Dua Tahun Dihantam PHK, Sektor Padat Karya Kembali Bangkit

Sempat tertekan gelombang PHK, industri padat karya kembali bangkit. Subsektor furnitur hingga tekstil catat pertumbuhan positif.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 23 September 2026, 13:50 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta. (Dok Kemenperin)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut industri padat karya mulai bangkit setelah sempat tertekan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Pada triwulan II 2026, subsektor furnitur tumbuh pesat 11,8%, disusul alas kaki dan kulit 11,3%, makanan dan minuman 6,5%, serta tekstil dan pakaian jadi sebesar 6,4%.

Gairah ini mendorong penguatan industri pengolahan nonmigas yang tumbuh 5,32% pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%. Agus menegaskan, kebangkitan industri padat karya berdampak langsung pada penyerapan lapangan kerja, mengingat sektor pengolahan telah menampung 19,99 juta pekerja per Februari 2026.

"Ini industri padat karya, sektor yang dua tahun lalu banyak diberitakan sedang melakukan PHK. Hari ini sektor-sektor itu bangkit kembali," kata Agus di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Agus menjelaskan, pertumbuhan di sektor padat karya memiliki dampak jauh lebih besar terhadap pembukaan lapangan kerja dibanding sektor lain

"Pertumbuhan satu persen di industri padat karya menyerap jauh lebih banyak tenaga kerja dibandingkan pertumbuhan yang sama di industri padat modal," ujar Agus.

Kembali menjadi lokomotif ekonomi, industri pengolahan nonmigas menyumbang Rp 1.102,88 triliun terhadap PDB nasional pada triwulan II 2026. Sektor ini juga menjadi tulang punggung ekspor dengan menyumbang 82,18% dari total ekspor nasional periode Januari–Juli 2026 senilai US$ 137,26 miliar, serta menyerap 38,98% realisasi investasi triwulan II 2026 sebesar Rp 199,48 triliun.

Indonesia Peringkat 12 Dunia

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: Kementerian Perindustrian)

Di kancah global, Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus menjadi negara dengan Manufacturing Value Added (MVA) terbesar di Asia Tenggara pada 2025. Nilai MVA Indonesia hampir dua kali lipat MVA Thailand (US$ 137 miliar ) dan Vietnam (US$ 126 miliar).

Selain itu, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB Indonesia terus menanjak, dari 18,34% pada 2022 menjadi 19,07% pada 2025. Angka ini jauh di atas rata-rata kontribusi industri pengolahan dunia yang berada di kisaran 14,9%.

Secara keseluruhan, 14 dari 15 subsektor industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan positif. Meski demikian, industri karet dan plastik masih menjadi titik rawan karena mengalami kontraksi 6,98% akibat sensitivitas harga minyak bumi dan serbuan produk impor murah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya