Menko Airlangga: Sinyal Ekonomi Indonesia Makin Solid

Ekonomi Indonesia menunjukkan sinyal positif dengan inflasi terkendali, surplus perdagangan dan manufaktur kembali masuk zona ekspansi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 01 Oktober 2026, 20:20 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Istana Negara, Jakarta.(Dok Kemenko Perekonomian)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah indikator ekonomi Indonesia menunjukkan perkembangan positif memasuki kuartal IV 2026. Inflasi tetap berada dalam sasaran, neraca perdagangan kembali mencatat surplus, sementara aktivitas manufaktur kembali masuk zona ekspansi.

Data yang dirilis pada Kamis (1/10/2026) menunjukkan inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan (yoy). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% plus-minus 1%. Inflasi inti juga relatif terjaga di level 2,84% yoy. 

Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026, naik signifikan dari US$ 0,12 miliar pada Juli 2026. Secara kumulatif, surplus perdagangan Januari-Agustus 2026 mencapai US$ 7,25 miliar.

Sementara itu, PMI Manufaktur Indonesia September 2026 meningkat menjadi 52,4, dari 49,8 pada bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut membawa sektor manufaktur kembali ke zona ekspansi sekaligus mencatat perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari 2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai perkembangan ketiga indikator tersebut menunjukkan fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah ketidakpastian global.

"Pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Kamis (1/10/2026). 

Ia mengatakan terjaganya inflasi, kembali ekspansifnya manufaktur, serta tetap tumbuhnya ekspor menjadi bagian penting dari kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Pemerintah, lanjut dia, akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi dan aktivitas industri.

Meski demikian, masih terdapat tantangan yang perlu diperhatikan. Inflasi kelompok Volatile Food atau harga pangan bergejolak tercatat 5,03% yoy pada September 2026. Pemerintah menyebut tekanan tersebut dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.

 

Perbaikan Sektor Manufaktur

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Istana Negara, Jakarta.(Dok Kemenko Perekonomian)

Dari sektor perdagangan, kinerja ekspor nonmigas masih menjadi penopang utama surplus. Sepanjang Januari-Agustus 2026, ekspor besi dan baja mencapai US$ 19,18 miliar, naik 4,88%. Ekspor CPO dan turunannya mencapai US$ 17,75 miliar, sedangkan ekspor batu bara mencapai US$ 16,58 miliar.

Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62%, menunjukkan aktivitas hilirisasi dan industri pengolahan masih memberikan kontribusi terhadap kinerja perdagangan.

Pada saat yang sama, struktur impor menunjukkan aktivitas produksi dan investasi domestik tetap berjalan. Impor bahan baku dan barang penolong mencapai US$ 133,38 miliar, sedangkan impor barang modal sebesar US$ 36,74 miliar. Keduanya menyumbang sekitar 91,3% dari total impor Januari-Agustus 2026.

Kenaikan impor mesin dan peralatan mekanis sebesar 15,26% serta mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 22,94% juga menjadi salah satu indikator meningkatnya kebutuhan produksi dan investasi di dalam negeri.

Sinyal pemulihan semakin terlihat dari sektor manufaktur. Pada September 2026, pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari, sedangkan pesanan ekspor mencatat pertumbuhan tercepat sejak Mei 2022.

Peningkatan produksi juga mulai diikuti pertumbuhan penyerapan tenaga kerja. Pembelian dan persediaan input turut meningkat, sementara tekanan harga input dan output melambat ke level terendah dalam enam bulan.

 

Memastikan Perbaikan

Pemerintah kini berupaya memastikan perbaikan sejumlah indikator tersebut tidak berhenti pada angka makro, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Sejumlah kebijakan disiapkan untuk menjaga daya beli, antara lain penyaluran PKH tahap III, bantuan pangan beras 10 kilogram per bulan pada Oktober-Desember 2026, serta percepatan penyaluran beras SPHP.

Dengan demikian, memasuki kuartal IV 2026, ekonomi Indonesia menghadapi kombinasi antara inflasi yang masih terkendali, surplus perdagangan yang berlanjut, dan manufaktur yang kembali ekspansif. Tantangannya adalah menjaga momentum tersebut sekaligus memastikan tekanan harga pangan tetap terkendali dan pemulihan ekonomi semakin terasa di sektor riil.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya