71 Tahun Konferensi Asia-Afrika, Indonesia Bidik Peluang Besar di Afrika

Indonesia terus mempererat kemitraan dengan Afrika melalui kerja sama konkret di bidang ekonomi dan investasi.

Diterbitkan 14 Oktober 2026, 17:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Tujuh puluh satu tahun setelah Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955, Semangat Bandung terus menjadi landasan kemitraan Indonesia dengan negara-negara Afrika. Solidaritas yang dahulu memperjuangkan kemerdekaan kini diterjemahkan menjadi kerja sama konkret untuk memperkuat kedaulatan ekonomi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan mewujudkan kemakmuran bersama.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dubes Umar Hadi, dalam Sidang Pleno ke-18 Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Senin (12/10/2026).

Pertemuan membahas kemajuan pembangunan berkelanjutan di Afrika dan dukungan internasional, dalam kerangka transformasi dari New Partnership for Africa's Development (NEPAD) menuju Agenda 2063 Uni Afrika.

Mengawali pernyataannya, Dubes Umar Hadi mengangkat kembali pesan Presiden Soekarno pada KAA 1955 mengenai perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk menentukan masa depannya sendiri. Lebih dari tujuh dekade kemudian, negara-negara Asia dan Afrika telah mencatat berbagai kemajuan dan semakin berperan dalam menentukan arah pembangunan global.

Indonesia menyambut positif kemajuan ekonomi Afrika yang diperkirakan tumbuh 4,4 persen pada 2025, dengan 22 negara mencatat pertumbuhan di atas 5 persen. Capaian ini mencerminkan ketahanan dan potensi besar Afrika dalam mewujudkan Agenda 2063, yaitu visi menuju benua yang makmur, terintegrasi, dan damai.

Namun, kemajuan tersebut masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari tingginya biaya pinjaman, terbatasnya akses pembiayaan pembangunan, hingga belum optimalnya manfaat ekonomi dari kekayaan sumber daya alam Afrika.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Indonesia menekankan tiga prioritas. Pertama, memperkuat kedaulatan ekonomi melalui penciptaan nilai tambah sumber daya nasional, sebagaimana pengalaman hilirisasi Indonesia. Kedua, menempatkan investasi sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan, termasuk melalui kerja sama pendidikan dan pelatihan pertanian dengan negara-negara Afrika. Ketiga, menerjemahkan Semangat Bandung menjadi kemitraan nyata di bidang perdagangan, investasi, dan peningkatan kapasitas.

 

  

Hubungan Ekonomi Indonesia–Afrika

Komitmen tersebut tercermin dari semakin eratnya hubungan ekonomi Indonesia–Afrika. Forum Indonesia–Afrika pertama pada 2018 menghasilkan kesepakatan bisnis hampir US$ 600 juta, disusul Indonesia–Africa Infrastructure Dialogue pada 2019 senilai lebih dari US$ 800 juta. Pada 2024, Forum Indonesia–Afrika kedua menghasilkan 32 kesepakatan kerja sama senilai lebih dari US$ 3,5 miliar di berbagai sektor strategis.

Kerja sama tidak berhenti pada perdagangan dan investasi. Dalam satu dekade terakhir, sekitar 500 peserta dari Afrika telah memperoleh manfaat dari lebih dari 60 proyek Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular Indonesia, termasuk di bidang kesehatan, teknologi pertanian, dan peternakan. Indonesia juga berbagi pengalaman melalui pusat pelatihan pertanian di Tanzania dan Gambia.

"Indonesia berdiri bersama Afrika sebagai mitra, berlandaskan solidaritas dan saling menghormati," tegas Dubes Umar Hadi.

Lebih jauh, Indonesia melihat peluang besar untuk memperluas kemitraan dari tingkat bilateral ke antarkawasan. Integrasi ekonomi ASEAN dan pembentukan African Continental Free Trade Area (AfCFTA) membuka ruang bagi peningkatan perdagangan, investasi, dan konektivitas antara kedua kawasan. Indonesia juga mendorong ASEAN dan Uni Afrika untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing dalam memperkuat integrasi kawasan dan ketahanan terhadap perubahan iklim.