Liputan6.com, Jakarta - Kelangkaan chip memori global makin mencekik, sejumlah produsen smartphone mulai memutar otak. Demi produksi terus berjalan, beberapa dari mereka mulai manfaatkan komponen memori DRAM daur ulang dari perangkat elektronik bekas.
Diwartakan GizmoChina, Selasa (27/10/2026), langkah ini memang membantu perusahaan untuk membatalkan pengurangan target produksi. Namun, ketahanan HP dalam jangka panjang jadi dipertanyakan.
Advertisement
Menurut laporan riset Counterpoint, sejumlah merek HP asal Tiongkok sempat memangkas produksi dan berupaya menekan biaya pada kuartal kedua 2026, akibat melonjaknya harga DRAM.
Namun, menjelang akhir kuartal ketiga, beberapa di antaranya kembali meningkatkan target produksi berkat pasokan DRAM bekas yang didapat dari komputer, server, hingga HP lama.
Chip bekas ini dibersihkan, diuji ulang, lalu dipasang ke HP baru. Beberapa produsen bahkan mempertimbangkan untuk membenamkannya pada HP segmen entry-level.
Risiko Chip Bekas
Langkah tersebut bukan tanpa risiko. Chip bekas yang pernah beroperasi 5 hingga 6 tahun mungkin rentan mengalami penurunan performa, kebocoran data, dan kerusakan sel memori lebih cepat.
Pengujian memang bisa menyaring chip yang sudah rusak, tetapi ketahanan jangka panjang HP dengan komponen ini tetap dipertanyakan.
Samsung dan SK Hynix Alokasikan Chip untuk AI
Kelangkaan ini diperkirakan akan terus berlanjut melampaui 2027. Produsen raksasa seperti Samsung Electronics dan SK Hynix kini lebih memprioritaskan produksi memori dengan keuntungan lebih tinggi untuk server kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sehingga alokasi chip untuk HP kian menyusut.
Counterpoint menilai penggunaan DRAM bekas hanyalah solusi jangka pendek yang justru mencerminkan betapa parahnya krisis komponen saat ini.