Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan para pemimpin untuk selalu terbuka pada masukan dan mengandalkan kajian sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, sikap merasa paling benar justru menjadi penghambat utama dalam merumuskan kebijakan yang tepat sekaligus berisiko memicu kesalahan eksekusi di lapangan.
Luhut menegaskan, setiap persoalan selalu memiliki jalan keluar apabila seorang pemimpin bersedia membuka diri terhadap masukan dan memberi ruang bagi tim ahli untuk mengkaji masalah secara mendalam.
Advertisement
"Pemimpin harus mau dengar. Kalau pemimpin tidak mau dengar, ya repot. Atau pemimpin merasa dia yang paling benar. Karena kita manusia pasti ada kekurangan, pasti ada angle-angle yang tidak kita lihat," kata Luhut dalam pembukaan Galeri Jejak Langkah Luhut Binsar Pandjaitan di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Ia menambahkan, pemerintah idealnya menjalankan kebijakan secara bertahap melalui simulasi atau proyek percontohan (piloting). Dengan begitu, kendala di lapangan dapat teridentifikasi lebih awal sebelum program diterapkan secara masif.
Sebagai contoh, Luhut menyinggung pengembangan Government Technology (GovTech) yang diawali dengan piloting di Banyuwangi demi memetakan persoalan penyaluran bantuan sosial.
"Dari situ kita baru paham betul masalahnya. Ternyata, lebih dari 77% bantuan pemerintah itu off-target atau tidak tepat sasaran, sehingga tidak efisien. Sekarang sedang kita perbaiki," ungkapnya.
Menurut Luhut, pengujian program secara bertahap sangat penting karena eksekusi kebijakan berskala besar berisiko tinggi jika pemerintah memaksakan diri tanpa memahami dinamika riil di masyarakat.
Atas dasar itu, DEN menerapkan pendekatan berbasis data melalui kajian di sekitar 800 titik lokasi untuk merumuskan solusi atas berbagai hambatan pelaksanaan program pemerintah. Apa pun masalahnya, menurut saya pasti ada solusinya. Asal kita mau mendengar,” tutur Luhut.
Minta Pemimpin Pelihara Optimisme
Selain menekankan pentingnya riset, Luhut mengimbau para pemimpin untuk memelihara optimisme tanpa mengabaikan evaluasi objektif. Menurutnya, optimisme harus ditopang oleh kerja-kerja teknis yang detail agar kebijakan tidak cuma berlandaskan keyakinan buta.
"Optimislah, tetapi lakukan juga kajian secara bertahap, bertingkat, dan berlanjut. Dengan begitu, kita bisa mengurangi potensi kesalahan di sana-sini," jelasnya.
Prinsip ini, lanjut Luhut, berlaku universal dalam kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin wajib memberi teladan, menjaga kepercayaan, serta tidak mengkhianati amanah yang telah dipercayakan kepadanya.
"Dalam memimpin, saya harus memberikan teladan. Itu hal yang sangat krusial dalam seluruh aspek kehidupan," tegas Luhut.