Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, melihat peluang positif dari langkah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di level 5,75%. Kebijakan ini dinilai memberi angin segar bagi pertumbuhan dunia usaha di tengah dinamika ekonomi global.
Anindya menilai keputusan ini memberikan ruang gerak bagi para pengusaha untuk terus berkembang, terutama di tengah tren kenaikan suku bunga acuan The Fed.
Advertisement
"Ya saya rasa di dalam era dunia ini, kita lihat ya di Federal Reserve, yield-nya naik bertahap. Itu menandakan bahwa memang dunia ini kepercayaan lagi rendah. Nah, untuk mempertahankan BI Rate menurut saya akan membantu sekali dunia usaha untuk terus berkembang," kata Anindya di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Anindya menambahkan, ekspansi dunia usaha sangat bergantung pada keterjangkauan pendanaan yang berkaitan langsung dengan suku bunga acuan BI.
"Karena bagaimanapun juga untuk berkembang kan membutuhkan satu, ya pendanaan. Nah, apabila pendanaannya itu BI Rate-nya tetap sama, tentu lebih bisa membantu untuk pergerakan perekonomian," jelas dia.
"Kedua, tentunya kalau dari sisi saham, artinya juga secara gak langsung discount rate-nya tidak apa menambah dengan adanya interest rate yang naik. Jadi saya rasa itu suatu apa kebijakan yang baik pada saat ini," imbuh dia.
Jaga Stabilitas dan Ruang Penguatan Ekonomi
Sebelumnya, Bank Indonesia memandang tingkat suku bunga acuan sebesar 5,75% masih memadai untuk meredam gejolak. Kebijakan ini dirancang guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memberi ruang penguatan bagi ekonomi domestik.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa BI tidak hanya bergantung pada suku bunga acuan dalam merespons ketidakpastian global, melainkan mengoptimalkan bauran kebijakan.
"Kalau saat ini kita masih menganggapnya cukup," kata Destry dalam konferensi pers RDG BI di Kantor BI, Rabu (23/9/2026).
Destry menegaskan, pengawalan nilai tukar dilakukan secara antisipatif melalui berbagai instrumen, salah satunya penguatan insentif atau diskon biaya lindung nilai (hedging) demi menahan tekanan eksternal dan menjaga arus modal asing.
"Stabilitas kita bukan hanya dengan pre-emptive dari tadi BI Rate itu tapi juga terus penguatan di kebijakan yang terkait dengan insentif biaya hedging," ujar Destry.
Rawat Momentum Pertumbuhan Dalam Negeri
Di samping menjaga stabilitas, BI turut mencermati geliat ekonomi dalam negeri yang terus menunjukkan tren positif. Arah kebijakan pun diarahkan agar momentum pemulihan ini tetap terjaga.
"Di satu sisi juga kita ingin mendorong pertumbuhan ekonomi karena momentumnya lagi ada nih. Jadi ekonominya lagi mulai bergerak terus bergerak," tutur Destry.
Untuk mendukung akselerasi tersebut, BI mengombinasikan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, hingga penguatan sektor UMKM dan ekonomi daerah.
Rangkaian instrumen inilah yang menjadi jurus bauran kebijakan BI dalam merespons ketidakpastian global sekaligus merawat pertumbuhan ekonomi nasional. "Jadi itu kita keroyokin makanya namanya adalah bauran kebijakan Bank Indonesia dalam mengatasi kondisi yang saat ini terjadi," kata Destry.
Destry menekankan, kendati stabilitas tetap menjadi prioritas utama, BI terus membuka celah agar roda perekonomian dapat bergerak lebih cepat.
"Ketidakpastian global di satu sisi, di sisi lain untuk domestik kita masih perlu untuk setelah instabilitas tentunya menjadi fokus kami saat ini. Tapi juga kita harus bisa membuka ruang untuk ekonomi itu masih bisa bergerak lebih maju lagi," pungkas Destry.