Dugaan Pencurian Kripto Rp 1,53 Triliun, Ledger Minta Pengguna Waspada

Pengelola dompet kripto Ledger meminta CryptoBilis menghentikan penjualan dan pengiriman sementara. Adapun CryptoBilis adalah pengecer resmi Ledger di 3 negara.

Diterbitkan 11 Oktober 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Produsen dompet kripto, Ledger sedangn menyelidiki laporan hilangnya dana dari pengguna di Asia Tenggara yang membeli produk mereka melalui CryptoBilis. Seorang peneliti on-chain memperkirakan nilai pencurian mencapai lebih dari US$ 86 juta atau Rp 1,53 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.900).

Mengutip the Block, Minggu, (11/10/2026), penyebab hilangnya dana itu belum diketahui pasti. Ledger mengatakan telah meminta CryptoBilis untuk menghentikan sementara seluruh penjualan dan pengiriman selama penyelidikan berlangsung. CryptoBilis tercatat sebagai pengecer resmi Ledger di Indonesia, Malaysia dan Filipina.

"Kami menyarankan pengguna Ledger yang membeli dari pengecer ini dalam 90 hari terakhir untuk tidak melakukan pengaturan awal (setup) jika belum melakukannya," demikian pernyataan akun dukungan Ledger dalam sebuah unggahan di X pada Jumat.

"Jika Anda sudah mengatur perangkat Ledger Anda, pertimbangkan untuk memindahkan aset ke perangkat Ledger baru (dengan seed baru). Kami akan terus memberikan informasi terbaru kepada pelanggan seiring berjalannya penyelidikan,” demikian mengutip the Block.

The Block telah menghubungi Ledger untuk meminta komentar lebih lanjut.

Estimasi kerugian belum terkonfirmasi

Peneliti on-chain tanuki42 menyatakan, dana senilai lebih dari US$ 72 juta atau Rp 1,28 triliun telah berpindah ke sejumlah alamat yang diduga terkait dengan pencurian tersebut. Peneliti tersebut meminta pengguna yang terdampak untuk menghubungi kelompok respons keamanan kripto, SEAL 911.

Peneliti lain, Specter, kemudian memperkirakan kerugian mencapai lebih dari US$ 86 juta atau Rp 1,53 triliun setelah melacak dana yang dikirim ke berbagai alamat di jaringan Bitcoin, Ethereum, dan Tron.

 

Angka Belum Terkonfirmasi secara Independen

Awalnya, Specter menyebutkan, dana tersebut berasal dari ratusan dompet milik korban. Namun, peneliti tersebut kemudian mengklarifikasi bahwa jumlah pasti dompet yang terdampak belum diketahui.

Angka-angka tersebut belum terkonfirmasi secara independen. Selain itu, belum jelas apakah kedua estimasi tersebut mencakup transaksi dan alamat yang sama.

Mantan CEO Mt. Gox, Mark Karpeles, mengatakan laporan-laporan tersebut mungkin berkaitan dengan masalah yang sedang ia selidiki. Ia meminta pengguna yang terdampak untuk menghubunginya atau membuka perangkat Ledger mereka dan mengirimkan foto papan sirkuitnya. Karpeles menyatakan bahwa foto-foto tersebut dapat menunjukkan apakah perangkat telah dimanipulasi.

Salah satu pendiri Binance, Changpeng "CZ" Zhao, mengatakan, informasi yang tersedia mengindikasikan adanya serangan rantai pasok (supply chain attack) yang melibatkan satu vendor. Ia menyebutkan bahwa sejumlah kecil pengguna mungkin telah membeli perangkat Ledger palsu atau yang telah dimanipulasi. "Saya berharap dan yakin seluruh pelaku ekosistem BNB (dan seluruh industri) akan membantu melacak serta memulihkan dana tersebut," ujar Zhao.

Ia menambahkan, penyimpanan mandiri (self-custody) membawa tanggung jawab tambahan.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.