Soroti Kerusuhan di Prancis, Trump Sebut Paris Bakal Jadi Kota Muslim

Presiden AS Donald Trump memprediksi Paris akan menjadi kota Muslim, mengaitkan kerusuhan di Prancis dengan imigran.

oleh Septian DenyDiterbitkan 21 Oktober 2026, 16:00 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih. (Dok. AP/Julia Demaree Nikhinson)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksi bahwa Paris akan menjadi "kota Muslim dalam waktu dekat." Pernyataan tersebut disampaikannya pada Senin lalu sembari menuding para imigran sebagai penyebab gelombang kerusuhan dan penjarahan yang tengah melanda Prancis.

Dikutip dari The New York Post, Rabu (21/10/2026), Trump mendesak Presiden Prancis, Emmanuel Macron, untuk menekan angka migrasi ke negaranya dan "mengeluarkan orang-orang jahat tersebut"—sebuah imbauan yang merujuk pada kampanye deportasi massal yang ia jalankan di Amerika Serikat.

"Saya sudah memberitahunya sejak lama, 'Anda membuat kesalahan besar di Prancis. Anda membiarkan semua orang dari seluruh dunia masuk. Seluruh dunia berbondong-bondong masuk,'" ujar Trump kepada para wartawan saat bersiap meninggalkan Gedung Putih menuju reli kampanye di Kansas.

Ia menegaskan kembali pandangannya terkait situasi di Prancis. "Seperti yang Anda tahu, Paris akan menjadi kota Muslim dalam waktu dekat, dan itu bukanlah kesepakatannya. Itu bukan kesepakatannya. Saya bilang ke Emmanuel, 'Anda harus menutup perbatasan Anda.'"

Trump mengaku telah bertahun-tahun mendesak Macron untuk menghentikan migrasi massal ke Prancis, seraya menambahkan, "Perbatasannya adalah sebuah masalah."

Komentar Trump mengenai Paris disampaikan ketika seorang wartawan menanyakan tanggapannya terkait sikap Macron yang menyalahkan ketegangan di Prancis pada konflik AS dengan Iran—perang yang memicu lonjakan harga bahan bakar global.

"Jika Eropa tidak menutup perbatasannya dan mengeluarkan para kriminal, seperti orang-orang yang melakukan unjuk rasa itu, Eropa akan hancur. Eropa harus menutup perbatasannya, seperti yang sudah saya katakan kepada mereka selama 10 tahun," tambah Trump.

Ia melanjutkan, "Mereka harus menutup perbatasan dan mengusir orang-orang yang membenci negara mereka, karena jika tidak, mereka akan hancur. Mereka tidak akan memiliki kesempatan untuk bertahan hidup."

 

Protes Massal di Prancis

Protes massal di Prancis sendiri berawal bulan lalu yang dipicu oleh kondisi sekolah, sebelum akhirnya meluas menyuarakan isu biaya hidup dan inflasi. Pada hari Sabtu, sekitar 500.000 orang turun ke jalan di seluruh Prancis.

Aksi tersebut diwarnai oleh kelompok-kelompok kecil yang menjarah hingga 2,000 toko, menyerang aparat kepolisian, serta membakar sejumlah fasilitas di berbagai wilayah.

Rekaman video dari lokasi kejadian memperlihatkan bahwa para penjarah dan perusuh berasal dari berbagai latar belakang ras dan etnis.

Secara demografi, sekitar 10 persen dari total populasi Prancis beragama Islam, dengan persentase yang sedikit lebih tinggi di Paris. Sebagian besar dari mereka merupakan imigran atau keturunan dari kawasan Afrika dan Timur Tengah yang dahulu pernah berada di bawah kekuasaan Prancis.

Namun, Trump menegaskan bahwa Prancis perlu mengeluarkan para imigran yang menurutnya membenci negara tersebut. "Merek membenci bangunannya. Mereka membenci masyarakatnya. Mereka membenci seninya. Mereka harus menutup perbatasan dan mengeluarkan orang-orang jahat itu."

Secara terpisah, Marine Le Pen, kandidat presiden berhaluan konservatif populis untuk pemilu Prancis April mendatang, memperhalus kritiknya terhadap umat Muslim secara keseluruhan.

Melalui unggahan di platform X pada hari Kamis sebelum lonjakan kekerasan terjadi, Le Pen menulis, "Islam kompatibel dengan Republik; saya sudah mengatakannya sepuluh kali."

Sebelumnya, pada 6 Oktober, Trump juga sempat menyatakan bahwa gelombang protes yang terus meningkat di Prancis adalah tentang "Islam yang ingin mengambil alih negara yang dulunya hebat."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya