Liputan6.com, Jakarta - Setahun lalu, kripto sedang menikmati gelombang dukungan dari Gedung Putih, antuasisme Wall Street dan harapan akan era keemasan baru. Kemudian terjadilah kejatuhan pasar yang bersejarah pada Oktober 2025, yang melenyapkan rekor nilai taruhan leverage atau utang sebesar US$ 19 miliar (Rp 340,01 triliun, asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.900). Hal itu memicu pengetatan di seluruh industri dan menyingkap kerentanan struktur pasar yang sebelumnya dianggap telah semakin matang.
Mengutip Yahoo Finance, Minggu (11/10/2026), satu tahun kemudian, bitcoin sebagai tolok ukur pasar masih berada lebih dari 30% di bawah rekor tertingginya. Upaya untuk mencapai reli yang berkelanjutan berulang kali gagal, dan pelaku pasar lambat dalam membangun kembali posisi leverage yang dulunya mendorong lonjakan terbesar kripto.
Advertisement
Total open interest (jumlah kontrak terbuka) pada kontrak perpetual futures terkait Bitcoin, sebuah indikator minat pedagang terhadap taruhan leverage, berada di angka sekitar US$ 45 miliar atau Rp 805,29 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.900) setahun yang lalu, menurut data CryptoQuant. Angka tersebut turun lebih dari setengahnya dalam enam bulan setelah kejatuhan pasar. Reli Bitcoin baru-baru ini yang menembus level US$ 80.000 atau Rp 1,4 miliar memang memulihkan sebagian kepercayaan, tapi open interest pada token terbesar di dunia ini masih jauh dari puncaknya.
"Meski demikian, kondisi lesu ini tidak menghentikan bank dan perusahaan perdagangan besar untuk bereksperimen dengan aset digital. Hal yang lebih penting daripada apakah penggunaan leverage akan kembali marak adalah apakah pasar itu sendiri telah menjadi lebih tangguh,” ujar Presiden Caladan, market maker kripto, Julia Zhou.
"Posisi leverage senilai lebih dari US$19 miliar dilikuidasi dalam waktu 24 jam, namun masalah yang lebih besar adalah betapa cepatnya likuiditas yang tersedia menghilang saat pasar paling membutuhkannya," ia menambahkan.
Saat ini, meskipun para pedagang lebih memahami risikonya, "pasar masih sangat terfragmentasi, dan likuiditas masih bisa memburuk dengan cepat," ia menambahkan.
Pasar Prediksi Menarik Banyak Peminat
Argumen yang mendukung pandangan pasar kini lebih kuat adalah tingkat leverage yang lebih rendah, bursa yang menawarkan aset dengan korelasi lebih rendah, serta beberapa platform yang telah memperkuat sistem likuidasi mereka.
Sementara itu, minat investor untuk berspekulasi tidaklah surut, tapi mereka telah beralih ke ranah baru. Pasar prediksi mulai menarik banyak peminat, dan kontrak perpetual futures atau "perps" yang telah lama menjadi instrumen utama perdagangan kripto kini digunakan untuk memasang taruhan leverage pada saham, komoditas, dan aset dunia nyata lainnya.
Dengan kata lain, sebagian dari mekanisme yang turut mengubah kripto menjadi fenomena spekulatif kini menemukan kegunaan yang jauh melampaui token-token yang awalnya dirancang untuk diperdagangkan: Wall Street kini gencar mengembangkan stablecoin, tokenisasi, dan infrastruktur keuangan berbasis teknologi blockchain.
Menurut data DefiLlama, open interest (posisi kontrak terbuka) pada kontrak perpetual futures untuk aset dunia nyata yang hampir tidak ada setahun lalu kini telah melampaui angka US$ 17 miliar. Pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh Hyperliquid, bursa kripto offshore yang menjadi pelopor dalam mengaitkan kontrak perpetual dengan saham dan komoditas.
“Pergeseran ini mencerminkan kisah pertumbuhan dari mereka yang menginginkan imbal hasil dan penyelesaian transaksi melalui sistem yang beroperasi tanpa henti, bukan dari mereka yang sekadar mengejar narasi atau memecoin yang sedang ramai dibicarakan," ujar kepala riset di perusahaan perdagangan LO:TECH, Adam McCarthy.
Terintegrasi dengan Institusi Keuangan
Upaya tiada henti untuk meraih imbal hasil lebih tinggi telah menjadikan Bitcoin sebagai aset keuangan dengan kinerja terbaik di dunia sejak kemunculannya 17 tahun silam. Bagi para pelaku pasar kripto kawakan, meningkatnya keterlibatan institusi di sektor ini serta munculnya berbagai alternatif baru, mulai dari perpetual futures hingga taruhan olahraga dipandang sebagai sebuah titik balik yang signifikan.
Dalam laporan yang dirilis pekan ini, QCP Capital memprediksi bahwa harga Bitcoin akan tertahan di kisaran US$ 80.000 hingga US$ 90.000 pada kuartal keempat. Perusahaan tersebut mencatat bahwa meskipun landasan struktural kripto tetap kokoh, arus modal saja tidaklah cukup tanpa adanya katalis utama yang kuat.
Dalam laporan yang dirilis Jumat, Galaxy Digital menyatakan kondisi pasar kini tampak sangat berbeda secara fundamental. Terlepas dari kegagalan pengesahan regulasi kripto AS pada September, regulator federal terus melangkah maju dengan rencana memperkuat aktivitas perdagangan melalui pedoman terkait penggunaan jaminan (collateral) dan margin.
Hal ini menunjukkan industri yang lahir dari idealisme disruptif dan sempat lekat dengan praktik spekulasi berlebihan kini semakin terintegrasi dengan institusi keuangan mapan yang dulunya ingin digantikan.
Di tengah dominasi kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang menyita perhatian pasar, masa depan kripto kini tampak berbeda dari bayangan di masa awal kejayaannya: bukan lagi sekadar gerakan perlawanan terhadap Wall Street, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem keuangan tersebut.
"Sebagian besar, pasar yang runtuh pada tanggal 10 Oktober itu sebenarnya sudah tidak ada lagi," tulis Wakil Presiden Riset di Galaxy Digital, Lucas Tcheyan
"Pasar yang menggantikannya baru saja mulai diperhitungkan dalam penilaian harga,” ia menambahkan.