9 Perusahaan Antre IPO, 4 dari Sektor Kesehatan

Sebanyak sembilan perusahaan masuk pipeline IPO BEI. Sepanjang 2026, tujuh perusahaan telah melantai di bursa dengan dana Rp 2,16 triliun.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 24 Oktober 2026, 10:11 WIB
Layar Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menunjukkan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Liputan6.com, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sembilan perusahaan masuk dalam antrean pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) hingga 23 Oktober 2026. Di tengah proses tersebut, BEI terus mendorong penambahan jumlah perusahaan tercatat dengan target mencapai 1.100 perusahaan pada 2030.

"Hingga saat ini, terdapat sembilan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ungkap Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, dalam keterangan resmi, Sabtu (24/10/2026).

Berdasarkan skala aset, tiga perusahaan yang mengantre IPO memiliki aset di atas Rp 250 miliar. Kemudian, lima perusahaan masuk kategori aset menengah, yakni Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Satu perusahaan lainnya memiliki aset di bawah Rp 50 miliar.

Klasifikasi tersebut mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017.

Dari sisi sektor usaha, perusahaan dalam antrean IPO berasal dari empat sektor. Sektor kesehatan mendominasi dengan empat perusahaan, disusul sektor energi dan barang baku yang masing-masing menyumbang dua perusahaan. Satu perusahaan lainnya berasal dari sektor keuangan.

Sepanjang 2026 hingga 23 Oktober, sebanyak tujuh perusahaan telah melaksanakan IPO dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 2,16 triliun. Dengan tambahan tersebut, jumlah perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia kini mencapai 963 perusahaan.

BEI Catat Penerbitan EBUS Rp 151,95 Triliun

Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain pencatatan saham, aktivitas penghimpunan dana di pasar modal juga berlangsung melalui penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS).

Hingga 23 Oktober 2026, BEI mencatat 149 emisi EBUS dari 66 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 151,95 triliun.

Pada periode yang sama, terdapat 25 emisi EBUS dari 16 penerbit yang masih berada dalam antrean penerbitan. Para penerbit tersebut berasal dari berbagai sektor usaha.

Sementara itu, melalui aksi penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue, sebanyak 16 perusahaan telah merealisasikan aksi korporasi tersebut hingga 23 Oktober 2026. Total dana yang dihimpun mencapai Rp 37,35 triliun.

Adapun dalam pipeline rights issue, terdapat satu perusahaan dari sektor properti yang berencana melakukan penambahan modal.

BEI menargetkan jumlah perusahaan tercatat terus bertambah hingga mencapai 1.100 perusahaan pada 2030. Penambahan emiten diharapkan dapat memperluas pilihan investasi sekaligus memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pendanaan bagi dunia usaha.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya