Kronologi 7 Pria Diduga Perkosa Mahasiswi di Cornell University

Jaksa di Negara Bagian New York kembali penyelidikan kasus dugaan pemerkosaan ini.

oleh SupriatinDiterbitkan 30 September 2026, 18:28 WIB
Jika ia selesai tepat waktu, maka Jeremy Shuler akan menjadi sarjana termuda dari universitas terkemuka tersebut.(Sumber Cornell University via Facebook)

Liputan6.com, Jakarta - Jaksa di Negara Bagian New York membuka kembali penyelidikan kasus dugaan pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi Cornell University pada 2024 bernama Jane Doe. Kasus ini melibatkan tujuh pria.

Jaksa Distrik Tompkins County Matthew Van Houten mengatakan pihaknya sempat menyimpulkan bahwa bukti dari keterangan Jane Doe kepada pihak berwenang belum memenuhi ambang hukum untuk mengajukan dakwaan. Kini, setelah menghubungi Jane Doe dan pengacaranya untuk meminta informasi tambahan, dia bersiap membawa perkara tersebut ke dewan juri.

Dalam sistem hukum AS, dewan juri menilai bukti dan kesaksian untuk memutuskan apakah perkara layak berujung pada dakwaan pidana. Van Houten mengatakan perkara ini akan ditangani melalui dewan juri “dengan cara yang paling objektif dan tidak memihak”.

Namun, Van Houten juga menyoroti perbedaan antara keterangan Jane Doe kepada polisi pada November 2024 dan tuduhan dalam gugatan. Menurutnya, pernyataan di bawah sumpah itu tidak menyebut bahwa Jane Doe dibius tanpa persetujuannya atau diperkosa beramai-ramai.

Sebaliknya, kata Van Houten, keterangan tersebut menggambarkan penggunaan narkoba dan aktivitas seksual sebagai sesuatu yang sukarela, dilakukan dengan sadar, dan atas dasar persetujuan.

Van Houten mengatakan pengacara Jane Doe sebelumnya tidak menghubunginya untuk menyatakan bahwa keterangan awal itu tidak akurat atau meminta keputusan untuk tidak mengajukan dakwaan ditinjau kembali. Dia kemudian mengakui bahwa korban kekerasan seksual mungkin memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menjalani terapi dan memahami sepenuhnya apa yang terjadi.

Pengacara Jane Doe, Thomas Giuffra, mengatakan kliennya mengalami trauma, mati rasa, dan tidak mampu menerima kejadian itu pada hari-hari setelah dugaan penyerangan. Dia mengatakan Jane Doe hanya berbicara dengan petugas yang menerima laporan awalnya. Menurut Giuffra, penyelidikan kejahatan serius semestinya mencakup wawancara lanjutan, pengumpulan bukti, dan pengembangan kasus.

Giuffra juga mengkritik pernyataan jaksa distrik. Sikap yang dia anggap defensif, katanya, membuatnya percaya bahwa pihak jaksa menyadari adanya kegagalan dan berusaha membenarkannya.

Gugatan Jane Doe dan Kronologi Kejadian

Pada 16 September, Jane Doe dalam dokumen pengadilan menggugat Cornell dan mengaku dibius serta diperkosa oleh beberapa orang. Dalam gugatannya, dia menyebut, pada malam 19 Oktober 2024, tujuh anggota cabang Chi Phi menyerangnya.

Jane Doe mengaku berusia 20 tahun saat peristiwa itu terjadi dan masih menjadi mahasiswa sarjana. Dia menyebut terduga pelaku memberinya alkohol dan ketamin, lalu melakukan kekerasan seksual terhadapnya.

Malam itu, setelah minum bersama teman-teman perempuannya, dia meninggalkan mereka dan “berjalan sempoyongan sendirian” ke rumah Chi Phi di Ithaca untuk menemui seorang teman laki-laki.

Jane Doe melaporkan kejadian tersebut kepada Kepolisian Cornell University pada 8 November 2024.

Gugatannya juga menyertakan gambar yang diduga berasal dari obrolan grup Snapchat Chi Phi. Dalam percakapan itu, seorang peserta disebut memberi tahu anggota lain, dengan bahasa vulgar, tentang kemungkinan hubungan seksual dengan Jane Doe.

Sementara itu, CBS News New York menerbitkan kutipan pesan teks yang dilaporkan dikirim antara salah satu pria yang disebut dalam gugatan dan seorang perempuan yang diduga Jane Doe. Pesan itu dikirim dua hari setelah dugaan penyerangan.

Dalam salah satu pesan, pria tersebut tampak meminta maaf atas “bagaimana semuanya terjadi”. Dia mengatakan ingatannya “agak kabur” dan bahwa dia serta seorang pria lain merasa bersalah karena terlalu mabuk untuk menghentikan kejadian dan mengusir orang-orang sebelum situasinya tak terkendali.

