Nvidia Rencana Investasi Rp 80 Triliun di Batam, Ini Fokus Proyeknya

Nvidia melirik Batam untuk investasi US$ 4,5 miliar di sektor pusat data seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 26 September 2026, 11:00 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI). (Dok Kemenko Perekonomian)

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Nvidia, berencana menanamkan investasi sekitar US$ 4,5 miliar atau sekitar Rp 80,613 triliun (estimasi kurs Rp 17.914 per dolar AS) di Batam, Kepulauan Riau. Investasi tersebut diarahkan untuk pengembangan infrastruktur pusat data dan national computing yang menopang kebutuhan kecerdasan buatan (AI).

"Kita mendorong national computing data centre yang terus didorong, termasuk Nvidia melirik ke Batam, rencana investasi US$4,5 miliar," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip Sabtu (26/9/2026).

Menurut Airlangga, kebutuhan pusat data di Indonesia terus meningkat seiring meluasnya penggunaan AI. Batam menjadi salah satu wilayah yang dipersiapkan pemerintah untuk pengembangan infrastruktur tersebut, termasuk melalui kawasan ekonomi khusus (KEK).

Indonesia dinilai memiliki sejumlah modal untuk mengembangkan bisnis pusat data, mulai dari ketersediaan lahan, listrik, energi hijau hingga air. Faktor tersebut menjadi penting karena pusat data AI membutuhkan kapasitas komputasi dan sistem pendingin yang besar.

Airlangga menyebut kapasitas data center Indonesia saat ini sekitar 800 megawatt dan berpotensi meningkat menjadi sekitar 1,3 gigawatt dari berbagai proyek yang masuk dalam pipeline.

 

Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah tidak hanya melihat investasi pusat data sebagai upaya menarik modal asing. Penguatan kapasitas komputasi juga diarahkan untuk membangun kedaulatan teknologi AI Indonesia.

Airlangga mengatakan pemerintah mendorong pemanfaatan AI berbasis open source dengan basis data yang berada di Indonesia.

"Beberapa minggu lalu RI jadi founding member WAICO dan tanda tangan bersama di China. Dalam waktu dekat kami ke DPR untuk ratifikasi. Kita mendorong sovereignty dalam AI dan dorong AI menggunakan open source yang basis datanya di RI," kata Airlangga.

Dengan infrastruktur pusat data yang semakin kuat, pemerintah berharap AI dapat dimanfaatkan di berbagai sektor, seperti manufaktur, logistik, kesehatan, pemerintahan hingga pertambangan.

Airlangga juga menyebut potensi ekonomi digital Indonesia saat ini sekitar US$ 180 miliar dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar US$ 400 miliar pada 2030.

Menurut pemerintah, pengembangan AI dan infrastruktur digital dapat menjadi salah satu pengungkit pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya