Dirut PLN Batam Ungkap Tiga Kejanggalan Terkait Blackout

Pasokan listrik tiga wilayah di Kepri mengalami blackout.

oleh Ajang NurdinDiterbitkan 19 Oktober 2026, 07:18 WIB
Direktur Utama PT PLN Batam Kwin Fo

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT PLN Batam Kwin Fo akhirnya buka suara terkait pemadaman listrik meluas atau blackout yang melumpuhkan sistem kelistrikanBatam-Bintan-Tanjungpinang pada 12 Oktober 2026.

Dalam konferensi pers di Kantor PLN Batam, Batam Center, Minggu (18/10/2026), Kwin Fo mengungkap tiga temuan yang dinilai janggal di sekitar Gardu Induk Sungai Harapan, Sekupang, Batam. Di antaranya posisi kamera pengawas atau CCTV yang bergeser dari posisi normal, kawat pagar pengaman gardu yang tidak bertegangan, hingga ditemukannya seekor hewan dalam kondisi lemas beberapa jam setelah gangguan terjadi.

Namun PLN Batam belum menyimpulkan penyebab pasti blackout tersebut. Kasus itu kini masih dalam penyelidikan Polda Kepri dan Bareskrim Polri.

Kwin Fo menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang terdampak pemadaman listrik, khususnya pelanggan di Batam, Bintan dan Tanjungpinang.

"Kami menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada pelanggan PLN Batam dan masyarakat atas gangguan kelistrikan yang terjadi pada tanggal 12 Oktober 2026," kata Kwin Fo di Kantor Sekretariat PLN Batam.

Dia mengatakan, setelah blackout terjadi, jajaran PLN Batam melakukan penelusuran dan pemulihan sistem tanpa henti hingga kondisi kelistrikan kembali berangsur normal.

"Setelah kejadian kami langsung bekerja tanpa henti, sehingga baru hari ini bisa menjelaskan kepada teman-teman," ujarnya.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian PLN adalah kondisi CCTV di sekitar Gardu Induk Sungai Harapan. Kwin Fo mengatakan, posisi kamera pengawas tersebut telah bergeser dari posisi normal sehari sebelum blackout terjadi.

Akibatnya, CCTV tidak merekam secara langsung titik awal munculnya percikan pada salah satu trafo yang kemudian memicu gangguan besar pada sistem kelistrikan.

"Di CCTV percikan itu terjadi sekitar pukul 07.30, karena setting jamnya memakai waktu Singapura," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, PLN belum dapat memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada trafo sebelum gangguan meluas.

Temuan lain juga muncul terkait dugaan keberadaan hewan liar di sekitar gardu. Tim pertama yang tiba di lokasi setelah gangguan tidak menemukan hewan yang diduga menjadi penyebab gangguan.

Namun, sekitar pukul 10.30 WIB, petugas menemukan seekor hewan dalam kondisi lemas. Kwin Fo belum menyebut jenis hewan tersebut karena proses penyelidikan masih berlangsung.

"Kami belum bisa memastikan apakah hewan liar tersebut menjadi penyebab percikan api. Karena CCTV tidak menangkap langsung kejadian itu, sehingga kami menunggu hasil penyelidikan pihak berwajib," katanya.

Hal lain yang turut menjadi perhatian adalah kondisi kawat listrik pengaman yang terpasang mengelilingi kawasan gardu.

Menurut Kwin Fo, kawat tersebut seharusnya dialiri listrik sesuai standar operasional prosedur (SOP). Fungsinya antara lain untuk membantu mencegah hewan liar masuk ke area gardu.

Namun, saat dilakukan pemeriksaan, kawat pengaman tersebut diketahui tidak bertegangan. "Ini menjadi salah satu hal yang masih perlu kami telusuri lebih lanjut," ujarnya.

PLN Batam pun menyerahkan pengungkapan penyebab sebenarnya kepada aparat penegak hukum.

 

Hewan liar masuk di area PLN

Dari sisi teknis, Kwin Fo menjelaskan gangguan yang terjadi di Gardu Induk Sungai Harapan tidak berhasil diisolasi oleh sistem proteksi sebagaimana mestinya.

Dalam kondisi normal, sistem proteksi dan pemutus sirkuit seharusnya bekerja memisahkan bagian jaringan yang mengalami gangguan sehingga tidak merembet ke sistem utama.

Namun dalam kejadian 12 Oktober, gangguan tersebut justru merambat ke jaringan transmisi utama bertegangan 150 kilovolt (kV). Dampaknya kemudian dirasakan sejumlah pembangkit lain, termasuk Pembangkit Listrik Tanjung Uncang yang kehilangan sekitar 220 megawatt (MW) daya dari sistem.

Hilangnya pasokan dalam jumlah besar tersebut membuat pembangkit lain tidak mampu sepenuhnya menggantikan kehilangan daya. Akibatnya, pembangkit lainnya ikut terlepas dari sistem secara bertahap.

Kwin Fo menyebut, pukul 06.37 WIB, hampir seluruh pembangkit telah terlepas dari sistem utama kelistrikan Batam-Bintan. Kondisi tersebut akhirnya menyebabkan blackout meluas dan berdampak ke pelanggan di Batam, Bintan hingga Tanjungpinang.

Sesaat setelah gangguan terjadi, PLN Batam melakukan penelusuran di sejumlah titik untuk menemukan sumber persoalan. Pemeriksaan dilakukan mulai dari jaringan transmisi hingga sejumlah peralatan kelistrikan guna memastikan tidak terdapat kerusakan lain, termasuk pada saluran maupun menara transmisi

Setelah titik gangguan diketahui berada di kawasan Gardu Induk Sungai Harapan, PLN melakukan lokalisasi terhadap peralatan yang terdampak sebelum memulai proses pemulihan.

Kwin Fo mengatakan proses pemulihan mulai dilakukan sekitar pukul 08.30 WIB. Pemulihan diawali dengan membangun kembali jaringan distribusi tegangan menengah 20 kV. Setelah itu, PLN secara bertahap memulihkan sistem transmisi 150 kV.

 

Hewan liar masuk di area PLN

Proses tersebut tidak dapat dilakukan sekaligus karena setiap saluran transmisi harus melalui tahapan pengisian tegangan atau line charging. Setiap saluran harus diperiksa dan dipastikan mampu menerima tegangan sebelum kembali dihubungkan dengan bagian sistem lainnya.

Langkah tersebut diperlukan agar proses pemulihan tidak menimbulkan gangguan lanjutan terhadap jaringan yang telah kembali beroperasi.

Kwin Fo juga menyampaikan bahwa PLN telah melakukan serangkaian pengujian terhadap peralatan yang berkaitan dengan sistem kelistrikan Batam.

Hasil uji coba tersebut, kata dia, menunjukkan peralatan sistem kelistrikan yang diperiksa dapat berfungsi dengan baik.

Temuan tersebut menjadi salah satu alasan PLN menyerahkan proses pengungkapan penyebab blackout kepada aparat penegak hukum.

"Kami serahkan sepenuhnya kepada Polri. Mari kita tunggu bersama hasil penyelidikan Polda dan Bareskrim Polri," kata Kwin Fo.

Hingga kini PLN Batam belum memastikan apakah blackout 12 Oktober 2026 disebabkan hewan liar, gangguan peralatan, faktor lain, atau adanya kondisi tertentu di sekitar Gardu Induk Sungai Harapan.

Kepastian mengenai penyebab awal gangguan masih menunggu hasil penyelidikan aparat penegak hukum.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya