis atau 41% memperkirakan harga emas kembali turun pekan ini. Sebanyak 4 analis atau 24% memprediksi harga naik, sedangkan 6 analis atau 35% memperkirakan harga bergerak mendatar atau belum dapat menentukan arahnya.

Sebaliknya, dari 161 responden dalam jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 67 investor ritel atau 42% memperkirakan harga emas menguat. Sebanyak 41 responden atau 26% memprediksi penurunan berlanjut, sementara 53 responden atau 33% memperkirakan konsolidasi.

Marc Chandler, Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, mengatakan harga emas sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan, sedikit di bawah US$ 3.990 per ons.

“Emas memang pulih, tetapi kondisi teknikalnya masih terlihat lemah. Indikator momentum belum meningkat dan rata-rata pergerakan lima serta 20 hari masih menurun. Resistensi awal terlihat di kisaran US$ 4.065–US$ 4.075,” ujarnya.

Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, memperkirakan harga emas bergerak relatif stabil.

“Pergerakannya masih naik turun, tetapi saya tetap berpikir US$ 4.000 akan bertahan, atau mungkin sedikit di bawahnya,” kata Day.

Sementara itu, James Stanley dari Forex.com menilai level US$ 4.000 sejauh ini masih mampu bertahan sebagai area penopang harga. Ia tetap optimistis terhadap peluang akumulasi emas untuk jangka panjang.

Keputusan The Fed Jadi Penentu Harga Emas

Ilustrasi harga emas dunia. (Gambar by AI)

Keputusan suku bunga sejumlah bank sentral menjadi perhatian utama pasar pekan ini. Federal Reserve, Bank Sentral Eropa (ECB), Bank Sentral Kanada, dan Bank Sentral Jepang dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneternya.

Kevin Grady, Presiden Phoenix Futures and Options, mengatakan harga emas masih sensitif terhadap suku bunga. Namun, ketidakpastian geopolitik dan likuiditas pasar yang menipis juga memperbesar volatilitas.

Sean Lusk dari Walsh Trading menilai konflik Iran, kenaikan harga minyak, dan ekspektasi inflasi masih membatasi potensi penguatan emas.

“Selat tersebut harus dibuka kembali dan perang-perang ini harus berakhir. Sepertinya kedua hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Situasinya bisa menjadi sangat buruk sebelum membaik,” ujarnya.

Meski demikian, Alex Kuptsikevich, analis pasar senior FxPro, memperkirakan harga emas berpeluang pulih dari level terendahnya.

“Selama lebih dari setahun, permintaan yang kuat di kisaran US$ 3.950–US$ 4.100 telah mendorong harga naik. Penurunan kali ini mungkin berlanjut, tetapi dalam jangka pendek, pelemahannya tampak berlebihan sehingga berpotensi memicu pemulihan korektif dalam beberapa hari mendatang,” katanya.

Pasar juga akan mencermati data pesanan barang tahan lama, kepercayaan konsumen, penjualan rumah baru, pertumbuhan ekonomi AS, serta data inflasi. Kombinasi perkembangan tersebut akan menentukan arah harga emas pekan ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya