Ribuan Warga Israel Demo Anti-Netanyahu Jelang Pemilu

Ribuan warga Israel menggelar demonstrasi besar di Tel Aviv menentang PM Netanyahu, tiga hari jelang pemilu.

oleh Septian DenyDiterbitkan 25 Oktober 2026, 16:00 WIB
Ribuan warga Israel menggelar demonstrasi besar-besaran menentang pemerintah di Tel Aviv, Sabtu (24/10/2026). (AP Photo/David Goldman)

Liputan6.com, Tel Aviv - Ribuan warga Israel menggelar demonstrasi besar-besaran menentang pemerintah di Tel Aviv, Sabtu (24/10/2026). Aksi tersebut berlangsung tiga hari sebelum pemilihan umum (pemilu) yang dipandang luas sebagai referendum terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Dikutip dari Channel News Asia, demonstrasi ini diorganisasi oleh October Council, kelompok yang dibentuk oleh keluarga korban dan sandera yang dibawa oleh militan Palestina pada 7 Oktober 2023. Mereka menuntut pertanggungjawaban atas kegagalan pemerintah mencegah serangan Hamas yang memicu perang di Gaza.

Menurut media Israel, aksi tersebut dihadiri para pemimpin empat partai oposisi utama, termasuk mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot. Eisenkot, yang bersaing ketat dengan Netanyahu dalam pemilu mendatang, mendapat sambutan hangat dari massa.

“Tiga hari sebelum pemilu, kami akan menggelar acara puncak yang menandai tiga tahun perjuangan untuk mengungkap kebenaran, menuntut pertanggungjawaban, dan membentuk komisi penyelidikan negara,” tulis October Council di X menjelang demonstrasi.

Seorang reporter AFP melaporkan, ribuan orang bergerak dari Rabin Square menuju Hostages Square, lokasi yang sebelumnya menjadi pusat demonstrasi anti-pemerintah untuk menuntut pembebasan para sandera yang ditahan di Gaza.

“Siapa pun yang telah memimpin kami selama empat tahun terakhir, sejak pemerintahan Netanyahu menjabat pada akhir 2022, telah melakukan pekerjaan yang sangat buruk,” kata Hadas Feuershtein, 68 tahun, kepada AFP sesaat sebelum demonstrasi dimulai.

“Israel belum pernah berada dalam situasi seperti sekarang,” tambahnya.

Menjelang aksi, October Council telah memperingatkan aparat penegak hukum mengenai kemungkinan adanya “provokasi” dari kelompok pendukung pemerintah.

Pada Sabtu malam, kepolisian Israel menyatakan telah menangkap seorang tersangka yang diduga menyerang tim pengamanan seorang tokoh publik di Tel Aviv. Media Israel mengidentifikasi tokoh yang menjadi sasaran tersebut sebagai mantan Perdana Menteri sekaligus pemimpin oposisi Naftali Bennett.

Oposisi Desak Pembentukan Komisi Penyelidikan

Demonstrasi tersebut berlangsung setelah bertahun-tahun masyarakat sipil dan partai oposisi Israel mengampanyekan pembentukan komisi penyelidikan independen untuk mengusut kegagalan keamanan yang menyebabkan serangan 7 Oktober 2023.

Pemerintahan Netanyahu menolak membentuk komisi independen semacam itu, meskipun Israel sebelumnya kerap membentuk komisi penyelidikan untuk mengusut kegagalan besar di tingkat negara.

Sebagai gantinya, pemerintah menawarkan pembentukan komisi yang bersifat politis. Setengah dari anggotanya akan ditunjuk oleh koalisi penguasa, sedangkan separuh lainnya dipilih oleh anggota parlemen dari oposisi.

Namun, para pemimpin oposisi menyatakan akan memboikot komisi yang anggotanya ditunjuk oleh para politikus.

Jajak pendapat terakhir yang dipublikasikan sebelum masa larangan publikasi survei mulai berlaku pada Jumat malam menunjukkan tidak ada blok politik yang diperkirakan memperoleh mayoritas kursi di parlemen Israel.

Survei yang diterbitkan lembaga penyiaran publik KAN memperkirakan blok Eisenkot akan memperoleh 52 dari total 120 kursi parlemen, sementara blok Netanyahu meraih 50 kursi. Sisanya diperkirakan jatuh kepada partai-partai yang tidak berafiliasi dengan kedua blok, termasuk partai-partai Arab.

Menjelang berakhirnya masa kampanye, Eisenkot dan Bennett dijadwalkan menggelar pertemuan terpisah dengan para pemilih di Tel Aviv pada Minggu malam.

 

Oposisi Kritik Gagasan Ekonomi Digital Netanyahu

Naama Bitterman, 18 tahun, yang akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali, menyatakan yakin blok anti-Netanyahu yang didukungnya akan unggul dalam pemilu. Ia berharap kemenangan oposisi dapat memperbaiki citra Israel di mata dunia.

Citra internasional Israel dinilai memburuk setelah tiga tahun perang di Gaza, Lebanon, dan Iran, serta meningkatnya kekerasan di Tepi Barat yang diduduki.

“Saya pikir jika kami menang, dan kami akan menang, kami bisa mengubah cara orang-orang di seluruh dunia memandang kami,” kata Bitterman kepada AFP.

Inggris dan sejumlah negara lain telah menjatuhkan sanksi terhadap barang-barang dari permukiman Israel di Tepi Barat. Langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap gelombang serangan pemukim terhadap warga Palestina dan pembangunan permukiman yang disetujui oleh pemerintahan sayap kanan Netanyahu.

Di tengah meningkatnya isolasi internasional terhadap Israel, Netanyahu pada Jumat menyatakan negaranya mungkin perlu mengembangkan ekonomi digital alternatif.

Netanyahu, yang sebelumnya menyerukan agar Israel mampu memenuhi kebutuhan militernya sendiri, juga mengatakan paket persenjataan bernilai miliaran dolar dari sekutu utama Israel, Amerika Serikat, tidak akan terus mengalir.

Pernyataan tersebut menuai kritik dari para pemimpin oposisi pada Sabtu.

Eisenkot secara sarkastis menyebut mata uang digital alternatif yang diusulkan Netanyahu sebagai “bbCoin”, merujuk pada julukan yang umum digunakan untuk sang perdana menteri, Bibi.

“Netanyahu mengatakan bahwa jika terpilih kembali, Israel akan memutus hubungan dengan ekonomi global. Tidak ada belanja daring, tidak ada investasi di sektor teknologi tinggi, tidak ada keamanan. Kita tidak boleh membiarkan bbCoin menghancurkan Israel,” tulis Eisenkot di X.

Sementara itu, mantan perdana menteri yang kini memimpin oposisi, Yair Lapid, menuding Netanyahu menjanjikan kepada warga Israel bahwa mereka akan mengantre selama satu setengah jam untuk mendapatkan roti, seperti di Rusia atau Iran.

“Jika dia memenangkan pemilu, itulah yang akan terjadi: akan ada sanksi, tidak akan ada perjanjian keamanan dengan Amerika Serikat, dan tidak akan ada perekonomian Israel,” kata Lapid dalam wawancara dengan Channel 12 Israel.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya