Liputan6.com, London - Jet tempur Typhoon milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) akan dikerahkan untuk membantu melindungi Arab Saudi dari serangan kelompok Houthi asal Yaman. Pesawat-pesawat tersebut akan berpatroli di wilayah udara Arab Saudi untuk melindungi kota-kota dan infrastruktur penting, di tengah meningkatnya keterlibatan negara-negara Barat dalam konflik yang terus memanas.
Pengerahan jet tempur ini menjadi operasi militer terbesar yang disetujui Andy Burnham sejak menjabat sebagai perdana menteri Inggris. Dalam operasi tersebut, pilot RAF akan bertugas mencegat dan menembak jatuh rudal serta drone Houthi yang sebelumnya menyerang sejumlah bandara dan fasilitas minyak di Arab Saudi.
Advertisement
Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan bahwa jet tempur tersebut hanya akan menjalankan misi pertahanan.
"Pesawat-pesawat ini hanya akan menjalankan misi pertahanan dan tidak akan digunakan untuk menyerang Houthi," kata kementerian tersebut seperti dilaporkan The Guardian.
Selain jet tempur, Inggris akan mengirimkan penasihat militer dan sebuah pesawat angkut Atlas A400M yang mampu membawa peralatan berat. Bantuan ini melengkapi dukungan yang sudah diberikan Inggris berupa pengisian bahan bakar di udara bagi jet tempur Arab Saudi menggunakan pesawat RAF Voyager. Misi pengisian bahan bakar tersebut juga diperpanjang selama 90 hari.
Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman sejak September lalu secara bertahap telah meluas menjadi konflik regional yang menelan korban jiwa. Houthi juga melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, yang selama ini mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Sebanyak 13 orang tewas setelah sebuah rudal menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada bulan ini. Peristiwa tersebut menjadi serangan paling mematikan sejak konflik pecah pada September. Hingga kini, sebanyak 19 orang dilaporkan tewas di Arab Saudi akibat perang tersebut.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting mengatakan pemerintahnya telah menyetujui bantuan militer untuk membantu Arab Saudi menghadapi serangan Houthi yang semakin gencar dalam beberapa pekan terakhir. Ia mengecam peningkatan serangan tersebut sebagai tindakan yang keterlaluan dan menegaskan bahwa Inggris bertindak untuk melindungi warga sipil.
Inggris sendiri telah lama menjadi sekutu militer Arab Saudi. Perusahaan pertahanan Inggris, BAE Systems, sebelumnya memasok 72 jet tempur Typhoon melalui kesepakatan yang semula bernilai 4,4 miliar pound sterling. Arab Saudi juga telah mempertimbangkan pembelian 48 pesawat tambahan, tetapi perundingannya berlangsung selama bertahun-tahun tanpa mencapai kesepakatan.
Meski keterlibatan Inggris dalam perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran relatif terbatas, jet tempur Typhoon yang ditempatkan di pangkalan RAF Akrotiri di Siprus serta di Qatar telah menjalankan misi pertahanan sepanjang musim semi dan musim panas. Pesawat-pesawat tersebut bertugas mencegat rudal dan drone yang diluncurkan Iran maupun kelompok-kelompok sekutunya ke negara-negara Teluk.
Pengumuman pengerahan jet tempur ini disampaikan beberapa hari setelah Streeting bertemu dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Pentagon. Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas sejumlah persoalan, termasuk cara menghadapi peningkatan serangan Houthi.
Keputusan Inggris untuk terlibat lebih jauh dalam konflik ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa negara tersebut akan dianggap terlalu mendukung perang AS melawan Iran yang menuai banyak penolakan. Pemerintah Inggris juga menggunakan alasan ekonomi untuk menjelaskan langkah militernya, mengingat ketidakstabilan di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi dan membebani biaya hidup masyarakat.
"Serangan Houthi yang terus berlanjut terhadap sekutu kami, Arab Saudi, benar-benar tidak dapat diterima. Serangan terhadap bandara di Riyadh khususnya menunjukkan sejauh mana Houthi bersedia bertindak untuk memperkeruh situasi di kawasan," kata Streeting.
"Itulah sebabnya hari ini saya menyetujui tambahan bantuan militer Inggris. Jet tempur Typhoon RAF akan menjalankan misi pertahanan udara untuk membantu melindungi wilayah udara Arab Saudi dari serangan drone dan rudal. Bantuan ini akan memperkuat dukungan berupa peralatan dan personel Inggris yang sudah berada di negara tersebut untuk menghadapi serangan udara Houthi."