Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mewaspadai tekanan terhadap rupiah akibat penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil aset Amerika Serikat, serta pergeseran arus modal dari negara berkembang ke negara maju. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan fenomena higher for longer berpotensi menekan aliran modal ke emerging market, termasuk Indonesia.
Tekanan rupiah juga meningkat akibat kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$ 125,53 per barel pada 24 September 2026. Kondisi ini berisiko meningkatkan inflasi dan menekan neraca eksternal Indonesia.
Advertisement
Untuk mengurangi tekanan tersebut, BI memperluas kerja sama transaksi Local Currency Transaction dengan negara mitra serta meningkatkan likuiditas mata uang lokal seperti yuan dan yen.
Artikel mengenai rupiah ini menjadi salah satu artikel yang banyak dibaca. Selain itu masih ada sejumlah artikel lain yang layak untuk disimak.
Lengkapnya, berikut ini tiga artikel terpopuler di kanal bisnis Liputan6.com pada Selasa (29/9/2026):
1. Rupiah Melemah Lagi, Gubernur BI Beberkan Penyebabnya
Bank Indonesia mewaspadai potensi tekanan terhadap rupiah akibat menguatnya dolar Amerika Serikat, melonjaknya imbal hasil aset AS, serta bergesernya arus modal dari negara berkembang menuju negara maju.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti menyampaikan bahwa kondisi global yang diwarnai ketatnya kebijakan moneter dan fenomena higher for longer berpotensi menekan stabilitas nilai tukar rupiah. Kondisi ini juga dapat memengaruhi neraca pembayaran Indonesia seiring pergerakan aliran modal global.
Simak artikel selengkapnya di sini
2. Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Trump Tolak Tawaran Damai Iran
Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan kawasan Asia, Senin (28/9/2026), usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak usulan damai dari Iran. Proposal tersebut sejatinya diajukan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.
Minyak mentah berjangka AS jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 1,87% ke level US$ 94,14 per barel. Sementara itu, minyak mentah patokan internasional jenis Brent menguat 2,89% hingga menyentuh US$ 107,34 per barel.
Simak artikel selengkapnya di sini
3. Danantara Masuk Proyek LRT Jakarta, APBD DKI Bisa Lebih Lega
Rencana keterlibatan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam pendanaan perpanjangan rute LRT Jakarta dinilai dapat menjadi alternatif pembiayaan sekaligus menjaga ruang fiskal daerah.
Pakar transportasi sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengatakan pembangunan infrastruktur yang sepenuhnya mengandalkan APBD akan memberikan tekanan terhadap keuangan daerah.
"Pembangunan infrastruktur berbasis APBD murni jelas sangat menguras ruang fiskal daerah," kata Djoko Setijowarno.