Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak merosot pada perdagangan Selasa, 29 September 2026 (Kamis pagi Jakarta). Tekanan terhadap harga minyak dunia seiring pulihnya ekspor minyak mentah Arab Saudi dari pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah setelah serangan terhadap jalur pipa utama awal bulan ini.
Mengutip CNBC, Rabu (30/9/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional merosot 2,6%. Harga minyak Brent ditutup di US$ 102,59 per barel. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) merosot 3,5% menjadi US$ 89,38.
Advertisement
Citra satelit telah mengonfirmasi adanya "pemulihan operasional besar-besaran" di terminal Yanbu dan Muajjiz, menurut catatan Kpler yang diterbitkan pada Selasa.
Sebanyak 12,5 juta barel minyak dimuat ke dalam sembilan kapal tanker di Yanbu dari Sabtu hingga Senin, menurut data Kpler. Ekspor dari Yanbu sempat terganggu akibat serangan pesawat nirawak (drone) terhadap jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi awal bulan ini, yang memicu kekhawatiran akan ada pukulan besar lainnya terhadap pasokan global.
Namun, Riyadh telah memulihkan aliran minyak melalui jalur pipa tersebut hingga mencapai sekitar 3,5 juta barel per hari, menurut keterangan pihak-pihak yang mengetahui masalah ini kepada The Wall Street Journal dan Bloomberg News pada Senin. Kapasitas maksimum jalur pipa tersebut adalah 7 juta barel per hari.
Sementara itu, para pejabat AS dan Iran berbicara dengan pihak penengah pada Senin dalam upaya kembali merundingkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan tersebut.
Aliran Minyak Melalui Selat Hormuz
Pekan lalu, Iran menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika AS berkomitmen pada ketentuan-ketentuan dalam nota kesepahaman bulan Juni yang sebelumnya gagal terlaksana. Namun, pada Sabtu, Presiden Donald Trump menolak usulan Teheran tersebut seiring pulihnya ekspor minyak melalui Selat Hormuz.
Aliran minyak melalui Selat Hormuz telah mencapai rata-rata tujuh harian sebesar 13,2 juta barel per hari. Angka ini setara dengan 77% dari volume 17 juta barel per hari yang melintasi jalur perairan tersebut sebelum pecahnya perang AS-Iran, menurut data Kpler.
Militer AS memberikan perlindungan bagi kapal-kapal tanker milik sekutu-sekutunya di kawasan Teluk dan tetap memberlakukan blokade terhadap ekspor Iran.