Perempuan dalam percakapan itu menjawab bahwa ingatannya juga “sangat kabur” dan bahwa mereka semua sedang mabuk. Dia menulis bahwa “tidak ada satu pun aktivitas seksual yang ilegal” dan bahwa dia senang bersama pria itu dan seorang pria lainnya. Dia juga mengusulkan agar mereka merokok bersama lagi, tetapi tanpa “tambahan lima miliar pria dan ketamin”.

Giuffra mengatakan dia memahami pesan-pesan tersebut telah disampaikan dalam proses Title IX Cornell. Menurutnya, panel mungkin menilai Jane Doe sedang menyangkal kenyataan ketika pesan itu dikirim. Dia juga mengatakan pengusiran salah satu tergugat menunjukkan bahwa universitas menganggap pesan-pesan tersebut signifikan.

Pada November 2024, Cornell mengumumkan penyelidikan atas “dugaan serius dan sangat meresahkan terkait penyalahgunaan narkoba dan kekerasan seksual di rumah persaudaraan Chi Phi”.

Giuffra juga mengatakan dua orang terduga pelaku telah dikeluarkan dari universitas. Sementata pengacara salah satu pria yang disebut dalam gugatan, Jeremy Saland, membantah tuduhan terhadap kliennya.

Dilansir BBC, dia mengakui kliennya membuat komentar kekanak-kanakan di Snapchat, tetapi mengatakan kliennya tidak melakukan hal lain, tidak terlibat dalam aktivitas seksual, tidak menyentuh Jane Doe, dan tidak mengonsumsi ketamin.

Sikap Universitas

Jane Doe menuduh Cornell tidak melindunginya dan tidak menjatuhkan sanksi yang memadai kepada para pria yang terlibat. Dalam gugatannya, dia mengatakan mereka diberi kesempatan untuk meringankan sanksi dengan menyerahkan esai.

Gugatan itu juga menyebut bahwa dia mengalami tekanan emosional dan psikologis berat serta cedera fisik, dan bahwa kabar mengenai kejadian tersebut cepat menyebar di kampus.

Sementara pihak universitas mengatakan telah menangguhkan cabang lokal Chi Phi dan sejumlah mahasiswa, serta membuka penyelidikan internal dan pemeriksaan berdasarkan Title IX—undang-undang federal yang melarang diskriminasi berdasarkan jenis kelamin di lembaga pendidikan penerima dana federal. Cabang Xi dari Chi Phi masih dilarang beroperasi di kampus.

Cornell membantah tidak menyelidiki atau menghukum para terduga pelaku secara memadai. Universitas mengatakan perkara tersebut ditangani oleh panel dosen dan staf terlatih yang menjatuhkan berbagai sanksi, termasuk pengusiran dan skorsing. Cornell menegaskan bahwa tidak ada mahasiswa yang hanya diwajibkan menulis esai sebagai satu-satunya konsekuensi atas keterlibatan mereka.

Picu Kemarahan

Kasus ini memicu kemarahan dan seruan agar Cornell lebih terbuka mengenai proses penanganan kekerasan seksual. Pada 21 September, dewan redaksi surat kabar mahasiswa The Cornell Daily Sun menerbitkan nama-nama para tergugat dalam tulisan berjudul “Cornell Won’t, We Will” dan menyerukan peninjauan independen terhadap proses pelaporan dan penyelesaian perkara.

Sophia Dasser, pemimpin redaksi surat kabar itu, mengatakan kepada BBC bahwa mahasiswa frustrasi karena selama dua tahun terakhir hanya mendapat sedikit informasi tentang perkara ini dan menganggap proses Title IX di Cornell tertutup. Dia mengatakan mahasiswa menginginkan transparansi, terutama karena universitas bertanggung jawab menjaga keselamatan mereka.

Wali Kota Ithaca, tempat Cornell berada, menyerukan moratorium atas izin acara mahasiswa dan acara khusus sampai universitas mengevaluasi protokolnya untuk mencegah dan menindak kekerasan seksual. Cornell mengatakan satuan tugas kekerasan seksual di kampus yang dibentuk pada 2025 telah membuat rekomendasi, sebagian sudah diterapkan dan sebagian lainnya masih dikembangkan.

Laporan survei kampus pada 2025 menyebut 35% mahasiswi sarjana dan 8% mahasiswa sarjana melaporkan pernah mengalami kekerasan seksual selama berkuliah di Cornell. Meski universitas telah lama mengambil langkah untuk menangani masalah tersebut, laporan itu menyebut angkanya tetap tinggi.

Sejumlah tokoh, termasuk aktris Florence Pugh dan anggota Kongres AS Alexandria Ocasio-Cortez, turut angkat bicara terkait kasus ini. Sidang awal gugatan perdata dijadwalkan berlangsung pada 23 Oktober di Manhattan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya