Liputan6.com, Jakarta - Kiper Timnas Indonesia Emil Audero menyimpan optimisme besar terhadap masa depan Skuad Garuda dan menargetkan lolos ke Piala Dunia 2030. Penjaga gawang Rayo Vallecano itu termasuk pemain yang berkontribusi pada keberhasilan tim baru-baru ini.
Timnas Indonesia baru saja mengakhiri penantian panjang dengan menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 usai menaklukkan Thailand di partai final. Sebelum gelar ini, prestasi senior terakhir Indonesia adalah medali emas sepak bola SEA Games 1991 di Filipina.
Advertisement
Emil tampil dalam dua pertandingan sepanjang turnamen, termasuk saat menggagalkan eksekusi penalti pemain Thailand yang membantu memastikan Indonesia keluar sebagai juara.
Tiga Target Besar
Sejak debutnya pada periode Kualifikasi Piala Dunia 2026, Emil telah mencatatkan delapan penampilan bersama Timnas Indonesia. Perjalanan tim sempat terhenti pada putaran keempat sehingga gagal melaju ke Amerika Utara untuk Piala Dunia 2026.
Timnas Indonesia kini memiliki kesempatan untuk meningkatkan pencapaian pada Piala Asia 2027 dan kemudian kembali berusaha mendapatkan tiket ke Piala Dunia 2030.
"Salah satu target saya adalah memenangkan trofi bersama tim nasional, dan kami berhasil mewujudkannya. Lalu melangkah sejauh mungkin di Piala Asia. Serta impian terbesar adalah lolos ke Piala Dunia. Bermain di Piala Dunia bersama Indonesia adalah sesuatu yang istimewa," kata Emil dalam wawancara dengan jurnalis Italia, Gianluca Di Marzio.
Gelar FIFA ASEAN Cup 2026 ia pandang sebagai langkah awal untuk mewujudkan ambisi tersebut, dan Emil berharap perkembangan positif itu berlanjut pada kompetisi internasional berikutnya.
Dukungan Suporter Indonesia Memukau
Salah satu alasan Emil optimistis adalah besarnya kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sepak bola. Ia merasakan langsung antusiasme yang mengelilingi Skuad Garuda.
"Antusiasme itu sudah ada sebelumnya. Namun, setelah keberhasilan di FIFA ASEAN Cup, kemenangan nyata pertama dalam sejarah kami, antusiasme itu menjadi jauh lebih besar," ujar Emil.
Perhatian publik semakin terlihat saat rombongan Timnas harus berpindah hotel karena banyak suporter yang datang meminta foto dan tanda tangan.
"Saya sering kesulitan menjelaskan semangat mereka. Kami harus pindah hotel karena terlalu banyak orang yang menghentikan kami untuk meminta foto dan tanda tangan," ungkapnya.