Sambil Bekerja di Hong Kong, 26 Pekerja Migran Indonesia Berhasil Raih Gelar Sarjana UT

Sebanyak 26 pekerja migran Indonesia meraih gelar sarjana UT di Hong Kong. Mereka menempuh pendidikan di tengah aktivitas bekerja jauh dari Tanah Air.

oleh Gilar RamdhaniDiterbitkan 30 September 2026, 22:40 WIB
Wisuda 26 mahasiswa UT di Gedung BNI 46 Hong Kong, Minggu (20/9/2026).

Liputan6.com, Hong Kong - Menempuh pendidikan tinggi sambil bekerja menjadi tantangan tersendiri bagi pekerja migran Indonesia yang tinggal jauh dari Tanah Air. Keterbatasan waktu, jarak, dan tuntutan pekerjaan harus dijalani bersamaan dengan kewajiban akademik. Kondisi tersebut tidak menghalangi 26 mahasiswa Universitas Terbuka (UT) di Hong Kong menyelesaikan studi hingga meraih gelar sarjana.

Pencapaian itu ditandai melalui wisuda 26 mahasiswa UT yang berlangsung di Gedung BNI 46 Hong Kong pada Minggu, 20 September 2026. Para lulusan berasal dari berbagai program studi di bidang ekonomi, sosial, humaniora, hingga sastra. Sebagian di antaranya menjalani perkuliahan sembari bekerja sebagai pekerja migran di Hong Kong.

Bagi UT, penyelenggaraan wisuda di Hong Kong bukan sekadar memindahkan lokasi seremoni akademik. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan akses pendidikan tinggi sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri untuk merayakan pencapaian akademiknya.

Direktur UT Layanan Luar Negeri (LLN) Dr. Pardamean Daulay, S.Sos., M.Si. mengatakan, mahasiswa yang berada di luar negeri tetap berhak memperoleh kesempatan pendidikan sekaligus merayakan pencapaian akademiknya secara layak.

“Pelaksanaan wisuda UT di Hong Kong merupakan wujud nyata komitmen untuk menghadirkan penghargaan yang setara bagi seluruh mahasiswa, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri,” kata Pardamean dalam laporan pada acara wisuda yang digelar secara hibrida.

Layanan pendidikan UT di luar negeri menjadi salah satu pilihan bagi warga Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan negara tempat mereka bekerja atau tinggal. Data UT mencatat terdapat 857.640 mahasiswa aktif, dengan 7.879 mahasiswa berada dalam layanan UT Luar Negeri. Khusus Hong Kong, jumlah mahasiswa UT tercatat sebanyak 375 orang.

1.850 Lulusan UT Layanan Luar Negeri

Hingga 2026, jumlah lulusan UT Layanan Luar Negeri telah mencapai 1.850 orang. Dengan tambahan 26 lulusan dari Hong Kong, capaian ini menunjukkan bagaimana pendidikan tinggi jarak jauh dapat menjadi ruang bagi warga Indonesia di luar negeri untuk terus belajar di tengah keterbatasan waktu dan jarak.

Bagi pekerja migran, kesempatan tersebut memiliki arti lebih besar karena proses belajar harus berjalan berdampingan dengan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan menyelesaikan studi menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi dapat ditempuh tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau kembali ke Indonesia untuk mengikuti perkuliahan secara konvensional.

Pardamean mengapresiasi ketekunan para mahasiswa yang mampu bertahan hingga menyelesaikan pendidikan.

“Semoga gelar sarjana yang diperoleh menjadi batu loncatan yang kokoh menuju kesuksesan yang lebih besar di masa depan, baik dalam karier profesional maupun kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Senat Akademik UT Apresiasi Para Lulusan

Ketua Senat Akademik UT Prof. Dr. Chanif Nurcholis, M.Si., yang hadir mewakili Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., turut menegaskan bahwa keberhasilan menyelesaikan studi merupakan pencapaian yang patut dihargai.

“Anda yang diwisuda pada hari ini adalah orang hebat, karena tidak semua orang dapat menuntaskan studi,” ujarnya.

Penyelenggaraan layanan pendidikan UT di Hong Kong juga melibatkan sejumlah pihak. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong dan BNI Hong Kong mendukung pelaksanaan kegiatan, termasuk melalui penggunaan Gedung BNI 46 sebagai lokasi wisuda.

Kolaborasi tersebut turut melibatkan IKA UT Wilayah Layanan Luar Negeri, Perhimpunan Mahasiswa Universitas Terbuka (Perma UT), Astama UT Hong Kong, serta pihak-pihak lain yang mendampingi mahasiswa selama menjalani pendidikan.

Bagi 26 mahasiswa tersebut, gelar sarjana menjadi penanda bahwa perjalanan belajar berhasil dituntaskan meski harus membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.

Bagi UT, capaian ini sekaligus menegaskan komitmen untuk terus membuka akses pendidikan tinggi bagi warga Indonesia, termasuk mereka yang sedang mencari penghidupan jauh dari Tanah Air.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya