PM Albania Edi Rama Tolak Mundur meski Demo Makin Rusuh

Perdana Menteri Albania Edi Rama teguh menolak mundur di tengah gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang semakin rusuh.

oleh Septian DenyDiterbitkan 20 Oktober 2026, 07:00 WIB
Sejumlah demonstran berdiri di belakang tempat sampah yang terbakar saat aksi unjuk rasa antipemerintah di depan gedung Kementerian Pendidikan di Tirana, Albania, Sabtu (17/10/2026). (Dok. AP Photo/Hameraldi Agolli)

 

Liputan6.com, Tirana - Perdana Menteri Albania Edi Rama menolak mengundurkan diri di tengah gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang telah berlangsung selama enam hari di ibu kota Tirana. Di tengah tuntutan agar dirinya lengser, Rama justru menuding aksi demonstrasi tersebut merupakan ulah pihak luar.

Dikutip dari Euro News, Selasa (20/10/2026), demonstrasi yang diwarnai bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi itu telah mengguncang Tirana sejak Selasa. Pada Minggu, polisi menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa yang kembali turun ke jalan.

Dalam sebuah video yang disiarkan selama lebih dari satu jam, Rama menegaskan tidak akan memenuhi tuntutan demonstran untuk mundur dari jabatannya. Ia menyebut demonstrasi tersebut sebagai "pekerjaan tangan pihak luar".

Aksi protes dipicu oleh tuntutan agar pemerintah mengambil tindakan terkait buruknya kondisi universitas, tingginya biaya kuliah, serta persoalan korupsi.

Pada Minggu siang, ratusan demonstran kembali berkumpul di depan Kementerian Pendidikan sambil meneriakkan tuntutan, "Rama, mundur!"

Ketegangan meningkat ketika polisi berupaya membubarkan massa. Para demonstran kemudian menyebar ke sejumlah titik di pusat kota, memicu bentrokan yang berlangsung selama berjam-jam.

Bentrokan Meluas, Kantor Polisi Diserang

Kerusuhan meluas ke sejumlah lokasi di Tirana. Para demonstran membakar tempat sampah di jalan, memecahkan kaca, termasuk di kantor pusat Partai Sosialis yang berkuasa, serta membakar sebuah kantor polisi dan pintu masuk Kementerian Dalam Negeri.

Menurut laporan jurnalis AFP di lokasi, para demonstran melempar batu, bom molotov, dan menyalakan perangkat piroteknik. Polisi merespons dengan menembakkan peluru karet dan gas air mata.

Ambulans terlihat berulang kali mendatangi lokasi bentrokan untuk mengevakuasi korban luka.

Kementerian Kesehatan Albania melaporkan 28 orang terluka dalam kerusuhan pada Minggu. Mereka terdiri dari 19 polisi, empat demonstran, empat orang yang berada di sekitar lokasi, dan seorang jurnalis.

Sebanyak 16 polisi dilaporkan terluka dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Dari jumlah itu, 14 orang mengalami luka ketika demonstran menyerang sebuah kantor polisi.

Albert Nushi dari Departemen Keamanan Publik Kepolisian Albania mengatakan serangan terhadap kantor polisi menggunakan bom molotov dan perangkat piroteknik membahayakan petugas maupun orang-orang yang ditahan di dalam gedung.

"Serangan terhadap kantor polisi bukanlah demonstrasi. Kekerasan terhadap polisi, serangan terhadap institusi, dan tindakan yang membahayakan nyawa manusia tidak dapat ditoleransi," kata Nushi pada Minggu malam.

Ia juga meminta demonstran menjauh dari individu-individu bertopeng yang terlibat dalam aksi kekerasan dan menyampaikan aspirasi secara damai.

 

Kunjungan Rama ke Austria Dibatalkan

Situasi keamanan di Tirana telah diantisipasi sebelum demonstrasi berlangsung. Sejumlah toko dan kantor di pusat kota memasang penutup logam untuk melindungi pintu dan jendela mereka.

Pekerja kota juga memindahkan batu-batu trotoar guna mencegahnya digunakan sebagai benda lempar oleh demonstran.

Di tengah situasi tersebut, kunjungan resmi Rama ke Austria yang dijadwalkan berlangsung pada Senin juga dibatalkan.

Menurut layanan pers federal Austria, kunjungan Rama untuk bertemu Kanselir Federal Christian Stocker dibatalkan oleh pihak Albania.

Meski menghadapi gelombang demonstrasi yang memasuki hari keenam, Rama tetap menolak tuntutan pengunduran dirinya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya